Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label covid19

Masker Dilonggarkan Bukan Berarti Kita Boleh "Ugal-ugalan"

 “Kemampuan virus untuk beradaptasi dan mengelabui sistem imun manusia cenderung lebih unggul dibanding kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan ancaman virus” dok.pribadi. Indonesia kembali memperbarui ketentuan penerapan protokol kesehatan seiring melunaknya pandemi Covid-19. Terbaru, Presiden Jokowi pada Selasa (17/5/2022) mengumumkan bahwa penggunaan masker di area terbuka atau luar ruangan sifatnya hanya opsional. Artinya masyarakat boleh tidak menggunakan masker di ruang-ruang terbuka. Ini kabar yang melegakan. Sebab pelonggaran mengindikasikan bahwa ancaman virus Covid-19 semakin dapat diredam dan dikendalikan. Walau demikian, pelonggaran penggunaan masker di area terbuka seperti yang diumumkan oleh presiden sebenarnya bukan hal yang luar biasa. Sebab jauh sebelumnya kewajiban penggunaan masker sudah banyak dilanggar. Tanpa pengumuman pelonggaran kewajiban masker, sejak lama banyak orang sudah abai untuk menggunakannya. Terutama semenjak gelombang Omicron melandai. Bahkan,...

Manusia-manusia Kuat, Itu Rachel Vennya

  Selebgram Rachel Vennya (dok.pribadi). Mari bayangkan di sebuah kelas. Guru bertanya kepara para muridnya. “Anak-anak, siapa yang ingin mejadi pilot?”. Tak ada yang menjawab. Tiada pula yang angkat tangan. Beberapa murid hanya saling menoleh. Tentu mereka tahu siapa dan seperti apa pilot itu. Penerbang pesawat yang mampu menembus awan dan melintasi benua. Namun, sekarang agaknya pilot semakin kurang populer dan kalah keren. Kalau urusan menantang, ada profesi lain yang lebih menantang. “Siapa yang mau jadi dokter?” , sang guru mengganti pertanyaan. Kali ini banyak murid yang saling menoleh. Pertanda antusias. Namun, sang guru kembali melihat hal yang sama. Tak ada yang angkat tangan. Tidak ada satu pun muridnya yang menjawab. Bahkan, si juara kelas pun bungkam. Apakah mereka tidak tahu kehebatan dokter? Tentu saja paham. Salah satu pekerjaan paling mulia karena menjadi kepanjangan Tuhan dalam menyembuhkan orang sakit dan menyelamatkan nyawa. Namun, semenjak pandemi Covid-19 profe...

Batal Belanja karena Penjual Tak Percaya Corona

Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama hampir 2 tahun. Banyak korban serta kerugian telah ditimbulkan dan mungkin akan terus bertambah seiring waktu. Namun, anggapan keliru tentang virus Corona masih diyakini oleh sebagian masyarakat. Banyak orang tetap tidak percaya dan menganggap Covid-19 hanya omong kosong yang dibesar-besarkan. foto: Antaranews.com Sabtu dua pekan lalu sesuatu yang memprihatinkan saya alami. Di depan mata kepala saya seorang penjual buah memperlihatkan reaksi yang  keliru ketika sebuah mobil BPBD dan ambulance melintas di depan tempatnya berjualan.   Kios buahnya ada di pinggir jalan. Pagi itu sekitar pukul 08.00 saya mampir ke tempatnya berjualan untuk mencari pisang emas. Selain saya ada 2 orang pembeli lain yang kebetulan juga sedang memilih pisang. Sang penjual sendiri belum terlihat. Kemungkinan ia masih berada di dalam. Saya tak terlalu memikirkannya. Biarlah nanti kalau sudah menemukan pisang yang saya butuhkan, baru saya memanggil sang penjual u...

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal...

Diari Isoman 3: Diberi Steroid, padahal Gejala Ringan

Pasien Covid-19 yang bergejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri untuk membatasi penularan dan melakukan penyembuhan. Selama isolasi konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menghindari pasien Covid-19 mengkonsumsi obat secara jor-joran. Selama menjalani isolasi mandiri, saya mendapat paket obat gratis dari puskemas sebanyak 3 kali. Seorang bidan ditugasi oleh puskesmas untuk mengantarkannya. Seperti paket hantaran lainnya, obatan-obatan itu pun diletakkan di atas pagar. Dexamethasone (dok. pribadi).       Bidan pula yang memantau perkembangan kesehatan saya. Komunikasi kami dilakukan lewat whatsapp. Dari pemantauan itulah obatan-obatan untuk saya ditentukan. Misalnya, pada hari-hari pertama saya merasa meriang dan pegal-pegal. Saya pun mendapatkan parasetamol 500 mg, multivitamin dan vitamin C 50 mg. Multivitamin saya minum sekali dalam sehari. Sedangkan parasetamol saya minum hanya saat merasa meriang. Untuk kebutuhan vitamin C saya putuskan mengkonsumsi vita...

