Langsung ke konten utama

Postingan

Karena Pengumbar Kebencian dan Hoaks Tidak Puasa

Menjelang dan saat Ramadan banyak tokoh menyuarakan perlunya masyarakat berpuasa media sosial selama menjalankan ibadah puasa Ramadan. Anjuran ini dikaitkan dengan situasi politik saat Ramadan yang masih terpapar panasnya kontes politik pemilu 2019. Harapannya puasa media sosial bisa mendorong proses pendinginan suhu politik. Puasa media sosial sebenarnya memiliki konteks yang luas dan tidak terbatas pada kebutuhan menurunkan ketegangan politik. Puasa media sosial juga relevan untuk hal-hal lain, termasuk terkait dengan ibadah Ramadan sebagai ritual keagamaan. Dengan puasa media sosial orang yang berpuasa Ramadan bisa mengurangi potensi-potensi perbuatan yang mungkin merusak puasanya sehingga kualitas ibadah Ramadan menjadi lebih baik.
Meskipun demikian, puasa media sosial yang berorientasi untuk menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang lebih damai pasca pemilu memang sangat penting. Hari ini kita sedang dihadapkan pada tantangan dan kebutuhan mendesak, yaitu membangun lagi persatu…
Postingan terbaru

Pemilu 2019: Tragedi Saat Pesta

Belum ada wabah penyakit misterius di negeri ini yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir yang mampu merenggut banyak korban jiwa hanya dalam tempo sepekan. Akan tetapi pemilu serentak 2019 melakukannya. 

Tentang keterbelahan masyarakat yang begitu dalam, soal lontaran fitnah dan hoaks yang sangat beracun, penggunaan simbol-simbol agama untuk menyebar kebencian, semua itu tidak terlalu mengejutkan lagi. Paling tidak kita sudah ditunjukkan praktik permulaannya pada Pilkada DKI dan oleh karenanya kita sedikit banyak telah memiliki pengalaman subyektif serta kesiapan untuk menghadapinya.
Namun, bagaimana dengan wafatnya ratusan petugas KPPS dan ditambah belasan aparat keamanan itu? Kita benar-benar tidak pernah membayangkan akan ada ribuan orang yang ambruk saat pemilu. Hingga Kamis (25/4/2019) sebanyak 225 petugas penyelenggara pemilu meninggal dunia dan 1470 orang lainnya yang masih terbaring sakit.

Tak ada yang memperkirakan pemilu serentak 2019 akan memunculkan tragedi memilukan sepe…

Anatomi "Adu Rayu" yang Romantis untuk Jokowi dan Prabowo

Hari ini sebuah lagu sedang sering sekali diputar di radio. Lagu yang juga mungkin paling banyak disenandungkan orang-orang sekarang. Andai lagu ini muncul jauh-jauh hari, barangkali pemilu kita bisa lebih romantis, tidak penuh kebencian. Sebut lagu itu “Adu Rayu”.
Lirik lagu ini ditulis oleh Tulus untuk kemudian dinyanyikan bersama-sama dengan Glenn Fredly dengan kawalan musik  ramuan Yovie Widianto. Melihat ketiga nama tersebut, tak ada keraguan bahwa "Adu Rayu"telah mengunci satu slot dalam daftar lagu terbaik tahun ini.
Tentu saja “Adu Rayu” tidak berangkat dari pandangan politik tertentu. Kita bisa meyakini bahwa lagu ini dicipta dan kemudian disodorkan kepada kita tanpa kontaminasi politik. Ia lagu yang “tidak memihak”. Akan tetapi karena ketidakberpihakan itulah “Adu Rayu” memberi peluang untuk intrepretasi  yang berbeda dengan kesepakatan umum akan lagu tersebut.
Kisah “Adu Rayu” adalah permainan hati. Di sana ada satu pihak yang dalam dilema dan kebingungan memilih, tap…

Autobiografi Alex Ferguson Seharga Rp45

Hari sudah gelap ketika saya dapati sebuah paket teronggok di bawah pintu pada Senin (1/4/2019).  Melihat pembungkus dan plastik perekatnya segera saya tahu apa gerangan paket tersebut. Rupanya buku-buku dari Gramedia telah tiba. Selalu saja saya antusias ketika mendapat kiriman paket berisi buku. Apalagi kali ini paketnya spesial. Hasil keberuntungan mengikuti penjualan cepat dan diskon buku-buku Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Pada 25 Maret 2019 lalu Penerbit Gramedia Pustaka Utama merayakan HUT yang ke-45. Memeriahkan hari jadinya itu, GPU pun mengadakan berbagai promo dan diskon. Barangkali itu semacam bagi-bagi “kado” bagi pembaca setianya.
Salah satu yang menarik adalah penjualan cepat buku-buku terbitan GPUsecara daring dengan potongan harga besar-besaran. Penggemar buku bisa beradu cepat mendapatkan nya melalui situs web gramedia.com. Akan tetapi berdasarkan pengalaman belanja 4 kali saya masih kurang nyaman membeli buku di Gramedia.com. Untungnya promo HUT 45 Gramedia dan penjualan…

Bias Asa Karmila

Tidak banyak karya yang ditulis dan kemudian ditakdirkan untuk menjadi besar. Karmila adalah masterpiece bagi penulisnya sekaligus jadi tonggak bersejarah bagi penerbitnya, Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Saya masih ingat bagaimana menemukan Karmila di sudut ruangan sebuah toko buku pada 2010 silam. Saat itu sedang diadakan pameran buku dan sebagaimana lazimnya pameran buku, maka beberapa buku lama dikeluarkan dan dijual dengan harga lebih murah.
Karmila rupanya salah satu judul yang dijual "murah" ketika itu. Kalau tidak salah ingat saya membawanya pulang dengan hanya membayar Rp25.000. Harga yang sangat saya syukuri dan begitu selesai membacanya saya segera merasa sangat beruntung bisa mendapatkan karya besar ini. Dengan mudah saya menyukai Karmila dan dengan mudah pula saya jatuh hati pada karya-karya Marga T berikutnya. Sejak membaca Karmila saya kemudian berburu novel-novel Marga T lainnya. Maka hari ini di rak buku saya Karmila bersanding dengan beberapa judul lainnya, sebu…

Ketahuilah, Koruptor Itu Kafir!

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy menjadi member baru klub rompi oranye setelah tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Surabaya pada Jumat, 15 Maret 2019. Bersamanya turut dibekuk pejabat Kementerian Agama dari wilayah Jawa Timur. Mereka menjadi pesakitan atas dugaan suap dalam jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama.

Banyak narasi yang bisa kisa susun untuk menyampaikan serta memaknai peristiwa ini. Penangkapan Romy dengan sangat nyata memperlihatkan bahwa korupsi bisa “diamalkan” oleh siapa saja. Tak pandang apakah ia pejabat atau bukan. Tak peduli apakah ia seorang intelektual ataukah insan “beragama” yang senantiasa berpeci dan berkalung surban. Semua bisa menjelma sebagai koruptor.
Perilaku korups di Indonesia sudah mencapai taraf paling “maju" sedunia. Birokrasi dari tingkat RT hingga kementerian di pemerintahan pusat telah menjadi gelanggang praktik KKN. Tragisnya, kementerian urusan moral yang dihuni “orang-orang pali…