Pemilu sudah di depan mata. Kurang dari sebulan lagi masyarakat Indonesia akan mempertaruhkan suaranya untuk memilih pemimpin negara dan wakil-wakil rakyat. Seperti yang sudah-sudah, pesta demokrasi 5 tahunan ini selalu memunculkan "kemeriahan" tersendiri. Semua ruang di negeri ini hampir tak ada yang terlewat dengan kibaran aneka bendera warna-warni. Belum lagi spanduk, baliho hingga billboard yang berserakan di mana-mana. Semua menjadi tampak meriah, seolah ini benar-benar "pesta rakyat". Padahal seperti yang sudah-sudah, pemilu hanya melahirkan segerombolan wakil rakyat dan para pemimpin yang tak amanah. Semoga kali ini pesta benar-benar berujung bahagia, bukan susah.
Satu yang tak berubah dan tak ingin saya ubah adalah saya seorang anak desa. Anak desa yang lalu hijrah belajar di kota besar. Anak desa yang semenjak itu selalu rindu untuk mengulang atau sekedar mengingat masa-masa kecilnya yang telah terlalui. Berjalan-jalan di sawah, sembunyi-sembunyi membuang makanan yang tak habis dimakan, ikut ibu ke pasar, berkelahi sepulang sekolah, kabur diam-diam dari rumah untuk bermain hingga menikmati jajanan masa kecil. Salah satunya adalah makanan tradisional yakni kue putu. Dulu saya sangat suka meminta jajan kue putu. Pasti banyak yang tahu seperti apa kue putu itu. Kue tradisional terbuat dari beras dengan isian gula merah yang dibuat dengan cara dipanaskan menggunakan uap panas, disajikan dengan parutan kelapa dan kadang ditaburi gula pasir. Dulu saya suka menanti pedagang kue putu lewat di depan rumah, biasanya sore hari sampai jelang senja. Ia datang dengan pikulan di pundak, pasti berat. Mendengar bunyi tiupan uap panasnya dari jauh saya ...
Komentar
Posting Komentar