Langsung ke konten utama

Xenoglosofilia, Kitab Ivan Lanin

Dari mana asal kata aktivitas? Selama ini khalayak menganggap bahwa aktivitas adalah turunan dari kata aktif yang diserap dari kata active (Inggris) dan mendapatkan akhiran -itas. Di sekolah sering diajarkan bahwa penambahan akhiran -itas pada kata aktif menyebabkan huruf f berganti menjadi v. Ternyata hal tersebut keliru karena kata aktivitas diserap langsung dari bahasa Belanda, yaitu activiteit.

Mana pula yang tepat, blogger atau bloger? Akhir-akhir ini penulisan bloger lebih banyak dipilih dibanding blogger. Tapi ada padanan yang lebih tepat dan pas  untuk kedua istilah tersebut, yaitu narablog.
"Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?" (dok. pri).

Masalah-masalah dan bentuk salah kaprah seperti itulah yang dijelaskan dalam buku “Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?” karya Ivan Lanin. Buku ini menggedor kepedulian kita terhadap bahasa Indonesia sekaligus memperbaiki pemahaman yang selama ini terlanjur diyakini.

Ivan Lanin adalah seorang wikipediawan yang giat mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar melalui media sosial. Peraih penghargaan sebagai Peneroka Bahasa Indonesia Dari dari Badan Bahasa ini juga menulis blog. Isinya tidak jauh berbeda dengan kampanyenya di media sosial yang mengajak khalayak mencintai bahasa Indonesia sekaligus mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktik berbahasa Indonesia.

Cuitan-cuitan Ivan Lanin di twitter menarik perhatian khalayak, terutama generasi muda. Ia menjadi tempat bertanya khalayak seputar permasalahan bahasa. Informasi dan penjelasan yang diberikannya mampu memperkaya pengetahuan bahasa. Caranya berinteraksi yang santai, akrab, dan kadang-kadang menggelitik membuat ajarannya disukai. Ajaran Ivan Lanin tidak menggurui, tapi mencerahkan.

Xenoglosofilia
Menurut Ivan permasalahan bahasa seperti ketidaktepatan dalam penggunaaan kata dan istilah Indonesia disebabkan karena khalayak kurang memahami makna kata. Khalayak pengguna bahasa juga malas mencari padanan kata untuk istilah-istilah asing yang digunakan sehingga timbul salah kaprah.

Ada pula kecenderungan khalayak untuk menggantikan istilah dalam bahasa Indonesia dengan istilah dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris karena dianggap lebih keren. Khalayak semakin terbiasa dan senang menggunakan kata-kata asing secara tidak wajar. Gejala ini disebut Xenoglosofilia. 
Kitab ajaran Ivan Lanin (dok. pri).
Selain menimbulkan salah kaprah, Xenoglosofilia juga membuat bahasa Indonesia kurang berkembang. Tidak sedikit padanan kata atau istilah bahasa Indonesia yang sebenarnya sudah ada sejak lama dan semestinya digunakan justru kalah populer dibanding serapannya dari bahasa asing. Contohnya mangkus (efektif), sangkil (esifien), gerip (stylus) dan sebagainya. 

Menelusuri Makna
Menggunakan padanan kata yang tepat sangat penting untuk memajukan dan menambah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Jika ada istilah-istilah asing yang baru atau mulai sering digunakan dalam praktik berbahasa, upaya pencarian padanan katanya dalam bahasa Indonesia perlu segera dilakukan sebelum istilah asing tersebut populer. Semakin populer istilah asing akan semakin sulit khalayak menerima padanannya dalam bahasa Indonesia.

Memahami makna (dok. pri).

Asal kata (dok. pri).
Sampul belakang (dok. pri).
Untuk mencari padanan kata Ivan menekankan pentingnya menelusuri konsep makna yang dikandung oleh kata atau gabungan kata. Pemahaman terhadap makna adalah syarat untuk membuat istilah. Padanan kata bisa digali dari bahasa daerah serta bahasa kuno seperti Sansekerta dan Kawi. Jika dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa kuno tidak berhasil mendapatkan padanannya, penyerapan dari bahasa asing bisa dilakukan. Namun, ejaan dan lafalnya perlu disesuaikan agar lebih mudah diucapkan dan ditulis dalam bahasa Indonesia.

Selain narablog yang sudah disebutkan di awal, buku ini memperkenalkan sejumlah padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk beberapa istilah asing yang populer.  Beberapa padanan kata sudah ada sejak lama dan buku ini bermaksud membangkitkan lagi penggunaanya. Misalnya adalah lahan yasan sebagai padanan untuk real estate. Istilah lahan yasan yang terdengar indah sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi kebutuhan pemasaran di bidang properti lebih menyukai penggunaan istilah asingnya. Istilah lahan yasan pun kalah populer seperti halnya adimarga kalah populer dibanding boulevard dan tengaran kalah populer dibanding landmark.


Contoh lainnya adalah hospitality yang sering diterjemahkan menjadi perhotelan atau perhotelan dan restoran. Tapi menurut Ivan Lanin terjemahan tersebut kurang menggambarkan makna yang dikandung oleh hospitality. Penyerapan secara langsung menjadi hospitalitas juga kurang tepat. Padanan yang tepat sesuai makna hospitality adalah penjamuan.

