Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

ROKOK dan Sesak Nafas Masa Depan Indonesia

Mau dikatakan apalagi, asap rokok sudah menjadi bagian penyusun “atmosfer” udara di hampir semua ruang sudut negeri ini. Industri rokok telah menjadi raja yang dibela oleh banyak kepentingan yang sudah memuja dan kecanduan terhadapnya. Banyak pemerintah daerah yang enggan melindungi warganya karena industri rokok telah berbaik hati menyumbang pendapatan asli daerah yang tak sedikit. Pun demikian dengan pemerintah pusat selaku wakil negara masih seperempat hati melindungi masa depan bangsa dan generasi mudanya dari racun bernama rokok. Memang harus diakui mereka sang produsen rokok dengan segala jaringan bisnisnya juga telah berperan  dalam beberapa hal seperti penyelenggaraan olahraga, industri kreatif dan pendidikan. Namun itu sama sekali tak menunjukkan jika rokok adalah barang yang bermanfaat. Tanpa bermaksud meniadakan kontribusi industri rokok dalam berbagai hal, kita semua perlu untuk membuka mata bahwa terlalu besar masa depan bangsa yang dipertaruhkan jika rokok masih saja dib…

PURBALINGGA dalam bingkai 2 DIMENSI

Dari Panglima Besar Republik Indonesia, Jendral Sudirman, lalu sosok kanibal nan kontroversial, Sumanto si Pemakan Jenazah, dan kini kota kecil ini kembali melahirkan pemimpin Jawa Tengah, sang wakil Gubernur. 
Selamat Datang di Purbalingga
Di bawah keagungan Gunung Slamet inilah Purbalingga berdiri sebagai sebuah kota kecil berhawa sejuk yang kini sedang berbenah dan membangun wajahnya.

Alun-Alun Purbalingga. Tanpa banyak gedung besar di tepiannya, Landmark pusat kota ini tampak luang dan cantik.

Datanglah Minggu pagi, akan ada banyak pedagang menggelar pasar tumpah di Alun-Alun kota. Beberapa penjual jajanan dan kuliner tradisional juga bisa dijumpai.




Tugu Knalpot di sudut kota Purbalingga mengingatkan semua yang melewatinya jika inilah kota kecil yang menjadi sentra knalpot bermutu nomor 1 di Indonesia sekaligus rumah bagi penghasil rambut dan bulu mata palsu terbaik dengan kualitas dunia. This is Purbalingga.

GUNUNG API PURBA Nglanggeran

ada getar saat ku menatapmu ada di sana, ku yakini hati kecilku tak akan pernah salah...
langit luas terhampar membentang cakrawala itulah persadaku permata khatulistiwa


ada hati yang termanis dan penuh cinta tentu saja kan kubalas seisi jiwa

nana na nana naa.....

SEPEDA-SEPEDA TUA yang MELAWAN ANGKUHNYA ZAMAN

"Sedetik saya memandanginya, kemeja birunya juga sepeda tuanya. Lalu, maaf Pak, saya foto ya... "
 "Saya hanya perlu duduk sebentar di atas aspal berdebu.  Itu jelas tak seberapa dibanding dengan jumlah langkah kaki sang ibu. Seberapa jauh ia mengayuh sepeda, sebuah caping menjadi teman dan roda tua penuh karat seolah bicara tentangnya yang tak ingin menyerah pada zaman"
 "Zaman ini memang sudah menjadi sangat modern bahkan terkadang menjadi kanibal bagi sesama terutama mereka yang tak jua beranjak mengikuti kemajuannya. Tapi tidak bagi mereka dan sepeda tuanya"
"Entah apa yang dikejar olehnya di bawah hujan. Tapi kayuh kakinya yang tergesa-gesa jelas berkata bahwa ia tak ingin terlambat menjemput istrinya pulang dari pasar"

AKU TAHU...

"Bukan aku tidak tahu. Aku tahu apa yang kamu simpan di balik wajah sayumu saat itu. Juga beberapa cerita yang kudengar. Tapi aku juga tak memikirkan. Bagiku, ada hal lain yang lebih berarti"

Tapi adakah ku salah duga menilai sikapmu? "orang yang gemar membuat perjumpaan semestinya bisa menghargai perasaan, berani berpamitan dan bukan selalu pergi tanpa pesan..."

