Langsung ke konten utama

Postingan

Generasi Baru Teroris Indonesia: Muda, Galau, dan Berbahaya

Jika kami bersama nyalakan tanda bahaya/jika kami berpesta hening akan terpecah/aku dia dan mereka memang gila memang beda. Teroris penyerang Mabes Polri (dok. Ivany Atina Arbi). Saya senang sekali dengan lagu yang petikannya saya sebut di atas. Superman Is Dead dan Shaggy Dog yang membawakannya. Judulnya “Jika Kami Bersama”. Beberapa tahun lampau ketika lagu itu pertama kali diperdengarkan, banyak kaum muda segera menjadikannya sebagai lagu bersama. Dinyanyikan keras-keras maupun lirih-lirih, lagu itu tetap punya energi yang sama. Sementara pesannya sudah sangat jelas sejak awal lagu dibuka. Tersurat dalam liriknya yang mudah dicerna. Yakni tentang persatuan. Misalnya, kata-kata “nyalakan tanda bahaya” merupakan ungkapan bahwa kekuatan besar bisa diciptakan lewat persatuan. Oleh karena itu saya mohon maaf karena sekarang harus memotong atau mengambil sebagian liriknya untuk menggambarkan bagaimana fenomena teroris milenial di Indonesia. Tentu lagu ini tidak dilatarbelakangi dan juga t
Postingan terbaru

SUPERSEMAR, Kudeta Paling Canggih dan Keji oleh Soeharto

Runtuhnya orde baru pada 1998 telah membuka gerbang penelusuran sejarah Indonesia secara lebih terang. Pengungkapan fakta sejarah yang selama puluhan tahun ditutupi dan dimanipulasi oleh Soeharto gencar dilakukan. Para sejarawan, peneliti, saksi sejarah , hingga media bekerja keras meluruskan narasi sejarah yang sebelumnya dikuasai dan dikendalikan oleh rezim orde baru yang otoriter. Sampul depan "Supersemar" yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (dok. pri). Salah satu peristiwa penting yang terungkap secara lebih terang ialah Surat Perintah Sebelas Maret 1966 atau “Supersemar”. Walau beberapa hal tentang Supersemar masih menjadi misteri, fakta-fakta Supersemar kini terangkai dalam narasi yang lebih mendekati sebenarnya dibanding narasi versi orde baru. Malam 11 Maret Memanfaatkan kecerdikannya sebagai ahli strategi militer, Soeharto merancang kudeta paling canggih dan keji. Ia diyakini mulai menjalankan strategi kudeta lewat peristiwa G30S-PKI. Penelusuran sejarah pasca orde

Merayakan Kebersamaan Sains dan Agama

"Beragama dengan penuh wawasan dan berpengetahuan dalam keimanan". Begitulah saya memaknai saripati buku SAINS "RELIGIUS, AGAMA "SAINTIFIK" ini. Sebab ternyata memang demikianlah seharusnya sains dan agama perlu dirayakan dalam satu pelukan atau dekapan hangat secara bersama-sama. Bukan dipertentangkan layaknya dua kubu antara yang “benar” dan “salah”. Jika agama benar, maka sains berarti kafir. Atau sebaliknya, jika sains valid, maka agama sebaiknya ditinggalkan. Bukan seperti itu. Merayakan kebersamaan sains dan agama (dok. pri). Akan tetapi fenomena pertentangan antara sains dan agama tak bisa diingkari terus ada sampai detik ini. Perdebatannya tiada henti seolah keduanya musuh bebuyutan. Ada kelompok agama yang menyerukan bahwa hanya agama yang layak dipercaya sebagai asal kebenaran dan tidak ada sumber pengetahuan selain agama. Sementara sains dianggap sebagai bentuk kekafiran yang harus dihindari. Di sisi lain, para pemuja sains bersemangat menyombongkan

Pandji Pragiwaksono dan Obsesinya Menjadi Juru Bicara FPI

  Pandji Pragiwaksono (foto: kompas.com). Menjadi juru bicara merupakan salah satu obsesi terbesar Pandji Pragiwaksono. Bahkan pada sebuah kesempatan ia mengaku menyimpan angan dan cita-cita sebagai juru bicara presiden. Tentu saja itu bukan angan yang berlebihan. Sebab jika kelak Pak Anies Baswedan berhasil menjadi RI1, Bang Pandji pastilah salah satu kandidat utama juru bicara presiden. Apalagi Bang Pandji sudah memiliki portofolio sebagai juru bicara dan juru kampanye Pak Anies ketika pilkada DKI pada 2017 silam. Hasrat sebagai juru bicara juga terpancar dalam buku “Juru Bicara” yang ditulis Bang Pandji beberapa tahun silam. Selain judul buku, Bang Pandji juga menjadikan “Juru Bicara” sebagai nama tur pentas stand up comedy yang diselenggarakannya di sejumlah kota hingga mancanegara. Artinya, menjadi seorang juru bicara merupakan passion terbesar Bang Pandji. Menjadi penyambung lidah merupakan hasrat yang ditanamkannya secara kuat sampai ke relung jiwa. Maka dari itu, tak terlalu me

Bencana dan Orang Indonesia yang Gemar Membawa-bawa Agama dan Ulama

Rentetan bencana alam yang terjadi silih berganti dalam dua pekan pertama 2021 menyentak kita sebagai bangsa. Gempa bumi dahsyat, letusan gunung berapi, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, laut pasang, hingga ancaman tsunami bukanlah dongeng di negeri ini. Sebagai negeri yang sangat rawan bencana, Indonesia tak bisa mengelak dari kejadian bencana alam. Lempeng-lempeng benua yang terus bergerak aktif di bawah kerak bumi Indonesia, pengaruh letak geografis, dampak perubahan iklim global, serta sikap dan budaya masyarakatnya telah membuat bencana sebagai konsekuensi dan keniscayaan yang tak bisa kita hindari. Erupsi Merapi pada 17 Januari 2021 (foto: Antara). Salah Kaprah Relasi Agama, Takdir, dan Bencana Pada setiap kejadian bencana alam selalu terlihat representasi mental masyarakat. Dalam hal ini ada paradoks dalam pemaknaan bencana oleh masyarakat Indonesia.  Sebagian masyarakat memaknai bencana alam secara obyektif dengan sudut pandang ilmu pengetahuan beserta aspek-aspek

"Vaksin Corona Gratis" vs "Aman Semu"

Di tengah rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk mematuhi protokol kesehatan, ekspektasi terhadap vaksin Covid-19 harus dikendalikan. Komunikasi dan sosialisasi disertai glorifikasi berlebihan akan menimbulkan rasa “aman semu”. Kondisi demikian bisa memperburuk pandemi di Indonesia yang belum terkendali. (dok. hendra wardhana) Vaksin gratis untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali seperti yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (16/8/2020) patut disyukuri. Mengingat sebelumnya pemerintah berencana hanya akan menyuntikkan vaksin gratis kepada sebagian kecil penduduk. Sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia yang ingin divaksin harus membayar sendiri. Memastikan semua rakyat mendapatkan vaksin di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan adalah bentuk pemenuhan tanggung jawab negara terhadap amanat UUD 1945 yang menjamin setiap warga berhak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya. Menggratiskan vaksin juga bisa mengikis keengganan masyarakat untuk divaksin meng

Berkat Habib, Aparat Kita Jadi Aktif, Ya Bun...

Seminggu terakhir kita disuguhi parade penegakan hukum yang jarang terjadi di Indonesia. Dari lurah sampai gubernur diperiksa polisi secara maraton selama berjam-jam. Dua kapolda kehilangan jabatan dan jajaran di bawahnya terkena perombakan. Sejumlah pejabat ikut terseret. Sementara yang lainnya bergantian tampil di media seolah memperlihatkan keberanian. Spanduk habib dibabat aparat (foto: kompas) Agak luar biasa mengetahui bahwa semuanya dipicu serta diawali oleh satu orang dengan satu rentetan peristiwa yang dimulai pada 10 November dan berpusat di Petamburan. Bagaimana bisa satu orang dengan acara hajatannya sanggup memicu parade penegakkan hukum? Faktanya memang demikian. Langkah penegakkan hukum tersebut tentu layak diapresiasi. Masyarakat mendukung upaya negara dan aparat yang kali ini memperlihatkan nyalinya di hadapan kelompok-kelompok yang memiliki passion keonaran dan merongrong keutuhan negara. Paling tidak itu memperlihatkan bahwa kita masih memiliki perangkat-perangkat pe