Langsung ke konten utama

Postingan

Saat Indonesia Memaksa "Roda" China Berputar, Hasilnya Juara Piala Thomas!

“Hidup seperti roda, ada masa di atas, ada pula kalanya di bawah”. Begitulah sebuah pepatah bijak mengatakan. Maknanya ialah bahwa periode kehidupan mencakup siklus keberhasilan dan kegagalan, keberuntungan dan kesialan, kesenangan dan kepedihan, kemudahan dan kesulitan, dan seterusnya. Tak mungkin manusia merasakan kesenangan terus menerus. Ada kalanya seseorang merasa sedih. Tidak akan manusia selalu berhasil dalam pencapaiannya. Ada kalanya ia menjumpai kegagalan. Indonesia merebut Piala Thomas di Aarhus, Denmark pada 17 Oktober 2021 (foto: PBSI). Pepatah tersebut juga berlaku di dunia olahraga, termasuk bulutangkis. Ada masanya timnas dan atlet bulutangkis suatu negara berada dalam periode emas. Pada masa kejayaannya banyak prestasi, gelar, dan kejuaraan penting diraih. Pebulutangkis yang sedang dalam masa emas dan performa terbaiknya bisa tak terkalahkan untuk periode yang lama atau menduduki peringkat atas selama bertahun-tahun. Begitu mudah gelar juara direngkuh. Keberuntungan s
Postingan terbaru

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i

Batal Belanja karena Penjual Tak Percaya Corona

Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama hampir 2 tahun. Banyak korban serta kerugian telah ditimbulkan dan mungkin akan terus bertambah seiring waktu. Namun, anggapan keliru tentang virus Corona masih diyakini oleh sebagian masyarakat. Banyak orang tetap tidak percaya dan menganggap Covid-19 hanya omong kosong yang dibesar-besarkan. foto: Antaranews.com Sabtu dua pekan lalu sesuatu yang memprihatinkan saya alami. Di depan mata kepala saya seorang penjual buah memperlihatkan reaksi yang  keliru ketika sebuah mobil BPBD dan ambulance melintas di depan tempatnya berjualan.   Kios buahnya ada di pinggir jalan. Pagi itu sekitar pukul 08.00 saya mampir ke tempatnya berjualan untuk mencari pisang emas. Selain saya ada 2 orang pembeli lain yang kebetulan juga sedang memilih pisang. Sang penjual sendiri belum terlihat. Kemungkinan ia masih berada di dalam. Saya tak terlalu memikirkannya. Biarlah nanti kalau sudah menemukan pisang yang saya butuhkan, baru saya memanggil sang penjual untuk mema

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal

Diari Isoman 3: Diberi Steroid, padahal Gejala Ringan

Pasien Covid-19 yang bergejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri untuk membatasi penularan dan melakukan penyembuhan. Selama isolasi konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menghindari pasien Covid-19 mengkonsumsi obat secara jor-joran. Selama menjalani isolasi mandiri, saya mendapat paket obat gratis dari puskemas sebanyak 3 kali. Seorang bidan ditugasi oleh puskesmas untuk mengantarkannya. Seperti paket hantaran lainnya, obatan-obatan itu pun diletakkan di atas pagar. Dexamethasone (dok. pribadi).       Bidan pula yang memantau perkembangan kesehatan saya. Komunikasi kami dilakukan lewat whatsapp. Dari pemantauan itulah obatan-obatan untuk saya ditentukan. Misalnya, pada hari-hari pertama saya merasa meriang dan pegal-pegal. Saya pun mendapatkan parasetamol 500 mg, multivitamin dan vitamin C 50 mg. Multivitamin saya minum sekali dalam sehari. Sedangkan parasetamol saya minum hanya saat merasa meriang. Untuk kebutuhan vitamin C saya putuskan mengkonsumsi vitamin C 500 mg d

Diari Isoman 2: Malam Pertama Bersama Corona, "Tentara Semut" Menyerang Tenggorokan

Setelah tes swab antigen pada 26/7/2021 dan hasilnya dikirimkan ke perwakilan puskesmas, saya diberi tahu bahwa obatan-obatan untuk isoman akan dihantarkan esok harinya. Belum tahu obat apa yang hendak saya terima nanti. Namun, saya sudah memberi tahu gejala yang saya rasakan. Isolasi mandiri (dok. pribadi). Dengan bekal parasetamol 500 mg dan termometer saya memulai malam pertama bersama virus Corona. Saya beranjak tidur pukul 21.00. Sebelum itu saya membuat wedang jahe dan sereh lebih dulu. Ini bukan hal baru bagi saya. Semenjak kecil ibu sudah memperkenalkan saya dengan minuman jamu. Maka saya sudah terbiasa meminum ramuan tradisional seperti wedang jahe, wedang uwuh, wedang secang dan sejenisnya. Saya merasa minuman seperti wedang jahe dan sereh akan berguna untuk menyertai perang melawan Corona. Meski belum ada bukti ilmiah yang gamblang menerangkan khasiat ramuan tradisional ini untuk melawan Covid-19, paling tidak manfaat minuman tersebut sudah sering saya rasakan mampu membuat

Diari Isoman 1: Diendorse Covid-19

Senin, 26 Juli 2021. Saya bangun dengan merasakan sakit pada tenggorokan. Rasa sakitnya tidak biasa. Bukan seperti orang yang kehausan layaknya orang yang baru bangun tidur. Oleh karena punya riwayat kontak erat dengan orang positif Corona beberapa hari terakhir saya berpikir mungkin sekarang “tiba giliran saya”. Memulai isolasi mandiri (dok. pribadi). Sakit tenggorokan itu sebenarnya sudah hilang menjelang siang. Namun, gejala lain segera menggantikan. Badan mulai meriang. Merasa demam meski suhunya tidak lebih dari 37 derajat. Tungkai, terutama lutut terasa pegal dan tidak nyaman untuk digerakkan. Seperti baru melakukan lari jauh atau bersepeda kencang, tapi tidak berkeringat. Hanya lutut dan kaki serasa kelelahan. Keyakinan saya pun semakin kuat bahwa virus Corona telah berhasil menjebol pertahanan tubuh.  Peperangan awal antara antibodi vaksin Sinovac dengan virus mungkin sedang dimulai. Hal pertama yang saya pikirkan ialah melakukan tes secepatnya, entah swab antigen atau swab PCR