Langsung ke konten utama

Postingan

Dari Pinangki Kita Belajar Waktu Paling Mulia untuk Korupsi

Mantan Jaksa Pinangki Sirna Malasari, “partner in crime” koruptor kakap Joko Tjandra baru saja mendapat berkah kemuliaan. Sebab Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memotong hukumannya atas kasus penerimaan suap, permufakatan jahat, dan pencucian uang dari semula 10 tahun menjadi hanya  4 tahun. Masyarakat Indonesia sebaiknya tak perlu terkejut. Jangan heran atas kenyataan tersebut. Bukankah ini wajar di negara kita? Pinangki (foto: ANTARA/Sigid Kurniawan) Pinangki hanya satu dari populasi besar koruptor yang dilimpahi berkah kemurahan hukum Indonesia. Dihukum ringan atau mendapatkan diskon hukuman besar-besaran sudah menjadi bagian dari keistimewaan koruptor di Indonesia. Tak peduli meski Muhammadiyah dan NU sudah menetapkan koruptor sebagai kafir dan kejahatan korupsi tidak terampuni, tapi hukum di Indonesia merupakan yang paling murah hati di dunia. Melakukan korupsi di Indonesia tidak terlalu buruk. Ada banyak jalan dan cara bagi koruptor untuk menjadi mulia. Seorang koruptor di Indonesia
Postingan terbaru

Pecel Lele Rp37.000, Orang Miskin Dilarang Jajan di Malioboro?

Seorang wisatawan belum lama ini membagikan pengalaman kulinernya di Yogyakarta. Lewat media sosial ia mengeluhkan harga pecel lele yang sangat mahal di Malioboro. Dianggap merugikan reputasi Malioboro dan PKL di tempat tersebut, Paguyuban Lesehan Malioboro berencana menuntut sang wisatawan. Sebab kejadiannya dinilai bukan di Malioboro, tapi di “sirip Malioboro”. Sebenarnya sudah kerap hal ini terjadi. Yakni pengalaman wisatawan yang merasa kena “getok harga” saat jajan di Malioboro. Malioboro (dok. pribadi). Sekarang tentang pecel lele yang dianggap overprice karena setiap komponennya, mulai dari nasi, lele, dan lalapan dihargai cukup tinggi. Pro dan kontra bermunculan. Aspek yang diperdebatkan bukan hanya harganya yang Rp37.000, tapi juga sikap pembeli dan penjualnya. Berbagai sudut pandang menjadi landasan argumentasi. Ada yang menganggap harga Rp37000 tidak terlalu mahal dengan menimbang status dan gengsi Malioboro sebagai ikon wisata terbesar di Yogyakarta. Sedangkan sebagian oran

Generasi Baru Teroris Indonesia: Muda, Galau, dan Berbahaya

Jika kami bersama nyalakan tanda bahaya/jika kami berpesta hening akan terpecah/aku dia dan mereka memang gila memang beda. Teroris penyerang Mabes Polri (dok. Ivany Atina Arbi). Saya senang sekali dengan lagu yang petikannya saya sebut di atas. Superman Is Dead dan Shaggy Dog yang membawakannya. Judulnya “Jika Kami Bersama”. Beberapa tahun lampau ketika lagu itu pertama kali diperdengarkan, banyak kaum muda segera menjadikannya sebagai lagu bersama. Dinyanyikan keras-keras maupun lirih-lirih, lagu itu tetap punya energi yang sama. Sementara pesannya sudah sangat jelas sejak awal lagu dibuka. Tersurat dalam liriknya yang mudah dicerna. Yakni tentang persatuan. Misalnya, kata-kata “nyalakan tanda bahaya” merupakan ungkapan bahwa kekuatan besar bisa diciptakan lewat persatuan. Oleh karena itu saya mohon maaf karena sekarang harus memotong atau mengambil sebagian liriknya untuk menggambarkan bagaimana fenomena teroris milenial di Indonesia. Tentu lagu ini tidak dilatarbelakangi dan juga t

SUPERSEMAR, Kudeta Paling Canggih dan Keji oleh Soeharto

Runtuhnya orde baru pada 1998 telah membuka gerbang penelusuran sejarah Indonesia secara lebih terang. Pengungkapan fakta sejarah yang selama puluhan tahun ditutupi dan dimanipulasi oleh Soeharto gencar dilakukan. Para sejarawan, peneliti, saksi sejarah , hingga media bekerja keras meluruskan narasi sejarah yang sebelumnya dikuasai dan dikendalikan oleh rezim orde baru yang otoriter. Sampul depan "Supersemar" yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (dok. pri). Salah satu peristiwa penting yang terungkap secara lebih terang ialah Surat Perintah Sebelas Maret 1966 atau “Supersemar”. Walau beberapa hal tentang Supersemar masih menjadi misteri, fakta-fakta Supersemar kini terangkai dalam narasi yang lebih mendekati sebenarnya dibanding narasi versi orde baru. Malam 11 Maret Memanfaatkan kecerdikannya sebagai ahli strategi militer, Soeharto merancang kudeta paling canggih dan keji. Ia diyakini mulai menjalankan strategi kudeta lewat peristiwa G30S-PKI. Penelusuran sejarah pasca orde

Merayakan Kebersamaan Sains dan Agama

"Beragama dengan penuh wawasan dan berpengetahuan dalam keimanan". Begitulah saya memaknai saripati buku SAINS "RELIGIUS, AGAMA "SAINTIFIK" ini. Sebab ternyata memang demikianlah seharusnya sains dan agama perlu dirayakan dalam satu pelukan atau dekapan hangat secara bersama-sama. Bukan dipertentangkan layaknya dua kubu antara yang “benar” dan “salah”. Jika agama benar, maka sains berarti kafir. Atau sebaliknya, jika sains valid, maka agama sebaiknya ditinggalkan. Bukan seperti itu. Merayakan kebersamaan sains dan agama (dok. pri). Akan tetapi fenomena pertentangan antara sains dan agama tak bisa diingkari terus ada sampai detik ini. Perdebatannya tiada henti seolah keduanya musuh bebuyutan. Ada kelompok agama yang menyerukan bahwa hanya agama yang layak dipercaya sebagai asal kebenaran dan tidak ada sumber pengetahuan selain agama. Sementara sains dianggap sebagai bentuk kekafiran yang harus dihindari. Di sisi lain, para pemuja sains bersemangat menyombongkan

Pandji Pragiwaksono dan Obsesinya Menjadi Juru Bicara FPI

  Pandji Pragiwaksono (foto: kompas.com). Menjadi juru bicara merupakan salah satu obsesi terbesar Pandji Pragiwaksono. Bahkan pada sebuah kesempatan ia mengaku menyimpan angan dan cita-cita sebagai juru bicara presiden. Tentu saja itu bukan angan yang berlebihan. Sebab jika kelak Pak Anies Baswedan berhasil menjadi RI1, Bang Pandji pastilah salah satu kandidat utama juru bicara presiden. Apalagi Bang Pandji sudah memiliki portofolio sebagai juru bicara dan juru kampanye Pak Anies ketika pilkada DKI pada 2017 silam. Hasrat sebagai juru bicara juga terpancar dalam buku “Juru Bicara” yang ditulis Bang Pandji beberapa tahun silam. Selain judul buku, Bang Pandji juga menjadikan “Juru Bicara” sebagai nama tur pentas stand up comedy yang diselenggarakannya di sejumlah kota hingga mancanegara. Artinya, menjadi seorang juru bicara merupakan passion terbesar Bang Pandji. Menjadi penyambung lidah merupakan hasrat yang ditanamkannya secara kuat sampai ke relung jiwa. Maka dari itu, tak terlalu me

Bencana dan Orang Indonesia yang Gemar Membawa-bawa Agama dan Ulama

Rentetan bencana alam yang terjadi silih berganti dalam dua pekan pertama 2021 menyentak kita sebagai bangsa. Gempa bumi dahsyat, letusan gunung berapi, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, laut pasang, hingga ancaman tsunami bukanlah dongeng di negeri ini. Sebagai negeri yang sangat rawan bencana, Indonesia tak bisa mengelak dari kejadian bencana alam. Lempeng-lempeng benua yang terus bergerak aktif di bawah kerak bumi Indonesia, pengaruh letak geografis, dampak perubahan iklim global, serta sikap dan budaya masyarakatnya telah membuat bencana sebagai konsekuensi dan keniscayaan yang tak bisa kita hindari. Erupsi Merapi pada 17 Januari 2021 (foto: Antara). Salah Kaprah Relasi Agama, Takdir, dan Bencana Pada setiap kejadian bencana alam selalu terlihat representasi mental masyarakat. Dalam hal ini ada paradoks dalam pemaknaan bencana oleh masyarakat Indonesia.  Sebagian masyarakat memaknai bencana alam secara obyektif dengan sudut pandang ilmu pengetahuan beserta aspek-aspek