Diari Isoman 2: Malam Pertama Bersama Corona, "Tentara Semut" Menyerang Tenggorokan

Setelah tes swab antigen pada 26/7/2021 dan hasilnya dikirimkan ke perwakilan puskesmas, saya diberi tahu bahwa obatan-obatan untuk isoman akan dihantarkan esok harinya. Belum tahu obat apa yang hendak saya terima nanti. Namun, saya sudah memberi tahu gejala yang saya rasakan. Isolasi mandiri (dok. pribadi). Dengan bekal parasetamol 500 mg dan termometer saya memulai malam pertama bersama virus Corona. Saya beranjak tidur pukul 21.00. Sebelum itu saya membuat wedang jahe dan sereh lebih dulu. Ini bukan hal baru bagi saya. Semenjak kecil ibu sudah memperkenalkan saya dengan minuman jamu. Maka saya sudah terbiasa meminum ramuan tradisional seperti wedang jahe, wedang uwuh, wedang secang dan sejenisnya. Saya merasa minuman seperti wedang jahe dan sereh akan berguna untuk menyertai perang melawan Corona. Meski belum ada bukti ilmiah yang gamblang menerangkan khasiat ramuan tradisional ini untuk melawan Covid-19, paling tidak manfaat minuman tersebut sudah sering saya rasakan mampu membuat ...

Diari Isoman 1: Diendorse Covid-19

Senin, 26 Juli 2021. Saya bangun dengan merasakan sakit pada tenggorokan. Rasa sakitnya tidak biasa. Bukan seperti orang yang kehausan layaknya orang yang baru bangun tidur. Oleh karena punya riwayat kontak erat dengan orang positif Corona beberapa hari terakhir saya berpikir mungkin sekarang “tiba giliran saya”. Memulai isolasi mandiri (dok. pribadi). Sakit tenggorokan itu sebenarnya sudah hilang menjelang siang. Namun, gejala lain segera menggantikan. Badan mulai meriang. Merasa demam meski suhunya tidak lebih dari 37 derajat. Tungkai, terutama lutut terasa pegal dan tidak nyaman untuk digerakkan. Seperti baru melakukan lari jauh atau bersepeda kencang, tapi tidak berkeringat. Hanya lutut dan kaki serasa kelelahan. Keyakinan saya pun semakin kuat bahwa virus Corona telah berhasil menjebol pertahanan tubuh.  Peperangan awal antara antibodi vaksin Sinovac dengan virus mungkin sedang dimulai. Hal pertama yang saya pikirkan ialah melakukan tes secepatnya, entah swab antigen atau swab...

Sinetron "Ikatan Cinta" Bisa Membantu Indonesia Mengatasi Pandemi Corona

Masih rendahnya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan dan kurangnya edukasi yang efektif seputar bahaya Covid-19, sinetron bisa menjadi media untuk membangkitkan kesadaran publik. Memasukkan pesan dan edukasi lewat sinetron yang banyak ditonton masyarakat layak dicoba sebagai terobosan untuk memerangi pandemi. foto: instagram @ikatancinta.mncp Salah satunya lewat sinetron “Ikatan Cinta” yang tayang di salah satu stasiun TV swasta. Sinetron ini semakin memperlihatkan kekuatan dan pengaruhnya yang besar dalam merebut hati masyarakat. Sejak tayang perdana pada Oktober 2020, jumlah penggemar dan penontonnya terus meroket. Mungkin jika sekarang dibentuk Partai Ikatan Cinta, jumlah kadernya akan langsung melambung dan mengalahkan partai anak muda PSI. Fanatisme penggemar Ikatan Cinta menyerupai suporter sepakbola yang rela melakukan apa saja demi tim keseyangan. Penonton Ikatan Cinta pun rela menggelar syukuran untuk setiap babak penting dalam kisah cinta Andin dan Aldebaran. Suda...

"Vaksin Corona Gratis" vs "Aman Semu"

Di tengah rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk mematuhi protokol kesehatan, ekspektasi terhadap vaksin Covid-19 harus dikendalikan. Komunikasi dan sosialisasi disertai glorifikasi berlebihan akan menimbulkan rasa “aman semu”. Kondisi demikian bisa memperburuk pandemi di Indonesia yang belum terkendali. (dok. hendra wardhana) Vaksin gratis untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali seperti yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (16/8/2020) patut disyukuri. Mengingat sebelumnya pemerintah berencana hanya akan menyuntikkan vaksin gratis kepada sebagian kecil penduduk. Sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia yang ingin divaksin harus membayar sendiri. Memastikan semua rakyat mendapatkan vaksin di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan adalah bentuk pemenuhan tanggung jawab negara terhadap amanat UUD 1945 yang menjamin setiap warga berhak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya. Menggratiskan vaksin juga bisa mengikis keengganan masyarakat untuk divaksin meng...

Berkat Habib, Aparat Kita Jadi Aktif, Ya Bun...

