Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label intoleransi

Generasi Baru Teroris Indonesia: Muda, Galau, dan Berbahaya

Jika kami bersama nyalakan tanda bahaya/jika kami berpesta hening akan terpecah/aku dia dan mereka memang gila memang beda. Teroris penyerang Mabes Polri (dok. Ivany Atina Arbi). Saya senang sekali dengan lagu yang petikannya saya sebut di atas. Superman Is Dead dan Shaggy Dog yang membawakannya. Judulnya “Jika Kami Bersama”. Beberapa tahun lampau ketika lagu itu pertama kali diperdengarkan, banyak kaum muda segera menjadikannya sebagai lagu bersama. Dinyanyikan keras-keras maupun lirih-lirih, lagu itu tetap punya energi yang sama. Sementara pesannya sudah sangat jelas sejak awal lagu dibuka. Tersurat dalam liriknya yang mudah dicerna. Yakni tentang persatuan. Misalnya, kata-kata “nyalakan tanda bahaya” merupakan ungkapan bahwa kekuatan besar bisa diciptakan lewat persatuan. Oleh karena itu saya mohon maaf karena sekarang harus memotong atau mengambil sebagian liriknya untuk menggambarkan bagaimana fenomena teroris milenial di Indonesia. Tentu lagu ini tidak dilatarbelakangi dan juga t...

Berkat Habib, Aparat Kita Jadi Aktif, Ya Bun...

Seminggu terakhir kita disuguhi parade penegakan hukum yang jarang terjadi di Indonesia. Dari lurah sampai gubernur diperiksa polisi secara maraton selama berjam-jam. Dua kapolda kehilangan jabatan dan jajaran di bawahnya terkena perombakan. Sejumlah pejabat ikut terseret. Sementara yang lainnya bergantian tampil di media seolah memperlihatkan keberanian. Spanduk habib dibabat aparat (foto: kompas) Agak luar biasa mengetahui bahwa semuanya dipicu serta diawali oleh satu orang dengan satu rentetan peristiwa yang dimulai pada 10 November dan berpusat di Petamburan. Bagaimana bisa satu orang dengan acara hajatannya sanggup memicu parade penegakkan hukum? Faktanya memang demikian. Langkah penegakkan hukum tersebut tentu layak diapresiasi. Masyarakat mendukung upaya negara dan aparat yang kali ini memperlihatkan nyalinya di hadapan kelompok-kelompok yang memiliki passion keonaran dan merongrong keutuhan negara. Paling tidak itu memperlihatkan bahwa kita masih memiliki perangkat-perangkat pe...

Studi Alvara: Mayoritas Muslim Indonesia Dukung Pemimpin Nonmuslim dan Tolak Khilafah

Agama merupakan unsur penting dalam hidup dan kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi kebanyakan masyarakat negeri ini, agama menjadi pijakan utama dalam kehidupan. Itu sebabnya masyarakat Indonesia dikenal sangat relijius. Masjid dan gereja berdiri berdampingan di Ratatotok Timur, Minahasa Tenggara (dok. pri). Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia, di mana 87% penduduk Indonesia beragama Islam, maka semangat keagamaan, praktik keagamaan dan pandangan-pandangan umat Islam Indonesia selalu menarik untuk dikaji. Pada 12 Januari 2020 Alvara Research Center mempublikasikan laporan survei terkini tentang umat Islam Indonesia yang diberi judul: ”Indonesia Moslem Report 2019: The Challenges of Indonesia Moderate Moslems”. Indonesia Moslem Report 2019 Survei tersebut merupakan studi kuantitatif yang memiliki beberapa tujuan. Di antaranya   menentukan tingkat moderasi keagamaan umat Islam Indonesia dan mengidentifikasi pandangan keagama...

Ulama Penebar Kebencian Seperti Gembala yang Lepas

Hari ini kita hidup dan menjalani kehidupan dalam peradaban modern di mana kemajemukan menjadi corak utama. Kemajemukan tidak bisa kita tolak atau singkirkan. Kita hanya mungkin menghindarinya jika bisa memaksa Tuhan untuk tidak melahirkan kita ke dunia atau meyakinkan Tuhan agar hanya menciptakan segalanya sesuai keinginan kita.  Akan tetapi siapa kita sampai berani dan bisa memaksa Tuhan? Tugu "Salib" di puncak Bukit Harapan di Ratatotok Timur, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Tugu ini berdiri di sebelah Tugu "Bulan Bintang" sebagai lambang toleransi beragama (dok. pri). Di tengah kehidupan yang majemuk kita pun menghadapi permasalahan utama yang sama mengenai agama. Inti permasalahannya ialah sejauh mana umat beragama yang majemuk, terutama di Indonesia, mampu membangun dan mengembangkan sebuah peradaban yang indah dan kuat? Kadang saya disergap rasa keraguan tentang peradaban yang indah itu. Bukan pesimis atau membayangkan ...

Gagu Menghadapi Intoleransi

Indonesia selalu diasosiasikan dengan kehidupan yang harmonis mengingat begitu beragamnya  negeri ini, tapi rakyatnya bisa hidup berdampingan. Pujian sebagai masyarakat yang toleran membuat orang Indonesia bangga.   Sepanduk pelarangan gereja (sumber: twitter ferry maitimu). Namun, begitu seringnya dijadikan percontohan negeri yang penuh toleransi justru membuat kita kehilangan kepekaan pada masalah intoleransi. Pengrusakan tempat ibadah, pembubaran kegiatan peribadatan, dan propaganda mengenai hari besar agama tertentu tidak dianggap sebagai masalah besar.   Buktinya hal itu terus terjadi dan berulang seolah dibiarkan. Memang sebagian besar negeri ini masih dinaungi nafas toleransi dan masih menikmati berkah serta rahmat kerukunan. Ada toleransi dari Sabang sampai Merauke. Tetapi di sana juga tidak sedikit saudara-saudara kita yang harus dicekam ketidaktenangan dalam beragama dan beribadah. Intoleransi membayangi langkah mereka saat be...