Langsung ke konten utama

Postingan

Sulitnya Mengajak Orang Pakai Masker

Minggu pagi (6/9/2020)  sembari bersepeda saya sempatkan membagikan masker kepada sembarang orang yang di jalan.  Tentu saja tidak semua yang tak bermasker saya hampiri. Semampunya saja karena tujuan bersepeda sambil melakukan sesuatu mengingat masih banyak orang yang meremehkan pandemi Covid-19.
Di sepanjang rute yang saya tempuh pagi itu, beberapa kali saya berhenti untuk menghampiri pengayuh becak, petugas parkir, petugas kebersihan, hingga penjual makanan. Merekalah yang saat itu saya jumpai tidak menggunakan masker.

Kepada setiap orang yang saya berikan masker, tak lupa saya titipkan pesan agar selanjutnya mereka selalu menggunakan alat pelindung tersebut. “Pakai masker terus ya, Pak. Biar bapak tetap sehat jadi bisa terus jualan”.

Begitulah yang saya sampaikan kepada seorang penjual makanan. Saat menerima masker yang saya berikan ia berkata lupa maskernya tertinggal di rumah.

Begitupun saat saya menghampiri seorang penjual lainnya yang usianya jauh lebih muda. Sebelum saya sampa…
Postingan terbaru

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana.Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan.

Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas.

Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi narasumber langgana…

Selamat Ulang Tahun, Cinta!

Sekarang, 24 Juni merupakan hari yang penuh arti. Hari ini pula saya melepas salah satu kepunyaan yang memiliki makna mendalam di hati.

Kepada seorang teman sore tadi saya menyerahkan sebuah laptop Presario yang sudah lama mati. Beberapa tahun lalu pada saat motherboard-nya divonis rusak, laptop ini sebenarnya masih mungkin diselamatkan. Saat itu di sebuah tempat perbaikan laptop yang cukup terkenal, tapi saya tak merekomendasikannya, sang teknisi mengatakan laptop ini bisa diperbaiki dengan biaya setidaknya 1,5 juta rupiah. Namun, ada catatannya. Yakni kemungkinan laptop itu bisa sembuh hanya 50%.

Menimbang peluang yang hanya separuh dan nilai uang yang perlu dikeluarkan, saya enggan bertaruh. Dengan berat saya memilih mengakhiri kisahnya.

Saya putuskan untuk tak memperbaikinya dan hanya meminta agar hardisknya dicabut sehingga saya bisa tetap memiliki segala data di dalamnya. Tentu saja bersama hardisk tersebut telah terekam banyak kenangan. Termasuk berbagai catatan tentang KAHITN…

Gudeg Mbah Sudarmi, Teladan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir menuntut semua orang untuk segera beradaptasi. Protokol kesehatan wajib dipatuhi. Selain untuk untuk kembali menggerakkan roda ekonomi, juga agar semua bisa lebih terlindungi. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sudarmi atau Mbah Darmi. Sebagaimana kebanyakan orang, nenek 63 tahun ini tak pernah menyangka akan menemui masa pandemi hebat dalam hidupnya.
Puluhan tahun menjajakan gudeg Mbah Darmi sudah menyaksikan banyak perubahan. Akan tetapi baru kali ini ia merasakan perubahan yang begitu besar dan cepat.
Pada awal Korona mewabah di Indonesia Mbah Darmi terpaksa berhenti berjualan selama hampir 2 pekan akibat sepinya pembeli. Setelah itu ia kembali menjajakan gudeh di Jalan Urip Sumaharjo, Kota Yogyakarta, tepat di sisi timur Hotel Tickle atau di sisi utara auditorium Lembaga Pendidik Perkebunan (LPP). Pembeli pun kembali berdatangan. Rasa gudeg Mbah Darmi memang istimewa. Seporsi gudegnya yang manis dan gurih di…

Pancasila Mengatasi Ideologi Agama

Hari ini kita memperingati kembali lahirnya Pancasila. Seperti diketahui bersama kelahiran Pancasila tak bisa dipisahkan dari sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945 di mana ada sekitar 39 pembicara yang menyampaikan gagasan dan konsep dasar negara Indonesia merdeka. Salah satunya ialah Ir. Soekarno. Ada pidato menarik dari Soekarno yang disampaikan dalam sidang 1 Juni 1945 tersebut. Berikut potongannya:
“Kita bersama-sama mencari persatuan Philosophische grandslag, mencari satu ‘Weltanshauung’ yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang Saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui,  yang saudara Lim Koen Hian, pendeknya kita semua mencari satu modus”.
Itulah sepenggal momen lahirnya Pancasila. Bukan proses yang pendek dan sederhana karena Soekarno sejak lama telah menggali, merintis, dan melakukan sintesis terhadap nilai-nilai dasar bangsa Indonesia.
Pidato Soekarno tersebut sangat penting untuk…

Hand Sanitizer Rp4000 dalam Kerangka "The New Normal" ala Presiden Jokowi

Minggu lalu ketika pergi ke minimarket untuk membeli air mineral dan buah, pandangan saya ikut tertuju pada rak yang terlihat lumayan istimewa. Saya katakan istimewa karena di atas rak tersebut berderet aneka hand sanitizer. Mungkin ada lebih dari empat merek yang saya temui malam itu.

Bentuknya pun bervariasi. Ada yang liquid dalam botol semprot, gel, bahkan tersedia juga kemasan refill volume 300 ml dari sebuah merek yang terkenal.
Harga semua hand sanitizer tersebut sudah jauh berbeda dengan apa yang kita jumpai satu atau dua bulan lalu di mana hand sanitizer menjadi produk langka berharga selangit. Sekarang hand sanitizer, paling tidak yang saya jumpai di minimarket tersebut, dijual dengan harga yang terjangkau. Mungkin mendekati harga semula sebelum masa pandemi Covid-19 terjadi.

Malah, ada satu merek yang harganya cukup murah. Satu botol hand sanitizer merek Nuvo saya dapatkan hanya seharga empat ribu rupiah lebih sedikit. Tepatnya Rp4300 untuk volume 50 ml.

Lumayan terkejut…

Agama dalam Sebotol Sirup

“Di hutan Purbasari tidak sendiri. Ia dikejutkan manusia kera yang terbuang, Lutung Kasarung”. Kalau hanya menyimak dialog di atas dan memaknainya secara harfiah pasti banyak orang mengira itu adalah potongan sandiwara atau film tentang pendekar. Begitu pun saya saat pertama kali melihat videonya melalui iklan di televisi. 
Mula-mula saya mengiranya sebagai iklan film kolosal karena latar hutan serta adegan-meloncat dan terbang mengesankan sebuah pertempuran. Apalagi, tokohnya Purbasari dan Lutung Kasarung berpakaian ala pendekar jaman dulu.
Namun, saat sekonyong-konyong terhidang sebotol sirup dan buah-buahan di tengah adegan saya baru mengerti ini iklan sirup. Lalu ketika pada detik ke-49 terdengar suara bedug dan kedua tokoh duduk berhadapan menikmati es buah diiringi narasi “paling nikmat saat berbuka, Marjan”, saya segera tersenyum. Ini bukan hanya iklan sirup. Ini Ramadan.
Sirup memiliki asosiasi yang sangat kental dengan Ramadan. Sirup dan Ramadan merupakan pasangan yang manis.…