Langsung ke konten utama

Postingan

"Jangkau" dan Tren Filantropi yang Tumbuh di Indonesia

Ada banyak jalan untuk mengulurkan tangan. Ada banyak cara untuk menjadi dermawan. Gairah baru filantropi memberi kesempatan bagi setiap orang untuk terlibat dalam misi kebaikan dengan berbagai cara.
Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok meluncurkan aplikasi bernama “Jangkau” pada awal Agustus 2019. Aplikasi yang dijalankan di perangkat mobile dan smartphone ini bertujuan untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan, terutama kalangan rakyat miskin dan lansia.
Jangkau mempertemukan mereka yang membutuhkan bantuan dengan orang-orang yang ingin membantu. Pada masa awal Jangkau masih terbatas mengelola sumbangan berupa barang, terutama barang kebutuhan lansia. Namun, ini hanya embrio. Artinya Jangkau akan dikembangkan lebih luas lagi.
Jangkau dan Humanisme Ahok Jangkau bersemi dari dalam penjara. Hasil pendalaman Ahok terhadap masih adanya orang-orang yang menghendaki bantuannya saat ia ditahan. Di sisi lain ia bukan siapa-siapa lagi. Bukan lagi pejabat dan tak mem…
Postingan terbaru

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

Ulama Penebar Kebencian Seperti Gembala yang Lepas

Hari ini kita hidup dan menjalani kehidupan dalam peradaban modern di mana kemajemukan menjadi corak utama. Kemajemukan tidak bisa kita tolak atau singkirkan. Kita hanya mungkin menghindarinya jika bisa memaksa Tuhan untuk tidak melahirkan kita ke dunia atau meyakinkan Tuhan agar hanya menciptakan segalanya sesuai keinginan kita. 
Akan tetapi siapa kita sampai berani dan bisa memaksa Tuhan? Di tengah kehidupan yang majemuk kita pun menghadapi permasalahan utama yang sama mengenai agama. Inti permasalahannya ialah sejauh mana umat beragama yang majemuk, terutama di Indonesia, mampu membangun dan mengembangkan sebuah peradaban yang indah dan kuat?
Kadang saya disergap rasa keraguan tentang peradaban yang indah itu. Bukan pesimis atau membayangkan Indonesia akan gagal mencapai tingkat peradaban yang tinggi. Bayangan tentang peradaban bangsa yang kuat dan penuh kedamaian serta kesantunan ada di ujung penglihatan. Akan tetapi masih agak jauh untuk bisa menjumpai rupa peradaban tersebut hadir …

Merayakan Hari Sate Kambing Nasional

Kemarin, Minggu (11 Agustus 2019) adalah “Hari Sate Kambing Nasional”. Memang kita tidak akan menemukannya tercetak di kalender nasional. Namun, bukan berarti itu tidak ada.
“Hari Sate Kambing Nasional” merupakan kesepakatan alam bawah sadar kita saat Hari Raya Iduladha tiba. Hari ketika sate kambing melintas di pikiran banyak orang.

Saya hampir yakin bahwa pada Idul Adha kebanyakan orang Indonesia memikirkan dan lalu memutuskan untuk mengolah daging kambing menjadi sate dibanding jenis olahan lainnya. Siapa pun boleh memikirkan gulai dengan kuah yang gurih. Sah juga membayangkan tongseng berkuah manis pedas. Atau berencana mengamalkan resep lain. Namun, pada akhirnya yang kita jumpai di depan mata adalah sate kambing.
Memori otak kita merekam dengan baik selama bertahun-tahun kata “sate” atau “satai” dalam ejaan bakunya. Sensasi dan kenikmatan yang kita dapatkan setiap kali menyantap sate telah memperkuat algoritma khusus di dalam tubuh yang menentukan nasfu dan selera makan kita. Hanya…

Metro TV: Melepas Ahok, Memeluk Anies

Pendulum politik Indonesia terus berubah dengan gerak yang tak tertebak. Kini seketika arahnya berganti haluan 180 derajat. Nasdem memeluk erat Anies Baswedan. Siap membawa sang bekas menteri ke tahta 2024. Narasi pemberitaan TV pun siap berganti. Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Rabu, 24 Juli 2019. Dikemas sebagai silaturahmi dan makan siang, pertemuan itu diakhiri dengan beberapa “testimoni” dan “deklarasi”. Nasdem dan Surya Paloh menyatakan mendukung Anies Baswedan menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI sekaligus berniat mengusung sang gubernur sebagai calon presiden pada 2024.
Belum jelas benar apakah pertemuan Surya Paloh dengan Anies Baswedan memiliki kaitandengan makan siang Megawati dengan Prabowo di tempat terpisah? Jika ada kaitannya, apakah manuver Surya Paloh yang “menikung Anies" dari Prabowo merupakan respon negatif dari dinamika persaingan perebutan kursi menteri di kabinet Jokowi-Maruf? Nasdem dan sejuml…