Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label polisi

Spanduk "Hoax" Bertebaran Kantor dan Pos Polisi

“Mereka yang telah merenggut ratusan nyawa di dalam stadion hanya dalam semalam tidak akan berat melindas hanya seorang manusia di jalanan” Spanduk "hoax" di kantor polisi (dok. pribadi). Mendung dan dingin pagi ini terasa lebih mengiris. Meninggalkan rumah menuju jalan raya, saya berpapasan dengan seorang pengemudi ojol berjaket hijau-hitam yang membelok masuk ke dalam komplek tempat tinggal. Barangkali ia sedang mengantar sarapan yang dipesan oleh seorang pelanggan. Mungkin juga hendak menjemput warga yang minta dihantar ke kantor, sekolah,  kampus, pasar, atau rumah sakit. Barangkali seperti itu pula rutinitas Affan Kurniawan setiap hari. Pagi-pagi sekali ia berpamitan kepada orang tuanya, lalu segera meluncur ke dalam labirin jalanan ibu kota untuk menjemput nafkah yang akan ia persembahkan kepada keluarga di rumah. Namun, Affan tidak lagi berada di jalanan pagi ini dan seterusnya. Semalam ia gugur. Tubuhnya dilindas mobil polisi yang dibeli dari uang yang dibayarkan oleh...

Orang-orang Oetimu: Parade Kemunafikan di Balik Seragam dan Jubah Suci

“Tak ada negara dan tentara. Tak ada Gereja dan pemimpin agama”. Begitulah cerita yang Maria peroleh dari almarhum suami dan anaknya yang telah berada di surga. Lewat mimpi Maria bertemu dengan kedua orang terkasihnya yang meninggal karena ditabrak tank tentara. Suami dan anaknya mengabarkan bahwa di surga tak ada negara, tentara, gereja, serta pemimpin agama. Orang-orang Oetimu (dok. pribadi). Maria hanya satu dari banyak nama yang tertuang dalam “Orang-orang Oetimu” karya Felix K. Nesi. Tak ada tokoh paling utama dalam buku setebal 220 halaman ini. Baik Maria, Sersan Ipi, Am Siki, Silvy, maupun Romo Yosef masing-masing menguak kemunafikan manusia. Dalam kecerdasan, kesucian, dan kepahlawanan, manusia-manusia ternyata makhluk yang bergelimang dosa. Suatu ketika usai melalui hari-hari berkabung, Maria kembali keluar rumah untuk pergi ke gereja, membeli koran, dan berbelanja makanan. Namun, di sebuah jembatan di atas sungai yang kering ia berhenti dan melompat. Tubuhnya hancur.   Ma...

Dikalahkan Pegi Setiawan di Praperadilan, Para Polisi Malu Bertemu Tetangga?

Pil teramat pahit kembali ditelan paksa oleh Kepolisian Republik Indonesia yang baru saja riang menyanyikan lagu “happy birthday”. Palu seberat berton-ton seolah menghantam kepala para aparat yang sedang bersantai menikmati kemapanan di balik seragamnya. Kado dan kue yang belum lama dinikmati saat hari ulang tahun Bhayangkara 1 Juli kemarin ternyata hanya untuk di kalangan sendiri. Sebab faktanya banyak masyarakat sedang memandang sinis   dan kritis ke arah polisi. Pegi Setiawan vs polisi (dok.pribadi). Bulan madu karena indeks kepercayaan yang semakin pulih usai dihajar oleh kasus Ferdy Sambo, Teddy Minahasa dan Tragedi Kanjuruhan juga tak punya makna mendalam. Sebab kenyataannya penyakit lama belum benar-benar sembuh. Setidaknya hari ini kerja dan profesionalisme kepolisian sedang disorot tajam pada 2 kasus. Pertama, pengungkapan kasus pembunuhan Vina yang menyeret Pegi Setiawan sebagai tersangka baru dengan label buronan lama. Kedua, kasus kematian Afif di Padang yang dipenuhi k...