KEMBALIKAN PASAR KAMI!! (cerita foto)

Zaman modern ini telah berubah menjadi lebih menakutkan dari sekadar kanibalisme. Atas nama modernisasi, zaman ini juga telah durhaka kepada para pelaku zaman yang dulu memberinya makan. Semoga ini hanya sementara.











Mereka sudah rindu pasar.

CINDERELLA dan SELENDANGNYA YANG TERTINGGAL DI INDONESIA

Selamat malam.  Dulu cerita tentang benua yang hilang hanya dianggap mimpi kesiangan dari sekelompok pengkhayal dunia. Tapi maju beberapa abad kemudian, legenda itu semakin mendekati nyata. Loncat beberapa puluh tahun selanjutnya, tak ada lagi yang berani mencandai mimpi kesiangan itu. Atlantis memang pernah benar-benar ada, di manapun itu.
Mundur beberapa zaman ke belakang, semua orang mengutuki pemikir yang berkata bumi itu bulat. Mana mungkin bulat jika tanah yang diinjak saja rata. Namun di hari berikutnya saat matahari mengambil alih kekuasaan rembulan, semua mata yang terbangun tak bisa menutupi pandangannya jika bumi yang mereka diami ternyata bulat adanya.
Di tanah ini sendiri, sekian lama kita merendahkan bangsa sendiri sebagai bangsa yang terjajah. Bangsa yang hanya mewarisi sisa-sisa kebesaran lama, sudah hanya itu saja. Salah didikan kita dijajah selama 3,5 abad membuat materi genetik di dalam darah kita tak pernah mendapat  kesempatan untuk menampilkan kekuatannya. Sekian la…

27 Tahun KAHITNA bagian TIGA

"Saya memang belum lama akrab dengan lagu-lagu mereka.  Saya baru dilahirkan sebagai penggemar KAHITNA di era soulmateKAHITNA, generasi penggemar setelah era KAHITNAmania. Lagu pertama yang saya hafal adalah Tak Mampu Mendua, itu ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tapi lagu-lagu mereka memang pisau bermata dua. Syairnya manis, tapi maknanya sadis. Liriknya puitis, tapi gampang membuat hati menangis. Jika dengan mendengarkan mereka kamu ingin sembuhkan luka, pikirkan lagi saja, karena saat bangun nanti boleh jadi lukamu makin menganga. 
Oleh karena itu, percayalah kepada saya, mendengarkan lagu-lagu KAHITNA itu perlu kesiapan hati yang lebih dari sekedar membaca sebuah lirik atau mendengar musik. Jangan dengar KAHITNA saat kamu sedang merasakan sakit hati, itu hanya akan membuatmu seperti mati. Dengarlah mereka saat hatimu bahagia, maka kamu akan menikmati keindahan musiknya".


"JANGAN HINA KAHITNA" (sebuah catatan jelang 27 tahun KAHITNA)

Saya mencoba mengingat-ingat lagi tanggapan seorang pembaca pada sebuah tulisan saya tentang KAHITNA sekitar 2,5 tahun lalu. Pada kolom komentar, ia meninggalkan pesan berbunyi “Jangan Hina KAHITNA”. Jujur saja saya tertawa membacanya saat itu. Tapi saya juga terlambat mengerti apa maksud dari ungkapan yang ia katakan sebagai bentuk dukungan kepada musik Indonesia. Ketika itu saya berfikir “Jangan Hina KAHITNA”  hanyalah sebuah komentar spontan yang mengambil nama KAHITNA untuk mewakili separuh  musik Indonesia. Tapi malam ini saya baru mengerti jika “Jangan Hina KAHITNA” ternyata sesuatu yang benar-benar ada dan eksis di masa 2007 sampai 2008.

Adalah seorang penulis buku sekaligus pesohor bernama Miund yang menginisiasi “Jangan Hina KAHITNA” sebagai sebuah gerakan unik. Saya tak mengerti alasan pasti di balik gerakan yang ia hembuskan dan seketika menjadi populer di masa itu. Meski disampaikan dengan gaya tulisan yang terkesan hanya canda, tapi Miund serius mengusung gerakan itu dala…

Food Photography: Cara Lain Menikmati Hidangan

Gambar-gambar di bawah ini sama sekali tidak mengklarifikasi saya yang suka makan. Nyatanya saya orang yang tak banyak makan. Tapi saya selalu berusaha menikmati setiap hidangan yang tersaji di depan mata. Dan mengabadikannya menjadi cara asyik sebelum hidangan itu tak bersisa.