Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Kisah Mbah Pardiyem, 40 Tahun Menjajakan Pecel Ndeso dan Cabuk Rambak di Solo

Di usianya yang sudah menyentuh 70 tahun, ia masih tetap setia menekuni harinya berkeliling Kota Solo. Menjajakan makanan tradisional jadi pilihan hidupnya.
Namanya Pardiyem. Saya bertemu dengannya di Car Free Day yang diselenggarakan di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo pada Minggu (17/12/2017) pagi, tepatnya di depan Yamaha Music School. Sambil duduk di atas tikar mbah Pardiyem sabar menunggu pembeli. Hatinya ia berharap dari ribuan orang yang berlalu lalang di CFD pagi itu ada beberapa yang mampir membeli pecel ndeso, cabuk rambak, atau nasi liwet. Ketiga makanan tradisional khas Solo itulah yang dijual oleh Mbah Pardiyem.
Sudah 40 tahun Mbah Pardiyem berjualan pecel ndeso, cabuk rambak, dan nasi liwet. Biasanya ia mulai berjualan pukul 06.00. Tapi ia sudah bangun pada pukul 01.00 untuk menyiapkan dan memasak bahan-bahan yang dibutuhkan. Semuanya dilakukannya sendiri.
Dari rumahnya di daerah Kwarasan Mba Pardiyem berjalan kaki membawa beberapa wadah berisi aneka bahan untuk meracik pecel…

Terpikat Eloknya Budaya di "Kaki Langit" Mangunan

Minggu (18/6/2017) siang itu Leni dan Miyanto keluar dari dalam rumahnya yang sederhana. Di teras rumah, pasangan suami istri tersebut lalu bersimpuh di hadapan kedua orang tua mereka. Sesaat kemudian, diiringi orang tua dan sejumlah orang, Leni dan Miyanto berjalan kaki menuju Sendang Mangunan.
Begitulah cuplikan pelaksanaan upacara mitoni di Desa Wisata Adat Kaki Langit, Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya berjarak sekitar 35 km dari pusat Kota Yogyakarta. Masih jarang angkutan umum yang melayani rute ke sana, sehingga pilihan terbaik saat ini untuk menuju Mangunan adalah menggunakan kendaraan pribadi atau memanfaatkan jasa penyewaan sepeda motor dan mobil yang banyak ditemui di Yogyakarta.
Memikat Lewat Budaya dan Tradisi Mangunan memiliki ragam budaya dan kearifan lokal yang menarik. Masyarakatnya yang ramah masih menjalankan berbagai tradisi secara turun temurun. Nuansa-nuansa itulah yang membuat Mangunan menjadi desa wisata adat yang …

Menjelajah Malang pada Akhir Tahun

Sentuh silang antara daerah wisata dan pusat pendidikan membuat Malang memilik banyak tempat istimewa dan destinasi menarik. Pembauran antara budaya dan kreativitas anak muda juga bisa dijumpai di sana. Dengan kata lain Malang adalah mozaik dari beragam pengalaman wisata dan rekreasi.
Menjelang akhir tahun 2016 lalu saya menghabiskan dua hari di Malang, tepatnya pada 17-18 Desember. Selama dua hari itu, hari pertama terasa sangat istimewa karena menjadi inti penjelajahan saya di Malang. Sejak pagi hingga sore saya berjalan kaki menyusuri Malang, melangkah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sesekali beristirahat di beberapa tempat. Rasanya asyik menikmati Malang sambil meninggalkan jejak-jejak kaki. Melelahkan memang, tapi puas karena itulah yang saya inginkan. *** Stasiun Malang Kota Baru menjadi pintu masuk saya. Sabtu, 17 Desember 2016, sekitar pukul 04.00 kereta api Malioboro Ekspres yang membawa saya dari Yogyakarta tiba di Malang. Hari masih gelap dan hawa dingin m…