Pakai Batik Keren, Bukti Ferdy Sambo Sangat Cinta Tanah Air

Kamu adalah apa yang kamu pakai.   Sudah lama kita mengenal pepatah bijak di atas. Terutama untuk menerangkan bahwa busana atau pakaian yang dikenakan seseorang mencerminkan pemakainya. Ferdy Sambo dengan batiknya yang keren di pengadilan (foto: liputan6.com). Walau ada pula pepatah yang menyarankan agar kita tidak menilai seseorang dari sampulnya, tapi pakaian seringkali secara akurat menjelaskan karakter, prinsip, atau kepribadian seseorang. Kita juga sering sengaja memilih pakaian tertentu sebagai pembawa pesan tentang nilai dan pemikiran yang ingin kita sampaikan. Misal, mengenakan pakaian serba hitam atau gelap ke acara pemakaman menandakan kita sedang merasakan kesedihan. Menggunakan baju penuh warna ke acara reuni mengandung makna bahwa kita sedang bahagia. Begitu pula orang yang setiap hari suka mengenakan pakaian kasual kemungkinan besar merepresentasikan karakter pemakainya yang santai dan luwes. Selain itu, pakaian atau busana tertentu juga sering dipilih karena pemakain...

5 Pilihan Profesi untuk Ferdy Sambo Setelah Dipecat dari Polri

Tak ada lagi jenderal polisi bernama Ferdy Sambo. Tersisa seorang tersangka dan otak pembunuhan berencana yang merenggut nyawa seorang polisi. Itu setelah sidang Komisi Kode Etik dan Profesi Polri pada Senin (19/9/2022) menolak banding yang bersangkutan. Ia pun resmi diberhentikan tidak dengan hormat sebagai anggota polri. Rozikin, penjual durian yang wajahnya mirip Ferdy Sambo (foto: Mochamad Saifudin/detik.com). Menurut Humas Polri, proses dan pemberkasan administrasi pemecatannya akan selesai dalam 3 hingga 5 hari. Dengan kata lain, mulai pekan depan Ferdy Sambo bukan lagi seorang polisi. Ia akan sama dengan bapak-bapak warga sipil pada umumnya. Bedanya ia harus memulai status barunya dari dalam kurungan. Walau demikian, sebagian keistimewaan diyakini akan tetap dimiliki oleh Pak Ferdy Sambo. Ada banyak upaya yang memungkinkannya lolos dari jerat hukuman terberat. Bagaimana pun, dua bintang yang pernah ada di pundaknya punya kekuatan dan pengaruh yang bertahan lama. Ia memang dipeca...

#PercumaLaporPolisi Pertanda Indonesia Butuh "Polisi Swasta"?

Seruan #PercumaLaporPolisi masih terus terdengar hingga sekarang. Di media sosial memang sudah berkurang intensitasnya. Namun, di berbagai tempat dan kesempatan polisi menjadi salah satu topik yang sering muncul dalam aktivitas “ghibah” masyarakat sehari-hari. Beda pendapat Polisi dan BNN (kompas.com). Terbaru, publik dibuat heran dengan sikap kepolisian yang seolah-olah bertindak sebagai “juru bicara” Bupati Langkat non aktif Terbit Peranginangin yang belum lama ini ditangkap KPK. Lewat konferensi pers panjang lebar kepolisian menjelaskan penemuan kerangkeng manusia di rumah sang bupati. Seolah sudah melakukan penyelidikan dan pemeriksaanmendalam, polisi “mengklarifikasi” bahwa kerangkeng mirip penjara tersebut merupakan fasilitas pembinaan atau rehabilitasi bagi pecandu narkoba dan remaja nakal. Alih-alih menyebut orang-orang yang dikerangkeng sebagai “korban”, polisi memperhalusnya dengan istilah sebagai “warga binaan”. Pernyataan polisi dan pilihan-pilihan diksinya cukup meresahka...