Dengan menelusuri konsep makna Ivan Lanin mencari padanan-padanan kata untuk beberapa istilah asing lainnya. Salah satunya adalah crowdsourcing yang bermakna pemberian tugas kepada sekelompok besar orang, terutama melalui internet, biasanya tanpa kompensasi finansial. Istilah crowd bisa dipadanankan dengan kerumunan atau gerombolan, tapi Ivan lebih memilih khalayak karena terdengar lebih enak dan tidak berkonotasi negatif seperti kerumunan dan gerombolan. Sedangkan sourcing bisa dipadankan dengan sumber atau daya. Ivan lebih memilih daya. Dengan demikian padanan yang tepat untuk crowdsourcing adalah daya khalayak.

Bidang teknologi informasi termasuk paling banyak menggunakan istilah asing. Dua di antaranya yang sangat populer adalah online dan offline. Banyak yang memilih tidak menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Namun, akhir-akhir ini banyak yang menggunakan istilah daring (dalam jaringan) sebagai padanan untuk online dan luring (luar jaringan) untuk offline. Meskipun dua istilah tersebut cukup menarik, Ivan menganjurkan untuk menggunakan istilah terhubung (online) dan terputus (offline) seperti yang ditunjukkan dalam Panduan Pembakuan Istilah Inpres Nomor 2 Tahun 2001.

Gerip=Stylus (dok. pri).
Buku bagus (dok. pri).
Pencarian padanan kata juga dilakukan untuk singkatan-singkatan bahasa asing yang populer. Salah satunya adalah FAQ yang merupakan singkatan dari Frequently Asked Questions. Ivan mengusulkan Tanja yang merupakan akronim dari tanya jawab  sebagai padanan untuk FAQ. Pembentukan akronim tanja disesuikan dengan FAQ yang merupakan bentuk singkatan.

Selain itu ada metode perluasan makna untuk membentuk padanan kata dalam bahasa Indonesia. Contoh hasilnya adalah canggih yang diperluas maknanya dari “cerewet” menjadi padanan untuk sophisticated yang bermakna rumit. Demikian pula dengan istilah tagar yang sebelumnya bermakna guruh atau guntur, diperluas maknanya sebagai padanan untuk hashtag.

Agar terhindar dari salah kaprah, penting untuk mengetahui asal kata. Salah satu contohnya adalah investasi yang ternyata bukan diserap dari bahasa Inggris (invesment) atau dari investacy meski akhira -cy pada bahasa Inggris sering berubah menjadi -si dalam bahasa Indonesia. Penelusuran Ivan Lanin melalui sumber ahli bahasa menemukan bahwa kata investasi berasal dari kata investatie dalam bahasa Belanda. Akhiran -atie kemudian menjadi -asi dalam investasi.

Padat Berisi
Semua tulisan di dalam buku ini disampaikan dengan aliran kalimat yang sederhana dan mudah dicerna sehingga membacanya terasa tidak membosankan. Penggunaan warna cerah untuk sampul dan beberapa halaman buku menyiratkan pendekatan Ivan Lanin untuk mengajak khalayak menggali bahasa Indonesia dengan cara yang lebih luwes dan akrab.


Membaca lebih dari 100 tulisan pendek di dalam buku ini seperti menjalani sebuah kelas bahasa Indonesia yang padat berisi tapi tidak memberatkan. Masalah seputar padanan kata, asal kata, struktur paralel, kaidah KPST, penggunaan huruf kapital, cara menulis rupiah, dan sebagainya disampaikan secara jelas tanpa menghabiskan terlalu banyak baris kalimat.

Meski ringkas, tapi tulisan-tulisan dalam buku ini mampu memberikan pemahaman yang mendalam tentang bahasa Indonesia sehingga kesalahan-kesalahan dalam berbahasa diharapkan dapat dikikis. Di sisi lain Ivan Lanin mencoba bersikap kritis terhadap pengguna bahasa dan perkembangan bahasa indonesia. Misalnya soal kata skedul dan mengensel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Padahal, bahasa Indonesia sudah memiliki kata jadwal dan membatalkan. Dalam hal ini Ivan Lanin menunjukkan bahwa KBBI pun ternyata telah tercemar oleh gejala “nginggris”.
Ivan Lanin (dok. pri).
Hadirnya buku “Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?” patut disyukuri. Dari judulnya saja buku ini sudah menjadi tawaran untuk merenungkan secara jujur kepedulian khalayak terhadap bahasa Indonesia. Praktik berbahasa dengan menggunakan banyak istilah asing bukanlah sesuatu yang membanggakan. Lewat buku ini Ivan Lanin menunjukkan keistimewan bahasa Indonesia. Jika ada kata atau istilah dalam bahasa Indonesia yang terkesan aneh, itu hanya masalah kebiasaan. Asalkan digunakan terus secara konsisten khalayak akan terbiasa dan menjadi tidak aneh lagi. Semakin khalayak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, maka bahasa Indonesia pun akan semakin mantap.

Komentar

  1. Betul. Buku ini ibarat kitab suci. Selain buku teks pelajaran Bahasa Indonesia, para pelajar seharusnya juga membaca buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku ini pun harganya terjangkau (biasanya harga buku Kompas itu mahal) jadi memungkinkan dibaca lebih banyak orang.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …