Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Yogyakarta

Pecel Lele Rp37.000, Orang Miskin Dilarang Jajan di Malioboro?

Seorang wisatawan belum lama ini membagikan pengalaman kulinernya di Yogyakarta. Lewat media sosial ia mengeluhkan harga pecel lele yang sangat mahal di Malioboro. Dianggap merugikan reputasi Malioboro dan PKL di tempat tersebut, Paguyuban Lesehan Malioboro berencana menuntut sang wisatawan. Sebab kejadiannya dinilai bukan di Malioboro, tapi di “sirip Malioboro”. Sebenarnya sudah kerap hal ini terjadi. Yakni pengalaman wisatawan yang merasa kena “getok harga” saat jajan di Malioboro. Malioboro (dok. pribadi). Sekarang tentang pecel lele yang dianggap overprice karena setiap komponennya, mulai dari nasi, lele, dan lalapan dihargai cukup tinggi. Pro dan kontra bermunculan. Aspek yang diperdebatkan bukan hanya harganya yang Rp37.000, tapi juga sikap pembeli dan penjualnya. Berbagai sudut pandang menjadi landasan argumentasi. Ada yang menganggap harga Rp37000 tidak terlalu mahal dengan menimbang status dan gengsi Malioboro sebagai ikon wisata terbesar di Yogyakarta. Sedangkan sebagian oran...

Gudeg Mbah Sudarmi, Teladan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir menuntut semua orang untuk segera beradaptasi. Protokol kesehatan wajib dipatuhi. Selain untuk untuk kembali menggerakkan roda ekonomi, juga agar semua bisa lebih terlindungi. Mbah Darmi atau Sudarmi menjajakan gudeg dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan face shield (dok. pri). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sudarmi atau Mbah Darmi. Sebagaimana kebanyakan orang, nenek 63 tahun ini tak pernah menyangka akan menemui masa pandemi hebat dalam hidupnya. Puluhan tahun menjajakan gudeg Mbah Darmi sudah menyaksikan banyak perubahan. Akan tetapi baru kali ini ia merasakan perubahan yang begitu besar dan cepat. Pada awal Korona mewabah di Indonesia Mbah Darmi terpaksa berhenti berjualan selama hampir 2 pekan akibat sepinya pembeli. Setelah itu ia kembali menjajakan gudeh di Jalan Urip Sumaharjo, Kota Yogyakarta, tepat di sisi timur Hotel Tickle atau di sisi utara auditorium Lemb...

Dawet Mbah Hari di Pasar Beringharjo, Segar Sejak 1965

Berjalan dari Stasiun Besar Yogyakarta alias Stasiun Tugu ke Pasar Beringharjo pada Sabtu (21/12/2019) ternyata sedikit melelahkan dari biasanya. Padahal sudah sering kaki melangkah menyusur jarak yang lebih jauh lagi.   Dawet Mbah Hari di Pasar Berongharji Yogyakarta (dok. pri). Akan tetapi rupanya kala itu sedikit berbeda kondisinya. Selain perut belum terisi makanan berat, juga karena hawa cukup gerah. Langit yang sempat terlihat teduh ternyata bukan berarti tak mengundang peluh.   Menginjak Pasar Beringharjo sekitar pukul 10.00 saya segera menyasar lantai bawah yang menjadi gudang batik aneka rupa. Maksud hati ingin melihat-lihat kemeja batik untuk menggantikan sebuah kemeja lama yang sudah   menciut. Selain itu hendak membeli geplak dan dodol titipan orang rumah. Baru lima belas menit berburu batik, saya memutuskan menepi. Sejenak keluar memisahkan diri dari kerumunan pengunjung pasar yang sama-sama tergila-gila pada batik. Sebabnya peluh...

Budi Seputro dan Sate Ratu, Mengantar Sate ke Lidah Puluhan Negara

Asap mengepul dan aroma khas daging terpanggang menguar bersamaan dengan batok kelapa yang membara. Muasalnya dari Warung Sate Ratu yang berada di sebuah Jogja Paradise Foodcourt di tepi Jalan Magelang, Yogyakarta. Sate Merah dari Warung Sate Ratu (dok. pri). Bangunannya seperti warung kebanyakan. Tidak terlalu besar dan sederhana. Bagian paling depan warung berupa ruangan tempat pembakaran. Memasuki bagian dalam terlihat beberapa meja dan bangku kayu memanjang mengisi ruangan. Pada setiap meja tertempel stiker hijau “Tripadvisor”. Sementara pada dinding terpasang sejumlah piagam dan sertifikat penghargaan. Pada bagian dinding lainnya juga terpampang ratusan foto dan testimoni dalam berbagai bahasa. Semuanya seakan mengisyaratkan bahwa warung sate yang terlihat biasa ini sebenarnya memiliki keistimewaan. Seorang pria memperkenalkan namanya sebagai Budi Seputro. Ia mengenakan kaus berwarna gelap bertuliskan kata-kata yang dengan segera bisa saya ketahui sebagai caranya...

KAHITNA di Mocosik Festival: Mengungkit Cinta (yang) Sudah Lewat

Panggung Mocosik Festival 2018 di Jogja Expo Center berhenti sejenak pada Jumat (20/4/2018) malam. Sorot lampu yang sebelumnya gemerlap saat Rio Febrian tampil, menjadi redup. Suara musik sejenak tak terdengar, digantikan oleh celoteh duo MC mengisi senjang waktu.  Tapi itu hanya berlangsung beberapa menit. Pukul 21.30 suasana kembali menghangat. Penonton yang semula duduk istirahat di lantai dan menepi ke baris belakang merangsek maju berusaha mencapai jarak terdekat dengan muka panggung saat nama KAHITNA disebut. Panggung KAHITNA di Mocosik Festival 2018 (dok. pri). Panggung berpendar lagi bersamaan layar LED di belakang menampilkan gambar KAHITNA. Seru penonton tak terbendung kala personel KAHITNA yang dipimpin Yovie Widianto muncul untuk segera mengambil alat musiknya masing-masing.  Tapi KAHITNA baru enam orang. Tiga vokalisnya belum terlihat. Lalu tiba-tiba terdengar suara menggoda. ”Are you ready?”, sapa vokalis Mario yang segera disambut penonton p...

Mengintip LGBT di Yogyakarta

Akhir-akhir ini LGBT kembali ramai diperbincangkan di Indonesia. Bahkan, menjadi isu nasional yang bermuatan politis.  LGBT adalah sebutan untuk kaum non-heteroseksual yaitu lesbi, gay, biseksual dan transgender.  Selama ini LGBT mendapat stigma yang buruk di tengah masyarakat. Orientasi seksual dan penyimpangan perilaku mereka dianggap sangat tidak pantas, dicap hitam, bahkan dianggap sebagai penyakit sosial yang membahayakan. Kaum LBGT pun mengalami diskriminasi yang nyata.  Tak sedikit dari mereka terasing dari keluarga dan lingkungan asalnya. "Seorang transmen atau pria trans sekaligus pegiat LSM LGBT tampil dalam  pertunjukkan 100% Yogyakarta pada Oktober 2015. Beberapa waktu lalu sebelum  ramai menjadi isu politis, LGBT diperbincangkan lewat suara-suara dan pandangan dari lingkungan istitusi pendidikan.  Pandangan-pandangan itu pun menimbulkan kontroversi. Misalnya, pernyataan Menristekdikti yang menyebutkan LGBT dilarang mas...

Menjelang Sunset di Bukit Lintang Sewu

“Selamat datang di Lintang Sewu, bagaimana jalan-jalannya?” , sapa Purwo Harsono, seorang pegiat pengembangan wisata lokal di Kecamatan Dlingo, menyambut saya di puncak Lintang Sewu sore itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 dan suasana tidak begitu ramai sehingga ketenangan yang melenakan sangat terasa. Saya pun segera membebaskan diri untuk menikmati tempat ini. Panorama di hadapan Bukit Lintang Sewu (dok. pri). Lintang Sewu adalah spot wisata berupa bukit di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk mencapai Lintang Sewu tidaklah terlalu sulit karena akses jalan yang menghubungkan Kecamatan Dlingo dengan Kota Yogyakarta maupun Gunungkidul relatif baik.   Jarak Lintang Sewu dari pusat kota Yogyakarta sekitar 35 km. Hanya saja tidak ada transportasi umum yang mengantar langsung mencapai ke lokasi. Menggunakan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor atau menyewanya dari layanan jasa transportasi akan lebih mudah ...