Langsung ke konten utama

Masker Dilonggarkan Bukan Berarti Kita Boleh "Ugal-ugalan"

 “Kemampuan virus untuk beradaptasi dan mengelabui sistem imun manusia cenderung lebih unggul dibanding kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan ancaman virus”

dok.pribadi.

Indonesia kembali memperbarui ketentuan penerapan protokol kesehatan seiring melunaknya pandemi Covid-19. Terbaru, Presiden Jokowi pada Selasa (17/5/2022) mengumumkan bahwa penggunaan masker di area terbuka atau luar ruangan sifatnya hanya opsional. Artinya masyarakat boleh tidak menggunakan masker di ruang-ruang terbuka.

Ini kabar yang melegakan. Sebab pelonggaran mengindikasikan bahwa ancaman virus Covid-19 semakin dapat diredam dan dikendalikan.

Walau demikian, pelonggaran penggunaan masker di area terbuka seperti yang diumumkan oleh presiden sebenarnya bukan hal yang luar biasa. Sebab jauh sebelumnya kewajiban penggunaan masker sudah banyak dilanggar.

Tanpa pengumuman pelonggaran kewajiban masker, sejak lama banyak orang sudah abai untuk menggunakannya. Terutama semenjak gelombang Omicron melandai. Bahkan, sebelum itu pun kepatuhan terhadap protokol kesehatan pun menunjukkan tren yang semakin menurun.

Saat mudik lebaran kemarin, sempat saya berkunjung ke pasar tradisional yang temboknya bersebelahan dengan kantor Polres. Bisa dikatakan 70% orang di pasar itu tak menggunakan masker dan tak ada upaya pendisplinan yang memadai dari para aparat.

Lalu saya beranjak ke terminal bis di seberang Polres. Kondisinya tak berbeda. Mayoritas calon penumpang dan kru bus tak menggunakan masker. Bahkan seorang petugas dishub dan polisi yang bertugas di sana pun tak menggunakan masker.

Pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Justru semakin mengkonfirmasi bahwa pengabaian protokol kesehatan di masyarakat terjadi akibat rendahnya kesadaran serta lemahnya penindakan yang berlangsung sejak awal pandemi.

Maka ketika sekarang kewajiban penggunaan masker dilonggarkan, mereka yang selama ini abai terhadap protokol kesehatan seolah mendapatkan kemenangan dan pembenaran atas tindakannya.

Di sisi lain, berkembang misinformasi seputar pelonggaran penggunaan masker. Sejumlah media cenderung gegabah dalam memasang judul berita. Akibatnya banyak masyarakat keliru menangkap pesan penting di balik pengumuman presiden tersebut.

Di grup whatsapp beredar sejumlah potongan berita dengan judul dan narasi seolah masker tidak lagi diperlukan. Bahkan, seorang teman dengan antusias menambahkan komentar berisi ajakan untuk melepas masker segera.

Padahal, pelonggaran kewajiban penggunaan masker yang diumumkan presiden masih menekankan pentingnya masker. Pelonggaran masih terikat dengan syarat. Hanya pada kondisi yang relatif kecil risikonya kita boleh melepas masker. Yakni, di area terbuka yang tidak ramai.

Sedangkan dalam keramaian dan di tempat-tempat tertutup, masker masih perlu melekat. Orang-orang dengan risiko kesehatan tertentu, termasuk lansia, masih penting untuk membawa masker mereka. Demikian pula jika kita dalam kondisi kurang sehat, flu, atau sedang berada di kendaraan umum, masker masih dibutuhkan sebagai alat pelindung diri.

Namun, agaknya syarat dan kondisi yang masih mengharuskan penggunaan masker tersebut akan semakin diabaikan seiring pelonggaran masker di area terbuka. Banyak orang memilih untuk mengambil bagian kalimat “masker tidak diwajibkan lagi” sebagai alasan pembenar. Dibanding memahami kenyataan bahwa pandemi belum selesai dan statusnya belum dicabut.

Pelonggaran kewajiban penggunaan masker di area terbuka yang dimaknai secara tidak utuh berpotensi memunculkan perilaku dan kebijakan offiside lainnya. Opsi untuk tidak menggunakan masker di area terbuka akan dijadikan alasan untuk tidak menerapkan protokol kesehatan lainnya yang sebenarnya masih penting diterapkan.

Misalnya, cuci tangan akan dianggap tidak terlalu penting lagi sehingga fasilitas tempat cuci tangan di tempat-tempat publik akan dikurangi dan tidak lagi diurus. Westafel portabel yang kehabisan sabun atau air akan dibiarkan.

Fasilitas mencuci tangan di area publik tetap diperlukan (dok.pribadi).
Ketentuan check in dengan memindai kode cepat Pedulilindungi akan semakin diremehkan. Begitu pula pemeriksaan suhu akan dilupakan. Ini sudah saya jumpai di sebuah kantor bank beberapa waktu lalu di mana kode cepat dan alat pengukur suhu di depan pintu hanya jadi pajangan. Banyak nasabah tetap leluasa masuk meski tidak memindai kode cepat dan tidak diukur suhunya.

Ketentuan jaga jarak juga tidak akan diperhitungkan. Ini sudah tampak dari beberapa acara massal seperti festival, konser, dan pengajian. Dan akan semakin tampak di tempat-tempat publik seperti pasar dan terminal.

Tempat-tempat ibadah pun akan semakin ramai dengan jamaah yang tidak bermasker. Meski tempat ibadah sebenarnya masih perlu menerapkan protokol kesehatan, tapi pelonggaran kewajiban masker di area terbuka akan dijadikan alasan atau pembenaran untuk melonggarkan aturan-aturan lainnya.

Apa mau dikata. Banyak orang memang ingin segera pandemi ini berakhir. Saya pun demikian. Berharap bisa lebih leluasa lagi seperti sebelum ada Covid-19.

Akan tetapi mari kita bersabar sedikit lagi. Menahan diri sedikit lebih lama lagi. Masker memang sudah boleh dilonggarkan, tapi bukan berarti aturan-aturan tidak dibutuhkan lagi. Belum saatnya kita bisa “ugal-ugalan” lagi seperti dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Berjuta Rasanya, tak seperti judulnya

“..bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu..” 14 Mei lalu saya mengunjungi toko buku langganan di daerah Gejayan, Yogyakarta. Setiba di sana hal yang pertama saya cari adalah majalah musik Rolling Stone terbaru. Namun setelah hampir lima belas menit mencarinya di bagian majalah saya tak kunjung mendapatinya. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri puluhan meja dan rak lainnya. Jelang malam saya membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku dari sana. Bersampul depan putih dengan hiasan pohon berdaun “jantung”. Sampul belakang berwarna ungu dengan beberapa tulisan testimoni dari sejumlah orang. Kembali ke sampul depan, di atas pohon tertulis sebuah frase yang menjadi judul buku itu. Ditulis dengan warna ungu berbunyi Berjuta Rasanya . Di atasnya lagi huruf dengan warna yang sama merangkai kata TERE LIYE . Berjuta Rasanya, karya terbaru dari penulis Tere Liye menjadi buk