Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Merayakan Hari Sate Kambing Nasional

Kemarin, Minggu (11 Agustus 2019) adalah “Hari Sate Kambing Nasional”. Memang kita tidak akan menemukannya tercetak di kalender nasional. Namun, bukan berarti itu tidak ada.
“Hari Sate Kambing Nasional” merupakan kesepakatan alam bawah sadar kita saat Hari Raya Iduladha tiba. Hari ketika sate kambing melintas di pikiran banyak orang.

Saya hampir yakin bahwa pada Idul Adha kebanyakan orang Indonesia memikirkan dan lalu memutuskan untuk mengolah daging kambing menjadi sate dibanding jenis olahan lainnya. Siapa pun boleh memikirkan gulai dengan kuah yang gurih. Sah juga membayangkan tongseng berkuah manis pedas. Atau berencana mengamalkan resep lain. Namun, pada akhirnya yang kita jumpai di depan mata adalah sate kambing.
Memori otak kita merekam dengan baik selama bertahun-tahun kata “sate” atau “satai” dalam ejaan bakunya. Sensasi dan kenikmatan yang kita dapatkan setiap kali menyantap sate telah memperkuat algoritma khusus di dalam tubuh yang menentukan nasfu dan selera makan kita. Hanya…

Metro TV: Melepas Ahok, Memeluk Anies

Pendulum politik Indonesia terus berubah dengan gerak yang tak tertebak. Kini seketika arahnya berganti haluan 180 derajat. Nasdem memeluk erat Anies Baswedan. Siap membawa sang bekas menteri ke tahta 2024. Narasi pemberitaan TV pun siap berganti. Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Rabu, 24 Juli 2019. Dikemas sebagai silaturahmi dan makan siang, pertemuan itu diakhiri dengan beberapa “testimoni” dan “deklarasi”. Nasdem dan Surya Paloh menyatakan mendukung Anies Baswedan menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI sekaligus berniat mengusung sang gubernur sebagai calon presiden pada 2024.
Belum jelas benar apakah pertemuan Surya Paloh dengan Anies Baswedan memiliki kaitandengan makan siang Megawati dengan Prabowo di tempat terpisah? Jika ada kaitannya, apakah manuver Surya Paloh yang “menikung Anies" dari Prabowo merupakan respon negatif dari dinamika persaingan perebutan kursi menteri di kabinet Jokowi-Maruf? Nasdem dan sejuml…

Masa Depan Garuda Indonesia Setelah "Dihajar" Milenial

Polemik daftar menu tulis tangan di penerbangan Garuda Indonesia menarik untuk ditelaah. Permasalahan terpenting bukan ada pada foto daftar menu yang diunggah ke media sosial, melainkan pada cara Garuda Indonesia merespon unggahan tersebut. Melarang pengambilan foto di pesawat dan melaporkan penumpang ke polisi justru memperlihatkan kelemahan besar Garuda Indonesia yang selama ini tampak baik-baik saja.Garuda Indonesia sedang didera prahara. Bukan turbulensi yang terjadi pada Garuda saat ini. Kita tahu bahwa turbulensi adalah hal wajar yang terjadi pada penerbangan. Setiap pesawat modern dalam pembuatannya telah dirancang untuk menghadapi turbulensi. Gangguan turbulensi juga disebabkan oleh faktor dari luar dan belum pernah menjadi penyebab utama kecelakaan pesawat.
Sedangkan permasalahan-permasalahan yang menimpa Garuda belakangan ini tampak bersumber dari dalam kokpit dan ruang kendali mereka sendiri. Jika turbulensi relatif tidak berbahaya bagi kelangsungan perjalanan pesawat, maka

Suwarto dan Es Badeg di Purwokerto

Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB dan sinar matahari terasa mulai menyengat kulit. Di tepi Jalan Gatot Subroto, tepatnya di salah satu sudut simpang empat Pasar Manis Kota Purwokerto, seorang laki-laki berperawakan agak gemuk duduk di atas kursi plastik warna hijau.Ia tampak diam seolah sedang menunggu sesuatu. Berjarak beberapa langkah di depannya terdapat sebuah gerobak biru bertuliskan “es badeg”.

“Permisi, Pak. Mau esnya satu”. Ia seperti terkejut dan terbangun mendengar permintaan saya. Mungkin saat itu ia sedang termenung atau setengah melamun. Ia mempersilakan saya duduk di sebuah kursi plastik lainnya, lalu bangkit menghampiri gerobak biru itu. Melihat caranya melangkah dan mengangkat kaki, segera tertangkap bahwa satu kakinya sudah sulit untuk diajak melangkah cepat.
Suwarto, nama laki-laki berusia 69 tahun itu. Rumahnya di daerah Purwokerto Barat berjarak hampir 3 km dari tempatnya berjualan Es Badeg saat ini. Sudah empat tahun ia menjajakan Es Badeg.
Badeg adalah sebutan masya…

KAHITNA, Yaya Heyaa!

KAHITNA datang ke Lawfestival yang digelar di Pamedan Kraton Mangkunegaran Solo pada Sabtu (29/6/2019). Itu hanya lima hari setelah KAHITNA menjejak usia 33 tahun berkarya. Maka bagi penggemar mereka, datang ke panggung malam itu menjadi semacam ibadah "hari raya" KAHITNA. Solo sendiri cukup sejuk sore hingga malam itu. Berulang kali anginnyaberhembus kencang melenakan. Saya merasa telah bertindak benar dengan mengenakkan sweater merah agak tebal. Saat tiba di kota kelahiran Jokowi itu saya memutuskan berdiam sejenak di dalam stasiun. Duduk-duduk santai sambil membaca buku dan membiarkan baterai smartphone terisi penuh kembali. Selesai mengambil waktu di mushola, lalu melangkah ke ruang kedatangan.
Di sudut ruangan terbuka itu segelas teh manis hangat saya beli. Penjualnya seorang wanita yang mengenakan seragam berciri produk dan merek teh terkenal. Ia meracik teh dengan cepat. Gula cair dituangkannya dengan takaran tertentu. Begitu pula dengan teh dan air panasnya. Baru kemudi…

Indonesia Wo Ai Ni: Indonesia dan Jokowi di Mata Jurnalis China

-Orang Indonesia sangat mahir dalam membuat dekorasi pernikahan ala Kayangan. Dibanding China, dunia fashion di Indonesia lebih maju. Sedangkan di Jakarta sering sekali terjadi demonstrasi dan banyak massa sewaan-
Itulah sebagian kesan pertama yang ditangkap oleh Yunyun Dou, seorang wartawan dan reporter China Central Television (CCTV) saat menjejak Jakarta untuk memulai tugasnya di Indonesia. Ia merupakan jurnalis CCTV pertama yang ditugaskan di Indonesia sejak 2010 hingga 2015.
Kesan tersebut serta pengalaman-pengalaman tak terlupakan yang dirasakannya saat bertugas di Indonesia ada dalam buku berjudul “Indonesia Wo Ai Ni”. Awalnya buku ini ditulis dalam bahasa Mandarin karena ditujukan untuk masyarakat negeri tirai bambu. Dengan bantuan sejumlah pihak, catatan-catatan tersebut disusun ulang hingga tersaji versi Bahasa Indonesia. Perjalanan meliput berita ke banyak daerah di Indonesia membuat Yunyun Dou takjub pada negeri ini. Ia membuktikan bahwa Indonesia tidak semuram dan selusuh se…