Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jawa Tengah

Belajar Toleran Pada Desa Kaloran

Sejak awal kehadirannya, Islam adalah agama yang sangat mengayomi dan penuh semangat menghargai. Islam menjadikan kemanusiaan sebagai salah satu inti ajarannya di mana toleransi ada di dalamnya. Nabi Muhammad saw. pun memiliki karakter yang lembut, penuh kasih, dan pemaaf.   Namun, kini banyak orang yang menyebut diri sebagai pembela Islam justru menampilkan sikap dan tindakan yang berkebalikan. anyak orang yang mengaku meneladani Rasulullah justru melakukan teror, menebar permusuhan, dan menyebarkan kebencian. Rasulullah sangat menyukai musyawarah untuk menghindari sikap otoriter, lalu mengapa orang-orang itu memaksakan pendapat dan menolak perbedaan? Intoleransi membuat kehidupan beragama diliputi rasa takut dan saling curiga. Pada saat bersamaan pemahaman agama dimanipulasi dengan slogan propaganda untuk kepentingan yang sebenarnya jauh dari makna dan ajaran Islam. Orang-orang dari golongan demikian sesungguhnya telah mengotori Islam. Ngaji Toleransi (dok. pri). ...

Toko Oen dan Simfoni yang Manis di Semarang

Toko Oen adalah satu ikon kuliner legendaris di Kota Semarang. Letaknya di Jalan Pemuda No.52, sekitar satu kilometer dari Kantor Walikota Semarang. Tak sulit sebenarnya menemukan toko ini karena posisinya tepat di pinggir jalan. Namun, pintunya yang kecil dan tidak sejajar dengan sisi jalan membuatnya seolah tersembunyi. Selain itu tak ada papan nama mencolok di tembok atau pintunya. Hanya tulisan “TOKO OEN” di atas atap yang jadi tanda dari luar. Itupun agak terhalang oleh tiang listrik yang menjulang dan rangkaian kabel listrik yang kurang teratur. Simfoni yang manis di Toko Oen Semarang (dok. pri). Toko Oen mungkin satu dari sedikit restoran bergaya kolonial yang masih bertahan di Indonesia selama puluhan tahun. Sejarahnya dimulai sekitar 1910 ketika Liem Gien Nio mendirikan toko kue kering di Yogyakarta. Nama “Oen” diambil dari nama sang suami, Oen Tjoen Hok. Seiring waktu Toko Oen tidak hanya menjual kue kering. Aneka hidangan yang mengangkat resep khas perpaduan da...

Mie Kopyok Pak Dhuwur, Jajan Kaki Lima yang Nikmat di Jantung Kota Semarang

Jumat (2/9/2016) yang lalu saya berkunjung ke kota tetangga, Semarang. Tujuan utamanya adalah menonton Konser 30 Tahun KAHITNA “Rahasia Cinta” pada malam harinya. Tiket sudah dibeli sejak bulan Ramadhan yang lalu sehingga apapun kondisinya saya harus menonton. Meski kaki kiri masih cedera akibat terjatuh saat bermain futsal di kawasan Thamrin, Jakarta, seminggu sebelumnya.   Mie Kopyok Pak Dhuwur (dok. pri). Lelah akibat perjalanan dan cuaca yang terik membuat saya tak bisa menahan lapar lebih lama. Beruntung hotel tempat menginap berada di pusat kota, tepatnya di Jalan Pemuda, sehingga ada banyak pilihan tempat makan yang bisa dituju. “Di belakang saja mas, ada Pak Dhuwur”. Begitu jawaban security hotel saat saya meminta rekomendasi tempat jajan yang enak. Ia kemudian memberikan petunjuk arah tempat yang dimaksud. Ternyata saya hanya perlu berjalan kaki selama 5 menit dari hotel untuk tiba di lokasi Pak Dhuwur. Pak Dhuwur adalah nama tempat penjual Mie Kopyo...