Menjadi anak sekolahan, mulai dari saat harus rapi berseragam merah putih, lalu berganti biru putih lengkap dengan badge OSIS hingga saat berekspresi dengan pakaian putih abu-abu, adalah masa yang penuh kenangan. Banyak sekali peristiwa, menyenangkan maupun kurang mengenakkan yang kita alami di masa-masa itu. Saat di mana rambut tak boleh menutupi telinga, kaus kaki harus berwarna putih atau hitam, piket menghapus papan tulis harus dikerjakan hingga wajib membawa buku ajar dan LKS setiap hari. Periode menjadi anak sekolahan berseragam juga menjadi masa di mana kenakalan dan kepatuhan kita “diasah”. Seorang bisa terlihat dalam puncak kepatuhannya sebagai anak yang baik ketika berseragam sekolah. Sebaliknya riwayat kenakalan seseorang juga bertambah saat duduk di bangku sekolah. Kalau ditanya apakah saya termasuk anak yang dominan nakal atau menonjol kepatuhannya, saya akan menjawab bahwa saya dan teman-teman sekelas pernah diskors karena ketahuan guru main kartu ...
di sini dan di ujung jalan itu