Seminggu terakhir kita disuguhi parade penegakan hukum yang jarang terjadi di Indonesia. Dari lurah sampai gubernur diperiksa polisi secara maraton selama berjam-jam. Dua kapolda kehilangan jabatan dan jajaran di bawahnya terkena perombakan. Sejumlah pejabat ikut terseret. Sementara yang lainnya bergantian tampil di media seolah memperlihatkan keberanian. Spanduk habib dibabat aparat (foto: kompas) Agak luar biasa mengetahui bahwa semuanya dipicu serta diawali oleh satu orang dengan satu rentetan peristiwa yang dimulai pada 10 November dan berpusat di Petamburan. Bagaimana bisa satu orang dengan acara hajatannya sanggup memicu parade penegakkan hukum? Faktanya memang demikian. Langkah penegakkan hukum tersebut tentu layak diapresiasi. Masyarakat mendukung upaya negara dan aparat yang kali ini memperlihatkan nyalinya di hadapan kelompok-kelompok yang memiliki passion keonaran dan merongrong keutuhan negara. Paling tidak itu memperlihatkan bahwa kita masih memiliki perangkat-perangkat pe...

Negaraku Jadi Pelayan Ormas?

Mulai hari ini protokol kesehatan hanya kata-kata. Segala aturan mengenai pembatasan aktivitas keramaian diberlakukan suka-suka. Mulai hari ini ancaman pandemi hanya hiasan di spanduk yang boleh dirobek kapan saja.  Sebab hari ini kita melihat negara dan aparatnya telah menjadi pelayan yang baik hati. Negaraku jadi pelayan ormas. Melayani dengan banyak cara. Dimulai dengan menghibahkan seruas jalan raya sebagai tempat berpesta. Jalan milik umum. Namun, demi prinsip melayani diberikan saja kepada yang mulia sebagai area privat. Boleh ditutup sesuka hati. Bisa dipasangi tenda pribadi. Pokoknya untuk yang mulia segalanya akan difasilitasi. Pesta di tengah pandemi tidak apa-apa. Asal dilakukan oleh yang mulia. Tidak apa-apa berkerumun tanpa jaga jarak. Asal berbau agama, malah mendatangkan manfaat. Semakin keras doa, apalagi dilakukan oleh keturunan nabi, malah berguna. Semakin banyak massa, semakin takut Corona, semakin takut pula aparat. Kalau mau berkerumun hubungi saja negara. Nisc...

Indonesia Lebih Takut Ormas-Ulama Dibanding Corona

Dunia bersiap belajar dari Indonesia. Dan WHO sebentar lagi akan kembali mengundang pejabat dari Indonesia sebagai narasumber untuk berbagi resep cara menghadapi serangan pandemi Covid-19. Bukankah ini membanggakan dan mengagumkan? Sebab  dunia dan WHO tampaknya akan segera memahami kekuatan besar yang dimiliki oleh Indonesia. Kekuatan itu bernama PSBB alias Peraturan Suka-suka Buat haBib. "Bangsa yang hebat ialah bangsa yang tunduk pada ormas dan takut ulama" Dari Indonesia, dunia bisa memetik banyak pelajaran tentang pandemi. Bahwa Corona tak perlu ditakuti. Corona hanya penyakit biasa. Virusnya bahkan akan mati hanya dengan makan nasi kucing sampai kenyang dan minum kayu putih sampai kembung. Corona tidak lebih dari penyakit yang bisa dikalahkan dengan doa-doa. Jadi tak perlu takut Corona. Justru Corona yang takut dengan Indonesia. Sebab orang-orang di negeri ini sangat relijius. Orang-orang di sini suka sekali bersujud dan berdoa. Tidak hanya di rumah dan tempat ibadah, t...

Setelah Presiden Jokowi Mengakui Kesalahan dalam Menangani Pandemi

Pandemi Covid-19 di Indonesia belum memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir. Meski sejumlah strategi dan kebijakan telah digulirkan, penyebaran dan penularan Covid-19 belum juga terkendali. Lonjakan penularan justru terus terjadi. Kini, angkanya telah melewati batas psikologis 200.000 kasus dengan kematian lebih dari 10.000 jiwa! Mural Presiden Jokowi di sudut Kota Solo (dok. pri). Dari beberapa faktor penyebab sulitnya Indonesia keluar dari cekaman pandemi selama 7 bulan ini, salah satu yang disorot ialah lemahnya kepemimpinan dari tingkat pusat sampai daerah. Bisa dikatakan Indonesia kekurangan pemimpin yang memiliki visi kebencanaan. Itu terlihat dari kebijakan-kebijakan yang kurang tanggap, komunikasi yang buruk, serta koordinasi yang lemah. Pendek kata, selain gagap dan buta pandemi kita juga bermasalah dalam hal kekompakan. Efeknya menjalar hingga ke akar rumput. Masyarakat yang melihat kekacauan di tingkat atas menjadi kehilangan kepercayaan. Di sisi lain sebagian masyarakat di...