Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kuliner

Pecel Lele Rp37.000, Orang Miskin Dilarang Jajan di Malioboro?

Seorang wisatawan belum lama ini membagikan pengalaman kulinernya di Yogyakarta. Lewat media sosial ia mengeluhkan harga pecel lele yang sangat mahal di Malioboro. Dianggap merugikan reputasi Malioboro dan PKL di tempat tersebut, Paguyuban Lesehan Malioboro berencana menuntut sang wisatawan. Sebab kejadiannya dinilai bukan di Malioboro, tapi di “sirip Malioboro”. Sebenarnya sudah kerap hal ini terjadi. Yakni pengalaman wisatawan yang merasa kena “getok harga” saat jajan di Malioboro. Malioboro (dok. pribadi). Sekarang tentang pecel lele yang dianggap overprice karena setiap komponennya, mulai dari nasi, lele, dan lalapan dihargai cukup tinggi. Pro dan kontra bermunculan. Aspek yang diperdebatkan bukan hanya harganya yang Rp37.000, tapi juga sikap pembeli dan penjualnya. Berbagai sudut pandang menjadi landasan argumentasi. Ada yang menganggap harga Rp37000 tidak terlalu mahal dengan menimbang status dan gengsi Malioboro sebagai ikon wisata terbesar di Yogyakarta. Sedangkan sebagian oran...

Dawet Mbah Hari di Pasar Beringharjo, Segar Sejak 1965

Berjalan dari Stasiun Besar Yogyakarta alias Stasiun Tugu ke Pasar Beringharjo pada Sabtu (21/12/2019) ternyata sedikit melelahkan dari biasanya. Padahal sudah sering kaki melangkah menyusur jarak yang lebih jauh lagi.   Dawet Mbah Hari di Pasar Berongharji Yogyakarta (dok. pri). Akan tetapi rupanya kala itu sedikit berbeda kondisinya. Selain perut belum terisi makanan berat, juga karena hawa cukup gerah. Langit yang sempat terlihat teduh ternyata bukan berarti tak mengundang peluh.   Menginjak Pasar Beringharjo sekitar pukul 10.00 saya segera menyasar lantai bawah yang menjadi gudang batik aneka rupa. Maksud hati ingin melihat-lihat kemeja batik untuk menggantikan sebuah kemeja lama yang sudah   menciut. Selain itu hendak membeli geplak dan dodol titipan orang rumah. Baru lima belas menit berburu batik, saya memutuskan menepi. Sejenak keluar memisahkan diri dari kerumunan pengunjung pasar yang sama-sama tergila-gila pada batik. Sebabnya peluh...

Mencecap "Sang Pisang" Dari Kaesang

Menjelang sore, tiba-tiba ingin menikmati cemilan. Teringat pernah makan naget pisang. Jadilah saya memutuskan membuka aplikasi Gojek di smartphone . Pada fitur GoFood saya mencari Sang Pisang milik anak Jokowi, Kaesang Pangarep. Naget pisang "Sang Pisang" (dok. pri). Di aplikasi GoFood satu kotak Sang Pisang berisi 10 naget pisang dihargai Rp25.000, belum termasuk topping tambahan. Sementara jasa antarnya Rp13.000. Harga total yang lumayan mahal itu membuat saya beralih untuk mencoba GrabFood. Di aplikasi GrabFood sekotak Sang Pisang ternyata dihargai lebih murah, yaitu Rp22.000 dan biaya pengantarannya hanya Rp3000. Selisih yang cukup mencolok dengan GoFood. Saya pun akhirnya memesan melalui GrabFood dan segera diterima oleh seorang pengemudi Grab dengan perkiraan waktu pengiriman 40 menit. Lumayan lama, tapi tak mengapa. Kemasan "Sang Pisang" (dok. pri). Katanya #BUKANKUEARTIS (dok. pri). Sang Pisang ternyata tiba 20 menit lebih cepat dari...

Bertemu Rasa dengan Tahu Kupat Pak Midin di Solo

Lelaki berperawakan kecil dengan tinggi sekitar 165 cm itu sibuk meracik dan menambahkan beberapa bahan ke dalam piring-piring yang dijejerkan di atas gerobaknya. Ia kemudian mengantarkannya ke orang-orang yang duduk di bagian dalam warung.   Tahu Kupat Pak Midin (dok. pri). Setelah itu ia menghampiri saya yang  menunggu di meja bagian luar. “Mas’e pedes? Pakai telor?” , tanyanya. Usai menerima jawaban dan permintaan saya ia kembali ke gerobaknya. Sesaat ia menghilang ke sisi samping gerobak. Terdengar suara dari minyak panas di penggorengan. Lelaki bernama Pak Midin itu sedang menggoreng sesuatu. Tak lebih dari sepuluh menit, piring dengan isian yang masih mengebulkan uap panas sudah disiapkan untuk saya. Aroma yang tercium membuat saya yang sedang lapar menjadi semakin lapar. Warung Tahu Kupat Pak Midin di Jalan Museum Kota Solo (dok. pri). Pak Midin dengan gerobaknya (dok. pri). Itulah Tahu Kupat Pak Midin. W arung sederhananya ada di Jal...

