Langsung ke konten utama

Terpapar Covid-19, Isoman, dan Serbuan Paket di Pagar Rumah

Sebulan lalu saya terpapar Covid-19. Tes antigen pada 26 Juli 2021 mengawali pengalaman dan perjuangan penting menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.
Paket dan hantaran di pagar rumah selama isoman (dok. pribadi).

Berbagai kejadian pun saya alami selama isoman. Salah satu yang paling berkesan ialah ketika menjumpai banyak kantung plastik dan paket kiriman di pagar rumah. Hampir setiap hari saya mengambil paket dan bungkusan berisi makanan, minuman, buah-buahan, dan lain sebagainya.

Susu dan Pisang dari Tetangga
Suatu malam ketika sudah mulai beristirahat, saya ditelpon tetangga yang baru saja meletakkan hantaran di atas pagar. Ia meminta saya untuk segera mengambilnya karena hari sudah gelap. Khawatir hantaran itu akan basah jika terkena hujan atau hilang diambil orang.

Saya pun segera menuju teras dan mendapati satu kantung plastik besar di atas pagar. Isinya empat kotak susu dan beberapa botol minuman vitamin C.

Keesokan paginya terdengar suara orang memanggil dan mengetuk pagar garasi di samping rumah. Suaranya terdengar samar karena saya masih di dalam kamar. Saat melangkah ke garasi, saya mendapati dua sisir pisang tergantung di sana.

Sebagian pisang itu kemudian saya rebus untuk membangkitkan kembali nafsu makan. Tiga sampai 4 hari pertama saya kehilangan selera makan. Lidah seolah tidak enak mengecap. Gangguan lambung menambah masalah. Kebetulan saya suka pisang. Buah ini mungkin bisa menjadi pancingan untuk menormalkan nafsu makan saya.

Positif Covid-19 (dok. pribadi).

Di hari yang berbeda, masih pada awal-awal isolasi mandiri, seseorang datang menghantarkan sebuah bungkusan. Diletakkan olehnya bungkusan itu di pagar depan.

Saya yang terkejut karena tidak sedang belanja atau memesan apapun diberi tahu bahwa hantaran itu gratis dari pemilik toko dekat tempat tinggal. Isinya buah lemon, jagung, dan beberapa sayuran segar. Teh lemon atau sari lemon hangat akan sangat berguna untuk mencukupi kebutuhan vitamin guna mendongkrak imunitas saya.

Pengirim Misterius
Boleh dibilang hampir setiap hari ada sesuatu yang tergantung di pagar rumah. Baik di depan pintu teras maupun garasi. Uniknya, saya sempat dibuat bingung oleh beberapa pengirimnya yang misterius.

Suatu ketika saya terbangun dari tidur siang yang nyenyak karena menerima pesan whatsapp yang berbunyi, “Assalamualaikum Wr. Wb. Saya Dwipa dari sangPENOLONG Indonesia. Saya sangPENOLONG yang bakal tangani orderan kakak”.

Membacanya saya langsung penasaran, heran, sekaligus tidak tenang. Penasaran karena saya tidak mengenal orang yang namanya Dwipa. Heran karena saya merasa tidak memesan layanan apapun untuk datang ke rumah.

Saya  sempat merasa tidak tenang karena ia menyebut dirinya “sangPENOLONG”. Seolah-olah saya sedang membutuhkan pertolongan darurat. Apakah ia petugas medis rumah sakit, tim SAR atau pemadam kebakaran? Untuk apa “sangPENOLONG” menanyakan alamat?

Setelah menanyakan keperluannya, saya diberi tahu bahwa ia merupakan kurir toko tempat adik saya memesan suplemen. Agar lebih yakin, saya mengkonfirmasi ke adik saya. Ternyata benar ia memesan sesuatu untuk saya.

Belanja hand sanitizer, pasta dan sikat gigi lewat Shopee (dok. pribadi).

Selain “sang PENOLONG”, ada satu lagi pengirim misterius yang 3 hari berturut-turut meletakkan roti bolu,  keripik pisang, buah salak, dan nasi kebuli di teras.

Ia datang setiap sore menjelang maghrib. Awalnya saya terkejut saat ia membuka pintu pagar di depan teras. Saya memang tidak mengunci pintu pagar menuju teras agar tidak terjadi halangan jika ada situasi darurat atau kebutuhan mendesak.

Walau demikian saya menempelkan 3 lembar kertas berisi pemberitahuan isoman dan petunjuk agar semua paket, belanja atau hantaran cukup diletakkan di atas pagar. Saya tidak ingin ada orang dari luar melewati pagar, apalagi sampai menjejak teras. Bukan sombong, tapi demi kebaikan dan keselamatan bersama. Sebab sebagai orang yang positif Covid-19 sangat mungkin saya meninggalkan kontaminan di beberapa bagian rumah.

Oleh karena itu, saya was-was ketika mengetahui orang tak dikenal melangkah menuju teras dan meletakkan sesuatu di sana. Akan tetapi akhirnya ia tak lagi menjadi misterius. Ketika suatu sore ia kembali datang dan membuka pintu pagar, saya bisa menebaknya meski wajahnya tertutup masker.

Kurir Paket yang Berdedikasi
Kejadian seseorang membuka pintu pagar dan melangkah sampai ke teras juga melibatkan seorang kurir pengantar paket. Selama isoman saya memang memutuskan untuk membeli beberapa kebutuhan secara daring lewat aplikasi e-commerce di smartphone.

Kebetulan saya menemukan beberapa penawaran terbaik di Shopee. Bukan hanya murah, tapi produknya juga sesuai dengan yang sedang saya butuhkan untuk menjalani isolasi mandiri. Selain itu ada official store di Shopee yang memungkinkan saya mendapatkan produk dari gudang Semarang. Itu lokasi terdekat yang hanya membutuhkan waktu 1 hari untuk pengiriman ke alamat saya.

Semua faktor di atas memudahkan saya memenuhi kebutuhan. Beberapa yang beli secara daring saat isolasi mandiri ialah oxymeter, masker, hand sanitizer, pasta gigi, disinfectant, obat batuk, lap kain, dan sebagainya.

Suatu ketika seorang kurir datang menjelang tengah hari. Awalnya dari luar pagar ia memberi tahu ada paket untuk saya. Oleh karena sedang beristirahat saya putuskan untuk tidak menemuinya. Saya berpikir bahwa tulisan yang tertempel di pagar akan dimengerti oleh siapapun yang membacanya.

Paket belanja dari Shopee (dok. pribadi).

Menurut saya kurir paket tersebut memiliki dedikasi yang baik. Demi memastikan paket diterima dengan baik, ia memberi tahu saya bahwa paket sudah tiba dan ada di atas pagar. Tentu harapannya saya bisa segera mengambilnya.

Walau demikian ternyata ia memilih untuk membuka pintu pagar dan meletakkan paket di teras. Barangkali ia berpikir bahwa akan lebih aman jika paket itu diletakkan di teras daripada diletakkan di atas pagar karena bisa memancing tangan-tangan nakal untuk mengambilnya.

Mengetahui hal itu saya bergegas keluar. Sambil menjaga jarak, saya memberi tahu beliau agar paket-paket berikutnya cukup diletakkan di atas pagar. Ia pun memahami.

Pada hari-hari berikutnya paket-paket dari belanja daring selalu diletakkan dengan baik di atas pagar rumah. Tentu saja sang kurir selalu lebih dulu memberi tahu dengan seruan khasnya. “Permisi, pakeeeet..”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi