Langsung ke konten utama

Merayakan Kebersamaan Sains dan Agama

"Beragama dengan penuh wawasan dan berpengetahuan dalam keimanan".

Begitulah saya memaknai saripati buku SAINS "RELIGIUS, AGAMA "SAINTIFIK" ini. Sebab ternyata memang demikianlah seharusnya sains dan agama perlu dirayakan dalam satu pelukan atau dekapan hangat secara bersama-sama.

Bukan dipertentangkan layaknya dua kubu antara yang “benar” dan “salah”. Jika agama benar, maka sains berarti kafir. Atau sebaliknya, jika sains valid, maka agama sebaiknya ditinggalkan. Bukan seperti itu.

Merayakan kebersamaan sains dan agama (dok. pri).

Akan tetapi fenomena pertentangan antara sains dan agama tak bisa diingkari terus ada sampai detik ini. Perdebatannya tiada henti seolah keduanya musuh bebuyutan.

Ada kelompok agama yang menyerukan bahwa hanya agama yang layak dipercaya sebagai asal kebenaran dan tidak ada sumber pengetahuan selain agama. Sementara sains dianggap sebagai bentuk kekafiran yang harus dihindari.

Di sisi lain, para pemuja sains bersemangat menyombongkan keberhasilan-keberhasilan sains seolah tak ada kekurangan dalam sains. Mereka juga mempromosikan ideologi sains sembari menyatakan bahwa agama hanyalah sisa-sisa masa lampau dan telah terkubur seiring munculnya sains. Agama hanya akan menghambar pemikiran dan membuat manusia gagal menjadi dewasa.

Cara paling benar untuk menemukan kebenaran ialah melalui penalaran dan pengamatan yang diformulasikan ke dalam metode-metode ilmiah. Dengan cara itu sains sudah bisa menjelaskan segalanya secara sempurna. Oleh karenanya iman atau agama tidak diperlukan.

Realitas demikian bukan hanya menganggu, tapi juga membuat kenyataan yang sebenarnya menjadi kabur. Sebab secara historis tak ada konflik antara sains dan agama, dalam hal ini Islam.

Faktanya, jika menengok jauh ke belakang ketika Islam menerangi peradaban, itu dikarenakan Islam hadir bukan hanya sebagai ajaran iman atau agama. Melainkan juga sebagai  peradaban ilmu.

Peradaban Islam masa lampau  merupakan contoh terbaik bagaimana kebersamaan sains dan agama sanggup melahirkan kejayaan. Taburan kegemilangan gagasan para pemikir muslim pada masa itu diakui atau tidak telah mengilhami masa pencerahan dalam kehidupan umat manusia selanjutnya, termasuk menginspirasi peradaban Eropa. Banyak cendekiawan muslim pada masa itu tersohor sebagai pemikir hebat dan pencetus dasar-dasar ilmu di berbagai bidang yang kemudian menjadi cikal bakal sains modern.

Buku ini mencontohkan bagaimana cara berpolemik secara cerdas dan produktif. Bukan untuk menjatuhkan, tapi mencerahkan (dok. pri).

Lebih dalam lagi, Nabi Muhammad SAW pun menunjukkan bagaimana memandang sains secara benar. Beberapa sahabat dan orang terdekat Rasulullah merupakan ahli di berbagai bidang. Rasulullah juga menganjurkan kepada pengikutnya untuk mempercayakan segala sesuatu kepada ahlinya. Ini adalah teladan yang memperlihatkan bahwa antara sains dan agama bukanlah musuh satu sama lain.

Bahkan, dalam Alquran Allah telah memerintahkan kepada manusia untuk mengungkap rahasia-rahasia alam. Dengan kata lain, Islam mendorong kita untuk mengembangkan ilmu pengetahuan atau sains agar bisa memahami alam seisinya yang telah Allah ciptakan.

Banyak pula contoh dari masa modern bagaimana sains dan agama tidak saling menafikan. Seorang penerima penghargaan nobel yang mengakui bahwa teori buatannya sebenarnya terinspirasi oleh kandungan Alquran. Demikian pula banyak pemikir barat yang nonmuslim mengakui bahwa pemikiran Islam telah memberi sumbangan dan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan sains.

Oleh karenanya pertentangan yang terjadi sebenarnya bukan antara sains dan agama itu sendiri. Melainkan antara “pemuja saintisme” dan “ekstrimis agama” yang saling adu kepongahan.

Sikap pongah itulah yang harus kita hindari. Salah satu caranya dengan kembali memahami hakikat agama dan sains secara lebih mendalam. Sikap kritis diperlukan, tapi keterbukaan sangat penting.

Kemampuan untuk mengapresiasi satu sama lain lebih diperlukan dibanding mempertentangkan. Sains dan agama memang berbeda domain dan metode, tapi bukan bermusuhan. Pemikiran sains dan agama juga memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Maka keduanya justru saling melengkapi.

Meniadakan atau mengingkari salah satu antara sains dan agama hanya membuat manusia kehilangan kesempatan untuk menemukan kebenaran yang lebih luas. Sebab ada banyak sekali rahasia yang masih harus diungkap dari kehidupan alam raya ini. Sains bisa mengungkap sebagian lapisan rahasia itu. Begitu pula agama bisa menerangkan kebenaran sebagian lainnya.

Itulah mengapa kita perlu beragama dengan penuh wawasan dan berpengetahuan dalam keimanan. Dengan cara demikian manusia bisa mendapatkan sebanyak-banyaknya manfaat untuk mengarungi kehidupan.


Beragama dengan penuh wawasan dan berpengetahuan dalam keimanan (dok. pri)

Jadi, dekaplah sains dan agama secara hangat bersama-sama. Sehangat menikmati teh dan buku ini secara bersamaan.

Terima kasih Pak Haidar dan Mas Ulil atas kudapan pengetahuan yang nikmat ini!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi