Langsung ke konten utama

Postingan

Angkutan Umum, Helm Ojol, dan Pandemi Corona

Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) telah menyatakan wabah Covid-19 sebagai pandemi para 11 Maret 2020. Dunia diharapkan semakin waspada dengan memaksimalkan penanganan Covid-19 melalui berbagai cara.
Salah satu yang mendasari penetapan pandemi ialah penyebaran Covid-19 yang telah merambah lebih dari 110 negara dengan lebih dari 100.000 kasus.Sementara itu kasus positif Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Sejak pertama kali diumumkan dua pasien mengidap Corona pada 2 Maret 2020 lalu, kini jumlah pasien positif yang dirawat mencapai 69 orang.
Oleh karena itu, 5 Protokol Penanganan Covid-19 yang dikeluarkan oleh pemerintah pada 6 Maret 2020 penting untuk dipahami dan diterapkan oleh seluruh pihak. Protokol merupakan bagian dari sistem penyangga dalam upaya menjaga keselamatan dan kesehatan diri serta lingkungan guna membatasi penyebaran Covid-19. *** Satu dari 5 protokol tersebut merupakan panduan untuk area dan transportasi publik. Panduan ditujukan kepada seluruh pihak, terutama pengelola/…
Postingan terbaru

Studi Alvara: Mayoritas Muslim Indonesia Dukung Pemimpin Nonmuslim dan Tolak Khilafah

Agama merupakan unsur penting dalam hidup dan kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi kebanyakan masyarakat negeri ini, agama menjadi pijakan utama dalam kehidupan. Itu sebabnya masyarakat Indonesia dikenal sangat relijius. Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia, di mana 87% penduduk Indonesia beragama Islam, maka semangat keagamaan, praktik keagamaan dan pandangan-pandangan umat Islam Indonesia selalu menarik untuk dikaji.
Pada 12 Januari 2020 Alvara Research Center mempublikasikan laporan survei terkini tentang umat Islam Indonesia yang diberi judul: ”Indonesia Moslem Report 2019: The Challenges of Indonesia Moderate Moslems”. Survei tersebut merupakan studi kuantitatif yang memiliki beberapa tujuan. Di antaranyamenentukan tingkat moderasi keagamaan umat Islam Indonesia dan mengidentifikasi pandangan keagamaan umat Islam Indonesia tentang hubungan agama dan negara serta isu-isu sosial lainnya.
Studi yang dilakukan dengan mewancarai 1.567 responden di 34 provinsi s…

Purbalingga Food Center: Becek, Lembab dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center.Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.
Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km.
Pada 11 & 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.
Ada rasa penasaran yang menggerakkan saya melongok Purbalingga Food Center. P…

Dawet Mbah Hari di Pasar Beringharjo, Segar Sejak 1965

Berjalan dari Stasiun Besar Yogyakarta alias Stasiun Tugu ke Pasar Beringharjo pada Sabtu (21/12/2019) ternyata sedikit melelahkan dari biasanya. Padahal sudah sering kaki melangkah menyusur jarak yang lebih jauh lagi. Akan tetapi rupanya kala itu sedikit berbeda kondisinya. Selain perut belum terisi makanan berat, juga karena hawa cukup gerah. Langit yang sempat terlihat teduh ternyata bukan berarti tak mengundang peluh.
Menginjak Pasar Beringharjo sekitar pukul 10.00 saya segera menyasar lantai bawah yang menjadi gudang batik aneka rupa. Maksud hati ingin melihat-lihat kemeja batik untuk menggantikan sebuah kemeja lama yang sudahmenciut. Selain itu hendak membeli geplak dan dodol titipan orang rumah.
Baru lima belas menit berburu batik, saya memutuskan menepi. Sejenak keluar memisahkan diri dari kerumunan pengunjung pasar yang sama-sama tergila-gila pada batik. Sebabnya peluh dan keringat di kening terus menetes meski sudah berulang kali disapu. Misi mencari batik dan oleh-oleh ditunda …

Laris Manis Buku Bajakan, Moralitas yang Rusak di "Car Free Day" dan "Marketplace" Indonesia

Minggu, 20 Oktober 2019, untuk kesekian kalinya saya berjalan-jalan di Car Free Day (CFD) Kota Solo, Jawa Tengah. Bagi saya CFD Solo yang membentang di Jalan Slamet Riyadi adalah salah satu CFD ternyaman di Indonesia.
Saya selalu merasa segar dan antusias menyusuri kawasan ini pada Minggu pagi. Meski sepanjang itu pula saya harus menjumpai satu potret yang memprihantinkan. Di depan sebuah hotel, menempati ruas trotoar yang lebar, tergelar sebuah lapak buku. Ada banyak buku dari penulis terkenal, best seller, hingga judul-judul terbaru yang dijajakan.
Tak jarang ada pengunjung CFD yang tertarik kemudian menghampiri. Tentu saja jika ada kecocokan, transaksi jual beli bisa terjadi dan buku pun berpindah tangan.
Buku Bajakan di Ruang Publik Lalu apa yang memprihatinkan dari pemandangan semacam itu? Bukankah hal bagus ada penjual buku di ruang publik seperti CFD yang bisa menarik pembeli?
Memang semestinya demikian. Masalahnya, buku-buku yang dijual adalah buku bajakan. Tidak sulit untuk menila…