Langsung ke konten utama

Mencecap "Sang Pisang" Dari Kaesang

Menjelang sore, tiba-tiba ingin menikmati cemilan. Teringat pernah makan naget pisang. Jadilah saya memutuskan membuka aplikasi Gojek di smartphone. Pada fitur GoFood saya mencari Sang Pisang milik anak Jokowi, Kaesang Pangarep.

Naget pisang "Sang Pisang" (dok. pri).
Di aplikasi GoFood satu kotak Sang Pisang berisi 10 naget pisang dihargai Rp25.000, belum termasuk topping tambahan. Sementara jasa antarnya Rp13.000. Harga total yang lumayan mahal itu membuat saya beralih untuk mencoba GrabFood. Di aplikasi GrabFood sekotak Sang Pisang ternyata dihargai lebih murah, yaitu Rp22.000 dan biaya pengantarannya hanya Rp3000. Selisih yang cukup mencolok dengan GoFood.

Saya pun akhirnya memesan melalui GrabFood dan segera diterima oleh seorang pengemudi Grab dengan perkiraan waktu pengiriman 40 menit. Lumayan lama, tapi tak mengapa.

Kemasan "Sang Pisang" (dok. pri).
Katanya #BUKANKUEARTIS (dok. pri).

Sang Pisang ternyata tiba 20 menit lebih cepat dari perkiraan. Satu kotak kertas berwarna hitam berukuran 20x10x4 cm dengan permukaan mengkilat saya terima. Bersama kemasannya diberikan sebuah garpu plastik berukuran kecil dan beberapa lembar tisu bersih.

Pada bagian atas tutupnya ada sebuah tulisan menarik: “Naget Pisang Kesayangan Sang Pisang By Kaesang”. Lalu di balik tutup kemasannya, Kaesang menitipkan semacam peringatan: #BUKANKUEARTIS. Barangkali ia hendak mengatakan bahwa dirinya bukan artis. Meski predikat anak presiden sebenarnya telah membuat keterkenalannya melampaui artis. Dan oleh karena itu pula, Kaesang pun ingin berkata bahwa Sang Pisang bukan lahir dari semangat aji mumpung menjual kue-kue yang serba homogen yang sebenarnya tidak ada istimewanya, tapi dengan modal nama beken diri dan kota besar, lalu dibuat promosi seolah-olah kue artis adalah jajanan yang mahanikmat dan maha istimewa.
Masih banyak minyak yang tertinggal di naget (dok. pri).
Saat tutupnya dibuka aroma wangi  menguar dari naget pisang berlumur saus strawberry yang saya pilih sebagai tembahan saus. Wanginya menurut saya cukup menggoda. Apalagi, lumeran saus pink yang menyelimuti permukaan naget terlihat sangat menarik. Tampilan luar Sang Pisang yang memikat tersebut mungkin bisa menjadi pemakluman atas harganya yang lebih mahal dari naget pisang lainnya.

Sementara pada sisi yang tidak berlumur saus strawberry, terlihat warna luar naget yang kecoklatan dengan tepung krispi yang kering. Naget yang saya terima sepertinya baru digoreng karena selain masih hangat, jejak minyaknya juga masih banyak tertinggal di permukaan. Ini yang saya sayangkan. Naget pisang akan lebih baik jika disajikan setelah ditiriskan minyaknya, baru kemudian dilumuri toping atau saus agar rasa dan tampilannya sama baiknya.
 
Bagian dalam naget Sang Pisang berwarna kuning keemasan, teksturnya lembut, padat, dan sedikit lengket seperti halnya daging pisang yang dihaluskan.  Bahkan, biji pisang pun masih dapat ditemukan di dalam naget Sang Pisang.

Rasanya lumayan manis. Sayangnya, saya salah memilih saus toping. Indera pengecap saya mendapati saus strawberrynya terlalu manis dan “medok” sehingga membuat rasa naget secara keseluruhan menjadi kurang nikmat. Penggemar berat makanan manis mungkin menyukai totalitas rasa seperti ini. Tapi bagi pemilik lidah lainnya, sentuhan dari saus strawberry ini terasa berlebihan alias lebay.

Naget "Sang Pisang" (dok. pri).
Bagi saya saus strawberry yang ditambahkan, apalagi jumlahnya banyak, kurang cocok untuk naget Sang Pisang yang rasa aslinya sudah lumayan manis. Bahkan, tanpa dilumuri saus pun naget Sang Pisang sebenarnya sudah bisa menjadi teman minum teh atau kopi yang nikmat. Apalagi jika minyak sisa penggorengannya telah lebih dulu ditiriskan agak lama sehingga rasa manis, lembut, dan sensasi krispinya dapat dinikmati secara pas.

Sang Pisang tampaknya perlu melakukan eksperimen ulang atau menguji lagi penambahan saus dan topingnya secara tepat dengan lebih memperhatikan kesesuaian rasa, selain mementingkan tampilan luar. Tidak semua saus dan toping cocok ditambahkan dalam jumlah banyak. 

Manisnya berlebihan (dok. pri).

Saus strawberry yang “medok” ini  membuat rasa Sang Pisang menjadi berlebihan dan kurang bisa dinikmati. Ada baiknya Sang Pisang mempertimbangkan modifikasi penyajian dan penjualan pisang nagetnya. Misalnya, memberikan pilihan penambahan saus secara terpisah sehingga Sang Pisang bisa dinikmati  lebih fleksibel dengan mencocolkannya dalam saus sesuai selera.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …