Langsung ke konten utama

"Vaksin Corona Gratis" vs "Aman Semu"

Di tengah rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk mematuhi protokol kesehatan, ekspektasi terhadap vaksin Covid-19 harus dikendalikan. Komunikasi dan sosialisasi disertai glorifikasi berlebihan akan menimbulkan rasa “aman semu”. Kondisi demikian bisa memperburuk pandemi di Indonesia yang belum terkendali.
(dok. hendra wardhana)

Vaksin gratis untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali seperti yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (16/8/2020) patut disyukuri. Mengingat sebelumnya pemerintah berencana hanya akan menyuntikkan vaksin gratis kepada sebagian kecil penduduk. Sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia yang ingin divaksin harus membayar sendiri.

Memastikan semua rakyat mendapatkan vaksin di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan adalah bentuk pemenuhan tanggung jawab negara terhadap amanat UUD 1945 yang menjamin setiap warga berhak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Menggratiskan vaksin juga bisa mengikis keengganan masyarakat untuk divaksin mengingat masih banyak penduduk yang tidak berminat mengikuti vaksinasi. Masalah keamanan vaksin dan label “berbayar” jadi pertimbangan yang memberatkan.

Jangan Berlebihan
Walau demikian, vaksin gratis sebaiknya tidak disambut dengan euforia berlebihan. Pemerintah harus mengkomunikasikan vaksin gratis secara terukur dengan basis informasi yang tepat.

Perlu dihindari glorifikasi vaksin yang seolah-olah akan segera mengakhiri pandemi. Sebab dalam konteks Indonesia vaksinasi Covid-19 akan jauh lebih menantang dibanding negara lain.

Untuk mendapatkan herd community sebagai perlindungan kuat, Indonesia butuh waktu lebih lama. Banyaknya penduduk yang perlu divaksin membuat vaksinasi tidak akan tuntas hanya dalam setahun. Sementara pengadaan vaksin terbatas dan perlindungan yang diberikan mungkin tidak akan bersifat jangka panjang.

Oleh karena itu, perlu dihindari penyampaian-penyampaian yang melenakan agar masyarakat tidak berpikir bahwa saat vaksinasi dimulai pada awal 2021, maka saat itu pula Corona akan lenyap dari Indonesia.

Lima juru bicara baru yang ditunjuk pemerintah khusus untuk mensosialisasikan vaksin dan vaksinasi Covid-19 memiliki tugas berat. Para juru bicara harus belajar dari buruknya komunikasi pandemi selama ini.

Informasi-informasi yang kurang akurat serta ketidakselarasan penyampaian antar sektor tidak boleh terulang. Jangan sampai informasi vaksin gratis justru memperburuk kewaspadaan pandemi di tengah masyarakat yang selama ini sudah lemah.

“Aman Semu”
Perlu cara yang tepat dan pemahaman yang berimbang untuk membaca “vaksin corona gratis”. Ini memang merupakan kabar baik. Namun, di sisi lain ada situasi genting di Indonesia yang tidak boleh “dilunakkan”.

Vaksin gratis perlu dibaca dan ditempatkan dalam konteks pandemi Covid-19 yang sudah memasuki fase sangat berbahaya. Dengan begitu vaksin bisa diupayakan lebih efektif memerangi pandemi di Indonesia.

Mengapa demikian? Mari kita tengok kegentingan yang selama ini belum banyak dikomunikasikan dan cenderung tertutup oleh kabar vaksin yang seolah-olah akan menjadi cara instan melenyapkan pandemi.

Semakin banyak masyarakat Indonesia mengalami “aman semu”. Sebuah kondisi lengah yang didorong pemikiran bahwa setiap orang terlindungi dan akan mudah pulih jika terkena corona sebab pengobatan semakin canggih dan vaksin telah ditemukan.

Rasa “aman semu” juga dipicu oleh kesimpulan atas “kenyataan” bahwa setelah keluar berada di kerumunan, tidak mencuci tangan dan melepas masker, ternyata seseorang tetap baik-baik saja.

Harus juga dicatat andil pemerintah, baik pusat dan daerah dalam memicu “aman semu”. Banyak daerah dan pejabat yang bersikap tertutup tentang penularan Covid-19 di wilayahnya dengan alasan tidak ingin membuat masyarakat panik. Itu merupakan kesalahan fatal yang menimbulkan “aman semu”. Masyarakat dibuat tidak panik dan tidak waspada, padahal virus telah menyebar ke ruang-ruang di sekitar mereka.

Sosialisasi yang kurang tepat tentang vaksin dan vaksinasi berpotensi melanggengkan “aman semu”. Sebab masyarakat akan beranggapan bahwa kemenangan sudah di depan mata. Padahal peperangan pandemi di Indonesia masih akan terus berlangsung untuk beberapa waktu setelah vaksin disuntikkan.

Belum Terkendali dan Semakin Berbahaya
Fenomena “aman semu” menunjukkan tren meningkat dan semakin berbahaya. Itu terlihat dari terus melemahnya kedisiplinan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan.

Corona tak ada lagi harga dirinya di Indonesia. Covid-19 tak lagi dianggap sebagai ancaman berbahaya sehingga orang merasa tak perlu patuh memakai masker, tak masalah lupa cuci tangan, dan tak merasa terancam di tengah kerumunan.

Data terbaru Satgas Covid-19 mengungkap sinyal yang semakin membahayakan dari fenomena “aman semu” tersebut. Pada 2 Desember 2020 tinggal 42,53% masyarakat Indonesia yang patuh menjaga jarak dan hanya 59% yang masih menggunakan masker.

Dalam lingkup daerah lebih parah lagi. Hanya sekitar 9% kabupaten/kota di Indonesia yang konsisten menerapkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Kalau dibedah menurut parameter yang ada, bahkan hanya sekitar 4% kabupaten/kota yang patuh menggunakan masker.

Harus diwaspadai pula bahwa banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih merencanakan liburan akhir tahun dibanding mempertimbangkan untuk diam di rumah saja.

Rasa “aman semu” tersebut terbukti telah mendorong penambahan jumlah kasus positif yang menyentuh angka rata-rata 6000 per hari. Bahkan, sempat menembus rekor 8000 kasus.

Diduga kuat angka penularan yang sebenarnya jauh lebih tinggi mengingat rasio lacak di Indonesia masih sangat rendah. Sampai detik ini Indonesia belum mampu memenuhi standar lacak yang ditetapkan WHO.

Setiap 1 orang positif covid-19 di Indonesia hanya 2 orang lainnya yang dilacak. Padahal, setiap 1 orang berpotensi menularkan kepada 25 orang lainnya. Parahnya, separuh dari jumlah provinsi di Indonesia rasio lacaknya di bawah 1.

Tingginya angka positif Covid-19 di Indonesia juga tidak serta merta bisa diklaim sebagai hasil dari banyaknya test yang dilakukan. Sebab hingga detik ini jumlah test di Indonesia masih di bawah standar WHO. Oleh karena itu, kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia kurang tepat dikatakan sebagai hasil dari banyaknya tes dan pelacakan. Melainkan lebih mencerminkan tingginya penyebaran dan penularan yang belum terkendali di tengah masyarakat.

Hal itu terkonfirmasi dari positivity rate Covid-19 di Indonesia sebesar 18% per 13 Desember 2020. Itu jauh di atas batas toleransi 5%. Bahkan, angkanya sempat menyentuh 20%.  Artinya dari 100 sampel yang diuji ada 18-20 yang positif Covid-19. Sebuah indikasi dari kondisi yang sangat jauh dari aman.

Kondisi parameter-parameter tersebut bertolak belakang dengan klaim pemerintah yang beberapa kali menyatakan pandemi telah mulai terkendali. Data dan angka yang ada juga sangat kontradiktif dengan persepsi aman yang terbentuk di tengah masyarakat.

Informasi-informasi pandemi di atas semestinya didorong untuk disampaikan secara jelas dan luas kepada masyarakat. Tidak bisa lagi berargumen bahwa hal itu akan menimbulkan keresahan dan ketakutan masyarakat. Sebab “aman semu” justru telah memperburuk penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat.

Ekspektasi terhadap vaksin harus dikendalikan secara tepat. Vaksinasi gratis memang perlu disampaikan dan disosialisasikan secara maksimal. Namun, perlu dibaca bersamaan dengan situasi pandemi Covid-19 di Indonesia yang memburuk dan makin berbahaya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Mengenal Lebih Dalam Anggrek Phalaenopsis amabilis, Bunga Nasional Indonesia

Phalaenopsis amabilis (L.) Blume adalah salah satu dari sekitar 36 jenis Anggrek anggota marga Phalaenopsis . Jenis anggrek ini sering dikenal dengan nama Anggrek Bulan. Padahal jika diperhatikan morfologi bunganya, Anggrek ini lebih mirip dengan kupu-kupu, sesuai dengan asal kata Phalaenopsis yakni “Phalaina”  yang berarti kumbang, kupu-kupu dan “Opsis” yang berarti bentuk. Oleh karena itu di beberapa negara Anggrek ini juga dikenal dengan nama Moth Orchid (Anggrek Kumbang). Pembentukan genus Phalaenopsis dilakukan oleh ilmuwan dunia bernama Carl Blume pada tahun 1825  berdasarkan penemuan Phalaenopsis amabilis di Nusa Kambangan, Jawa Tengah. Sebelumnya Phalaenopsis amabilis pernah ditemukan terlebih dahulu oleh Rumphius pada 1750. Namun pada saat itu Rumphius mengidentifikasinya sebagai anggota marga Angraecum . Phalaenopsis amabilis adalah anggrek epifit yang hidup menempel pada batang atau dahan tumbuhan berkayu. Batangnya sangat pendek dan tertutup oleh daun yang be

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu. (dok. pri). Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone . Isinya kurang lebih begini:   “Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”. Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut. Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggu