Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

"Bersih Desa", Kearifan Lokal Yogyakarta untuk Kelestarian Alam

Lapangan sisi selatan Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta pada sore itu terlihat lebih ramai daripada hari-hari biasa. Awan mendung yang menggantung di langit tidak menghalangi ratusan orang untuk berkumpul. Warga tua-muda berdiri di sekeliling lapangan. Sebagian yang lain berjongkok dan duduk tanpa alas.
Saat itu Yogyakarta sedang menggelar Festival Bentara Upacara Adat dengan agenda “Bersih Desa”. Kegiatan tersebut bertujuan melestarikan tradisi dan mengangkat budaya Yogyakarta di tengah derasnya arus kehidupan modern. Berbagai upacara adat yang ditampilkan juga dimaksudkan untuk memperkaya wawasan masyarakat tentang kearifan lokal yang tumbuh di Yogyakarta.
Salah satu upacara adat yang ditampilkan adalah "Bersih Desa Luaran" oleh masyarakat adat Taruban Tuksono dari Kabupaten Kulonprogo. Masyarakat pelaku prosesi ini mengenakan pakaian adat Jawa gaya Mataraman. Mereka membawa sejumlah perlengkapan, termasuk senjata tradisional seperti keris dan tombak.
Bersih Desa Luaran diawa…

Menjembatani Potensi Bonus Demografi dengan Harapan Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi

Presiden Joko Widodo baru saja menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,4-6,1%. Seperti disebutkan dalam databoks, target ini merupakan wujud Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) yang disusun dengan optimisme, realistis, dan kredibel.
Harapan ekonomi nasional tumbuh di atas 5% hingga menyentuh angka 6% barangkali memang tidak berlebihan jika melihat performa ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir yang cukup baik. Statistik Indonesia terkait pertumbuhan ekonomi sepanjang periode 2006-2015 menurut databoks mencapai angka rata-rata 5,8% yang hanya kalah dari Tiongkok dan India. 
Sementara itu menurut prediksi Lembaga audit dan konsultan ekonomi Pricewaterhouse Coopers (PWC) yang dirangkum oleh databoks, ekonomi Indonesia akan terus tumbuh dan melesat menduduki peringkat 5 dunia melampaui Rusia dan Jerman pada 2030. Lembaga ini juga memperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia pada 2050.
Jendela Peluang Tren positif di at…

Bayang-bayang Bencana di Balik Kemilau Emas Bumi Minahasa

Mata saya terbelalak melihat kolam berwarna cokelat keruh pada Jumat sore itu. Dahi pun berkerut saat mengamatinya dari dekat. Warna air di kolam benar-benar pekat. Kolam tersebut merupakan penampungan air limbah dari kegiatan pertambangan emas tradisional di Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Tidak hanya satu, ada sejumlah kolam serupa yang umumnya berada di samping gubug atau bangunan-bangunan berdinding kayu. Bangunan tersebut didirikan dan dioperasikan oleh para petambang tradisional sebagai tempat pengolahan tanah dan batuan cikal bakal emas. Beberapa bangunan terlihat berdiri di dekat bukit.
Saya juga sempat berpapasan dengan para petambang yang baru pulang dan hendak berangkat mencari emas. Di antara mereka ada yang terlihat masih berusia belasan tahun. Namun, nyali mereka pasti sudah digantungkan antara keinginan kuat mendapatkan emas atau kehilangan nyawa. Menggali batuan dan masuk ke dalam lubang tambang jelas penuh resiko. Kapan saja musibah bisa terjadi.…

Cenderamata 31 Tahun KAHITNA: Tidak Sempurna Tapi Tetap Istimewa

Baru saja saya membeli DVD Karaoke KAHITNA teranyar. Sebenarnya sudah sejak kemarin saya mencarinya setelah mimin instagram KAHITNA mengabarkan hadirnya DVD ini di jaringan alfamart dan toko-toko musik. Tapi setelah mendatangi minimarket tersebut esok harinya, sang kasir menjawab tak ada DVD baru yang dijual. Belakangan baru saya tahu ternyata DVD Karaoke KAHITNA dijual melalui alfamidi.
Setelah tahu dijual di alfamidi, saya malah bingung apa bedanya alfamidi dan alfamart. Sementara saya belum pernah masuk ke alfamidi dan tidak tahu di mana lokasinya. Beruntung saya tergabung ke dalam grup WA “Ibu-ibu”. Setelah bertanya, saya diberitahu lokasi alfamidi terdekat. Ternyata tidak dekat karena jaraknya hampir 5 km.
Sebelum makan siang saya meluncur mencari keberadaan alfamidi dan akhirnya ketemu. Ternyata tempatnya cukup besar. Bukan lagi sebuah minimarket tapi lebih tepat disebut supermarket. Pintu kacanya tidak perlu didorong atau ditarik untuk bisa masuk karena bergeser secara otomatis s…

Senangnya Dapat Uang "Palu Arit"

Kamis sore, 2 Maret 2017, sesaat saya terkejut di depan mesin ATM. Dari celah tempat uang keluar, saya melihat beberapa lembar uang yang wujudnya berbeda dari biasanya. Warnanya memang masih biru, tapi kesan pertama saat melihatnya tampak tidak sama dengan wujud uang sebelumnya. 
Keterkejutan saya hanya berlangsung sekitar 5 detik. Tatkala mengambilnya dan melihat wujudnya secara keseluruhan, seketika saya merasa senang. Akhirnya dapat uang NKRI yang baru juga!.
Sebenarnya ini bukan pertama kali saya memegang uang baru emisi 2016 yang belum lama diberlakukan. Namun, ini untuk pertama kalinya saya mendapatkannya dari mesin ATM. Sebelumnya setiap kali menarik tabungan di ATM, uang yang keluar selalu emisi lama.
Oleh karena itu, setelah mendapatkannya saya menyempatkan waktu untuk mengamati wujud dan rupa uang pecahan Rp50000 baru tersebut. Hal pertama yang saya cari adalah bentuk rectoverso BI yang oleh sebagian orang “super cerdas” dianggap sebagai simbol “palu arit”. Entah apa yang ada d…