Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi untuk mencipta lukisan. 

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas k…

Menghayati Perpisahan ala Yovie & Nuno

Saya mungkin tidak terlalu mengikuti Yovie & Nuno secara tetap. Hanya 2 album Yovie & Nuno yang saya punya dan baru empat kali saya menyaksikan langsung penampilan YN. Itupun dua di antaranya saat YN berbagi panggung dengan KAHITNA. Meskipun demikian saya lumayan menghayati era Kemenangan Cinta. Bagi telinga dan perasaan saya itulah album terbaik Yovie & Nuno. KLBK, Kamu Bukan Kekasihku, dan Juwita itu juara!
Lagu-lagu itu kemudian pada Jumat (8/2/2019) malam saya putar lagi untuk mencoba membersamai sejarah yang sedang dibuat oleh Yovie & Nuno di JCC. Malam itu di sana lewat Love Festival Yovie & Nuno memanggil kembali para "alumni" yang pernah mengisi formasi band sejak pertama kali dibentuk pada 2001. Maka bersandinglah lagi Yovie Widianto bersamaAudy, Gail, dan Dudy untuk menyertai Dikta dan Windura.
Audy adalah salah satu penyanyi tamu pada album Semua Bintang yang merupakan salam perkenalan Yovie & Nuno di belantika musik tanah air pada 2001. Pada …

Tentang Nh. Dini

Seorang teman ingin meminjam buku Nh. Dini beberapa hari lalu. Saya agak terkejut ia berminat membaca Dini karena selama ini ia lebih merupakan wakil dari kelompok penggemar buku-buku yang lebih “ngepop”.
Rupanya, teman saya penasaran dengan karya Nh. Dini. Ia belum pernah membaca karya Dini yang manapun dan ingin membacanya begitu tahu bahwa sang sastrawan wanita itu meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas pada 4 Desember 2018.
Saya lalu menawarkan “Gunung Ungaran”, novel Nh. Dini yang terbit pada 2018. Kebetulan saat itu saya masih sedang membaca Gunung Ungaran dan setelah selesai nanti saya bersedia meminjamkannya.

Saya sebenarnya agak terlambat mendapatkan Gunung Ungaran. Meskipun demikian, saya bersyukur bisa memilikinya. Apalagi mengingat tak lama setelah kepergian Nh. Diniuntuk selamanya, Gunung Ungaran tampaknya langsung diburu orang-orang dan segera menjadi karya yang istimewa karena itulah karya terakhir Nh. Dini.
Di sebuah toko buku pada suatu hari saya mendapati Gunung U…

KAHITNA dan Radio

"tak kusangka kita sama, tlah menyimpan getar cinta" Jumat, 1 Februari 2019, hujan turun lagi dan masih saja turun hingga malam. Di kamar saya sedang intim bersama sebuah buku yang sudah terbeli setahun kemarin, tapi baru sempat saya baca seminggu terakhir. Membaca buku di malam hari sambil tiduran adalah kegiatan santai yang saya senangi meski hal itu harus ditebus dengan mengorbankan kesehatan mata saya yang akhirnya mencapai minus tiga, kanan-kiri pula.
Pukul 20.05 keintiman saya dengan buku sejenak terhenti. Penyebabnya karena mendengar lagu yang judulnya Cerita Cinta dari siaran i-radio Jakarta. Siaran itu saya dengar melalui HP. Kebiasaan saya selain membaca adalah mendengarkan radio di HP pada malam hari. Biasanya siaran itu tidak saya matikan sampai pagi. Dalam kondisi demikian siaran radioseringkali menjadi pengantar tidur sekaligus alarm untuk bangun esok harinya.
Membaca buku selalu menyenangkan, tapi mendengarkan KAHITNA juga keasyikan yang lain. Maka demi keasyikan…

A Man Called BTP

Sepertinya baru kali ini di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ada seorang narapidana yang kebebasannya dari penjara sangat dinanti. 

Memang seorang Ariel pernah juga membuat para penggemarnya menginap di depan rutan, rela meninggalkan pekerjaan mereka demi menanti bebasnya sang idola. Namun, bebasnya Ariel tak punya faedah signifikan bagi pengharapan masyarakat, kecuali bagi acara infotainment yang memang suka mengurusi urusan orang lain. Sementara Ahok tanggal kebebasannya dari penjara menjadi hari penantian masyarakat negeri ini. 

Klaim “masyarakat negeri ini” mungkin berlebihan mengingat tidak semua orang menanti kebebasan Ahok, seperti halnya tidak semua orang suka padanya. Akan tetapi bukankah serentetan peristiwa, termasuk aksi “jutaan" massa “pembela agama” yang menggiring Ahok masuk ke dalam penjara pada Mei 2017 lalu juga merupakan peristiwa yang mengguncang negeri?
Sekarang bagaimana bisa bebasnya seorang penista agama dinanti dan disambut oleh banyak orang? Apa orang…

Gagu Menghadapi Intoleransi

Indonesia selalu diasosiasikan dengan kehidupan yang harmonis mengingat begitu beragamnya  negeri ini, tapi rakyatnya bisa hidup berdampingan. Pujian sebagai masyarakat yang toleran membuat orang Indonesia bangga.
Namun, begitu seringnya dijadikan percontohan negeri yang penuh toleransi justru membuat kita kehilangan kepekaan pada masalah intoleransi. Pengrusakan tempat ibadah, pembubaran kegiatan peribadatan, dan propaganda mengenai hari besar agama tertentu tidak dianggap sebagai masalah besar.Buktinya hal itu terus terjadi dan berulang seolah dibiarkan.
Memang sebagian besar negeri ini masih dinaungi nafas toleransi dan masih menikmati berkah serta rahmat kerukunan. Ada toleransi dari Sabang sampai Merauke. Tetapi di sana juga tidak sedikit saudara-saudara kita yang harus dicekam ketidaktenangan dalam beragama dan beribadah.
Intoleransi membayangi langkah mereka saat berjalan menuju kelenteng. Kecemasan menyeruak di pikiran kalau-kalau gereja mereka tiba-tiba didatangi massa yang memi…