Langsung ke konten utama

Peyek Kacang dan Pawon Panas Pembuatnya



Beberapa waktu lalu saya menyaksikan pembuatan peyek kacang langsung dari pawon. “Pawon” adalah istilah Jawa untuk dapur. Pawon juga berarti tungku memasak yang terbuat dari susunan batu bata dan tanah liat.


Di atas tungku memanjang yang sudah berwarna hitam akibat pembakaran terdapat sebuah wajan yang tak kalah legam. Di dalamnya minyak panas tak henti menggoreng adonan peyek yang dibentuk memanjang. Sang pembuatnya yang sudah berusia lanjut sesekali memasukkan bambu dan kayu bakar ke dalam tungku untuk mempertahankan panas api.

Adonan peyek kacang ternyata cukup sederhana. Tepung beras dicampur dengan garam, ketumbar dan bawang putih yang dihaluskan. Campuran tersebut diaduk hingga rata  lalu ke dalamnya dimasukkan irisan kacang tanah. Kadang ditambahkan irisan daun jeruk, daun kucai atau kunyit untuk menambah aroma dan rasa. Tapi kali ini peyek kacang yang dibuat lebih “original” tidak menggunakan ketiga tambahan tersebut.
 


Untuk tepung beras, beberapa pembuat peyek kacang masih menggunakan tepung dari beras yang digiling sendiri. Sementara yang lain memilih tepung beras kemasan yang lebih mudah didapat. Satu peyek kacang dibuat dengan takaran sekitar setengah sendok sayur. Penggorengan dilakukan maraton sampai adonan habis.

Saya perhatikan tangan sang pembuat peyek kacang yang begitu sabar menuangkan satu demi satu sendok adonan hingga habis. Sekali ia menambahkan tepung beras dan irisan kacang tanah ke dalam wadah adonan yang sudah mulai berkurang. Sambil menambahkan air ia mencicipi rasa adonan dengan telunjuknya untuk memastikan rasa. Ia pun kembali duduk menghadap celah pembakaran dan mulai lagi menggoreng peyek kacang.

Sepintas cara membuatnya cukup mudah. Hanya menuangkan satu takaran adonan ke dalam wajan dan menunggu matang. Namun jangan terlalu percaya diri mencobanya jika belum terbiasa. Bisa-bisa adonan yang kita tuangkan akan tumpah tak beraturan di dalam wajan. Adonan juga tidak boleh digoreng terlalu lama. Jika sudah mulai menguning peyek kacang harus segera diangkat. Setelah didiamkan sesaat peyek kacang akan berwarna keemasan tanda penggorengan yang sempurna.
 
Meski hanya duduk dan menggoreng, saya membayangkan pekerjaan membuat peyek kacang tidaklah senyaman yang kita bayangkan. Efek pembakaran dari dalam tungku sangat menyengat hingga ke dinding tembok. Meski sebagian atap terbuka namun radiasi pembakaran dan asap yang di sekitarnya membuat saya hanya sanggup berdiri di sana selama 20 menit. Oleh karena itu saya salut kepada si pembuat peyek kacang yang dengan sabar dan tahan berjam-jam duduk di depan tungku dengan penggorengan panas tersebut.
 
Peyek kacang yang sudah digoreng segera dibawa ke kios. Di sana peyek-peyek kacang langsung dikemas dan ditimbang ke dalam plastik-plastik tebal berukuran besar. Setiap plastik berisi 2 kg peyek kacang yang dihargai Rp. 20.000. 

Peyek kacang adalah cemilan kesukaan saya. Penganan ini adalah salah satu teman saat menonton TV atau membaca. Renyah dan gurihnya sering membuat lidah tak mau berhenti sampai satu toples bersih tak berisi lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

Mengenal Lebih Dalam Anggrek Phalaenopsis amabilis, Bunga Nasional Indonesia

Phalaenopsis amabilis (L.) Blume adalah salah satu dari sekitar 36 jenis Anggrek anggota marga Phalaenopsis. Jenis anggrek ini sering dikenal dengan nama Anggrek Bulan. Padahal jika diperhatikan morfologi bunganya, Anggrek ini lebih mirip dengan kupu-kupu, sesuai dengan asal kata Phalaenopsis yakni “Phalaina”  yang berarti kumbang, kupu-kupu dan “Opsis” yang berarti bentuk. Oleh karena itu di beberapa negara Anggrek ini juga dikenal dengan nama Moth Orchid (Anggrek Kumbang).
Pembentukan genus Phalaenopsis dilakukan oleh ilmuwan dunia bernama Carl Blume pada tahun 1825  berdasarkan penemuan Phalaenopsis amabilis di Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Sebelumnya Phalaenopsis amabilis pernah ditemukan terlebih dahulu oleh Rumphius pada 1750. Namun pada saat itu Rumphius mengidentifikasinya sebagai anggota marga Angraecum.
Phalaenopsis amabilis adalah anggrek epifit yang hidup menempel pada batang atau dahan tumbuhan berkayu. Batangnya sangat pendek dan tertutup oleh daun yang berbentuk jorong , t…

Kenali Tipe Anggrek lalu Tanam dengan Hati

Anggrek sudah dikenal luas semenjak 200 tahun yang lalu. Bahkan jauh sebelum masehi anggrek telah dikenal oleh masyarakat Asia Timur seperti Jepang dan China sebagai tanaman obat.
Di Indonesia Anggrek mulai dibudidayakan sejak 55 tahun lalu. Sepanjang itu pula, tidak hanya di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia Anggrek dikenal sebagai tanaman hias karena memiliki bunga yang beraneka ragam bentuk, warna dan keindahannya dianggap belum tersaingi oleh bunga apapun. Sebagai tanaman hias Anggrek juga tidak mengenal trend dan selalu digemari apapun zamannya.
Namun demikian banyak yang beranggapan menanam Anggrek adalah hal yang sulit hingga banyak orang yang akhirnya memilih menyerah merawat Anggrek di halaman rumahnya.  Apalagi untuk membungakannya juga tidak mudah. Anggapan ini tak sepenuhnya salah karena Anggrek memang memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya memerlukan perlakuan sedikit berbeda dari tanaman lainnya. Selain itu harus diakui faktor tangan dingin seseorang ik…