Langsung ke konten utama

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi


Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center.
Purbalingga Food Center (dok. pri).
Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center. 

Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km.

Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari. 
Area parkir sepeda motor di Purbalingga Food Center (dok. pri).

Purbalingga Food Center (dok. pri).
Ada rasa penasaran yang menggerakkan saya melongok Purbalingga Food Center. Pertama, saya bertanya-tanya mengapa harus dengan bahasa Inggris kalau yang dirujuk merupakan sebuah tempat yang sebenarnya cocok juga dilabeli Pujasera, Gudang Kuliner, atau lainnya yang semakna. Semoga bukan karena ada rasa gengsi atau minder dengan penamaan menggunakan bahasa Indonesia.

Kedua, aspek nama tersebut dengan sendirinya memancarkan kesan modern. Label Purbalingga Food Center memunculkan bayangan tentang sebuah tempat yang unik atau istimewa dan saya ingin mengetahui apa keistimewaannya.
Area tengah Purbalingga Food Center. Jadi area wahana permainan? (dok. pri).
Maka mampirlah saya ke Purbalingga Food Center untuk pertama kalinya pada 11 Januari pagi. Kesan pertama yang tertangkap oleh mata adalah becek, lembab dan agak semrawut. Soal becek dan lembab mungkin karena pengaruh musim hujan. 

Oleh karena itu, sejenak coba saya tepis kesan pertama tersebut dengan berjalan-jalan mengelilingi areanya. Sayangnya kesan agak kumuh tetap muncul. Malah di sejumlah titik dijumpai sampah-sampah yang berserakan. Di titik lainnya potongan-potongan tulang terserak di lantai dan tentu saja mengundang lalat beterbangan.

Kondisi sampah semacam itu mungkin dihasilkan dari aktivitas kuliner pada malam hari yang tidak dibersihkan oleh si penjual atau pengunjungnya yang tidak peduli pada kebersihan. Bisa pula karena kurangnya tempat sampah yang tersedia.
Sisi selatan Purbalingga Food Center (dok. pri).
Toilet (dok. pri).
Sampah berserakan menimbulkan kesan kumuh (dok. pri).
Lalu saya beralih melongok toiletnya. Bangunannya lumayan baik karena masih baru. Pada dindingnya tertempel kertas dengan coretan tangan bertuliskan Rp2000. Sayangnya di sekitarnya juga becek dan terserak tumpukan sampah.

Berdasarkan pengamatan pagi itu, terasa tempat ini belum sepenuhnya tepat disebut sebagai “Food Center”. Tidak ada pula keistimewaan layaknya ikon pusat kuliner yang cukup mampu menggugah orang-orang untuk berdatangan, kecuali rasa penasaran atau terpaksa karena tidak menemukan penjual makanan yang diinginkannya di tempat lain.
Area muka Purbalingga Food Center (dok. pri).
Becek (dok. pri).
Di Purbalingga Food Center, ratusan gerobak dan lapak penjual kaki lima memang diatur tempatnya. Tenda-tenda didirikan di sisi barat, timur, dan selatan. Sedangkan area tengah dibiarkan lapang karena hendak difungsikan sebagai area kegiatan penunjang.

Akan tetapi tempat duduk yang tersedia jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya penjual. Beberapa penjual menyiasatinya dengan menyediakan tikar agar pengunjung bisa bersantap sambil lesehan meski dengan kondisi yang kurang nyaman.

Penjual makanan dan minuman di Purbalingga Food Center tersebar di sisi barat, selatan, dan timur. Kesan agak semrawut dijumpai di sisi barat karena banyak gerobak dan lapak yang berdempetan posisinya. Dengan sendirinya tertangkap kesan bahwa Purbalingga Food Center terlalu sempit untuk menampung lebih dari 360 PKL. Akibatnya, penataan penjual menjadi kurang rapi.

“Masih belum pas, pokoknya banyak kurangnya”, kata salah satu penjual yang pagi itu sedang bersiap membuka lapaknya. Dari etelase gerobaknya, ia menjual aneka minuman dan jus.

Seorang penjual lainnya berpendapat serupa. Sambil menyantap sepiring sarapan yang dijual olehnya, saya menyimak pendapat dan pengalamannya berjualan di tempat yang baru ini. 

Ia yang sebelumnya telah berjualan di Alun-alun Purbalingga selama hampir 10 tahun menilai bahwa waktu pemindahan PKL ke Purbalingga Food Center kurang tepat. “Waktunya itu loh, harusnya jangan pas musim hujan”, katanya. 


Purbalingga Food Center (dok. pri).
Lokasi Purbalingga Food Center juga dianggapnya kurang strategis meski tidak terlalu jauh dari alun-alun. Baginya selama banyak kegiatan masih dipusatkan di sekitar alun-alun, Purbalingga Food Center akan kurang dilirik. “Di sini nggak ada tempat menarik. Paling cuma Sabtu atau Minggu pagi orang-orang ramai (olahraga) di GOR”, katanya beralasan.

Sejumlah fasilitas juga dirasakannya belum siap. Selain becek dan tempat parkir yang belum rampung, penerangan pada malam hari masih kurang. ”Kalau malam listriknya sering nggak kuat, jadi di sini (sisi barat) agak remang-remang”, tambahnya.
Purbalingga Food Center (dok. pri).
Purbalingga Food Center (dok. pri).
Soal tarif toilet termasuk yang dikritiknya. “Masa kita penjual ke toilet juga harus bayar?”, protesnya dan ia pun berpendapat bahwa penjual perlu diberikan identitas yang menunjukkan bahwa mereka adalah penghuni Purbalingga Food Center. 

Selain itu penempatan penjual perlu diatur ulang agar persaingan antar penjual makanan dan minuman yang sejenis tidak terlalu mencolok. Ia mencontohkan banyak penjual mie ayam dan bakso di sisi barat yang tempatnya berdempetan dan berhadapan-hadapan. “Itu warung mie ayam, di sebelahnya mie ayam juga, di depannya mie ayam lagi. Kan nggak gitu harusnya”, katanya sambil menunjuk sejumlah gerobak mie ayam dan bakso.


Meski demikian ada hal baik yang dirasakannya di Purbalingga Food Center. “Di sini tempat ambil airnya banyak dan mudah”, katanya. Beberapa kran air dan tempat untuk mencuci memang tersebar di sejumlah titik. Dua di antaranya sempat saya coba pagi itu dan semuanya berfungsi. 
Purbalingga Food Center (dok. pri).
Seorang penjual ketoprak menunggu pembeli di Purbalingga Food Center (dok. pri.
Ia pun bersyukur atas kebijakan pemerintah daerah yang masih menggratiskan biaya awal kepada penjual di Purbalingga Food Center sampai beberapa waktu ke depan. Selanjutnya ia berharap Purbalingga Food Center terus dibenahi agar semakin banyak pengunjungnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …