"Saksi Mata" karya Seno Gumira Ajidarma (dok. pribadi). Apa bedanya tentara dan teroris jika sama-sama menebar ketakutan, menculik, dan menghilangkan nyawa orang? Wajah suatu rezim bisa dilihat dari wajah militernya. Sayangnya, wajah militer seringkali pekat dengan kekerasan dan kesewenang-wenangan. Tentara seolah tak punya cara dan bahasa lain saat menghadapi rakyat, kecuali dengan cara dan bahasa kekerasan. Begitulah “Saksi Mata” ingin bersuara. Lewat 16 cerita Seno Gumira Ajidarma memaparkan bagaimana kemanusiaan dihancurkan oleh sepatu dan senapan para tentara Indonesia dalam salah satu tragedi paling berdarah di Timor-timur. Lalu masyarakat yang berjuang memulihkan harkatnya sebagai manusia, walau tidak mudah dan berliku, terus menerus dibayangi rasa takut. Sebagai seorang jurnalis, Seno tidak sekadar menyaksikan dan merekam konflik yang terjadi. Perangai jumawa para tentara yang merupakan cerminan keangkuhan rezim orde baru turut ia rasakan ...
“Manusia bakal lenyap suatu ketika, jadi jangan pernah menyia-nyiakan hidup dengan bungkam” "Dari Dalam Kubu" karya Soe Tjen Marching (dok. pribadi). Pernahkah kita membayangkan sebagai manusia dan keluarga yang ditakdirkan untuk menyaksikan dan mengalami kekejian demi kekejian di luar batas kemanusiaan? Mulai dari penjajahan Belanda, G30S 1965, pembantaian rakyat tak berdosa, diskriminasi ras, kekejaman militer, hingga tragedi Mei 98. Begitulah “Dari Dalam Kubur” meriwayatkan kisah Karla dan keluarganya yang keturunan Tionghoa. Ia menyaksikan pada Mei 1998 para pria berbadan tegap dan berambut cepak menghambur di sudut-sudut kota Jakarta. Tak lama kemudian terjadi pembakaran, penjarahan dan pengrusakan tempat-tempat milik orang Tionghoa. Berbarengan dengan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap wanita-wanita dari keluarga Tionghoa. Alurnya kemudian mundur melalui misteri yang terkuak setelah ibunya meninggal. Seolah dari dalam kubur sang ibu ...