Kisah Mbah Pardiyem, 40 Tahun Menjajakan Pecel Ndeso dan Cabuk Rambak di Solo

Di usianya yang sudah menyentuh 70 tahun, ia masih tetap setia menekuni harinya berkeliling Kota Solo. Menjajakan makanan tradisional jadi pilihan hidupnya. Mbah Pardiyem saat berjualan di Car Free Day Slamet Riyadi Kota Solo pada Minggu (17/12/2017) pagi (dok. pri). Namanya Pardiyem. Saya bertemu dengannya di Car Free Day yang diselenggarakan di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo pada Minggu (17/12/2017) pagi, tepatnya di depan Yamaha Music School. Sambil duduk di atas tikar mbah Pardiyem sabar menunggu pembeli. Hatinya ia berharap dari ribuan orang yang berlalu lalang di CFD pagi itu ada beberapa yang mampir membeli pecel ndeso, cabuk rambak, atau nasi liwet. Ketiga makanan tradisional khas Solo itulah yang dijual oleh Mbah Pardiyem.   Sudah 40 tahun Mbah Pardiyem berjualan pecel ndeso, cabuk rambak, dan nasi liwet. Biasanya ia mulai berjualan pukul 06.00. Tapi ia sudah bangun pada pukul 01.00 untuk menyiapkan dan memasak bahan-bahan yang dibutuhkan. Semuanya dilaku...

Aminah dan Dawet Onggok Khas Klaten

Bulan Mei 2017, selamat datang lagi di Klaten, Jawa Tengah. Siang itu matahari masih bersinar terik dan saya masih harus menempuh beberapa kilometer lagi untuk sampai di tujuan. Karena sudah mulai lelah dan tak nyaman dengan sengatan matahari, saya menepi dan menghampiri seorang ibu penjual dawet. Es Dawet Onggok khas Klaten dengan tambahan tape beras (dok. Hendra Wardhana). Namanya Bu Aminah , ibu rumah tangga ini berjualan dawet di samping bengkel tempat usaha sang suami. Bengkel itu merupakan bagian depan dari rumah tinggal mereka. Baru sebentar duduk dan meluruskan kaki, segelas es dawet sudah disodorkan kepada saya. Setelah menyentuh gelasnya yang dingin dan dipenuhi uap air yang mengembun, dengan cepat saya menghabiskan isinya. Kerongkongan pun seperti tanah kering yang mendadak diguyur hujan. Dingin, segar, dan saya ketagihan. Kepada Bu Aminah saya lalu meminta dibuatkan satu gelas es dawet lagi. Sambil menikmati gelas kedua, saya mengajak ngobrol Bu Aminah tent...

Mencecap Ayam Goreng ala Warung Ayam Bakar Wong Solo di Surabaya

Selasa, 14 Februari 2017. Cuaca sore kota Surabaya sedang bersahabat. Tidak terasa terik dan lalu lintas di sekitar Balaikota rupanya tak terlalu ramai. Padahal, biasanya sekitar pukul 16.00 adalah puncak keramaian jalanan di kota besar. Paket ayam goreng komplit di Warung Ayam Bakar Wong Solo (dok. Hendra Wardhana). Setelah check in di hotel dan berganti pakaian, mengobati lapar jadi tujuan saya. Tapi s ore itu saya  tak berniat untuk mencicipi rawon atau rujak cingur. Saat mengetahui ada tempat makan bernama Ayam Bakar Wong Solo yang cukup terkenal di dekat Balaikota Surabaya, saya segera menetapkannya untuk mengisi perut sebelum berjam-jam bernyanyi di depan panggung KAHITNA. Menonton KAHITNA selain membutuhkan jiwa yang tegar, juga butuh tenaga untuk mengimbangi perasaan yang terhentak setiap kali KAHITNA bernyanyi. Kebetulan pula Wong Solo dapat dicapai dengan berjalan kaki selama 5 menit dari hotel tempat menginap di Jalan Walikota Mustajab. Lokasinya tepat ...