Ia lahir 27 Januari 1943. Puluhan novel dan ratusan cerpen ia cipta. Salah satu karya terbesarnya, Karmila, menjadi tonggak bersejarah bagi Penerbit Gramedia. Namun, siapa sangka selama puluhan tahun ia memendam luka dan trauma akibat rangkaian nasib tragis pada masa kecil. Memoar “Seandainya” merupakan upayanya untuk melepaskan timbunan kepedihan dan kesakitan, serta menyelamatkan jiwa.
_20260127_192307_1.jpg)
"Seandainya", sebuah memoar oleh Marga T (dok. pri).
Terlahir dengan nama Tjoa Liang Tjoe membuat banyak orang salah sangka. Marga T dianggap akronim dari Marga Tjoa. Padahal itu merupakan bentuk pendek dari nama baptisnya “MARGA (re) T” alias Margaret.
Pada usia 5 tahun ia sudah menulis surat untuk kakeknya. Pada usia 6 tahun ia membayangkan seandainya bisa menulis buku cerita yang bagus. Dua tahun kemudian sebuah cerita yang ditulisnya untuk tugas sekolah dibacakan oleh gurunya di depan kelas sebagai karangan terbaik.
Semenjak kecil pula Marga T telah memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia akan mengajukan banyak pertanyaan untuk sesuatu yang mengusik pikiran dan hatinya. Orang-orang di sekitarnya sering kepayahan meladeni pertanyaan-pertanyaan dari mulutnya.
Marga T menggemari musik dan mahir bermain piano. Baginya mendengarkan musik seperti menghirup udara ketika bernafas. Inspirasi untuk novel-novelnya pun sering muncul tatkala ia sedang mendengarkan musik.
Terkenal Sekaligus Misterius
Persona publik Marga T unik dan menarik. Selain namanya yang mengandung teka-teki, sosoknya juga terlampau “sederhana” untuk seorang penulis yang sangat terkenal. Banyak orang mengetahui nama Marga T, tapi dirinya jarang terekspos.
Ketika banyak penulis lain muncul di berbagai acara seminar, bedah buku, atau pelatihan menulis, Marga T seolah memilih menepi. Ketika detail pribadi para penulis dihadirkan dan dipublikasikan untuk membangkitkan minat pembaca dan penggemar, wajah Marga T justru tak segera dikenali. Ia membiarkan karya-karyanya yang menyapa publik. Sedangkan dirinya biarlah tetap Marga T yang biasa.
Dalam beberapa hal Marga T bisa disebut misterius. Seorang editor Gramedia yang menangani buku-bukunya selama belasan tahun mengaku belum pernah bertatap muka langsung dengan penulis kenamaan ini.
Marga T memang tidak ingin terlalu dikenal oleh masyarakat. Ia pernah berusaha merahasiakan dari orang-orang bahwa ia adalah penulis atau pengarang cerita-cerita yang sedang digemari pembaca. Dalam memoar “Seandainya” ia mengungkap beberapa alasannya. Salah satunya ialah supaya ia tetap bisa leluasa menumpang bis atau menonton di bioskop. Alasan lain dilatari pengalaman tidak mengenakkan yang ia terima dari saat menghadiri beberapa acara. Marga T kerap dipandang sebelah mata karena tubuhnya yang mungil dan karena ia keturunan Tionghoa.
Di sisi lain, sejak awal kemunculannya sebagai penulis Marga T segera memancing rasa ingin tahu orang. Beberapa wartawan mencoba mengungkap siapa sosok “MT”, si pendatang baru yang cerpen-cerpennya banyak dimuat di koran pada masa itu.
Teman-temannya saat kuliah di kedokteran pun dibuat penasaran dengan inisial MT yang tercetak di cerpen-cerpen Kompas. Apalagi tulisan-tulisan MT banyak berlatar peristiwa di rumah sakit, bertabur istilah medis, dan dengan tokoh dokter sebagai lakonnya. Suatu hari setelah mencermati peristiwa dan karakter di dalam cerita-cerita tersebut, seorang temannya berhasil mengetahui bahwa penulis MT tidak lain ialah Marga T.
Bukan Karmila, tapi Anita
Pada tahun 1970-1971 sebuah cerita bersambung berjudul Karmila di koran Kompas menjadi sangat populer. Tak lama kemudian Karmila diterbitkan dalam bentuk novel oleh Penerbit Buku Gramedia.
Karmila pun menjadi yang terlaris dan sebuah tonggak penting ditorehkan oleh penerbitnya karena Karmila merupakan novel atau karya fiksi pertama yang diluncurkan oleh Gramedia. Dengan demikian sejarah dan eksistensi awal Gramedia Pustaka Utama tak bisa dilepaskan dari Karmila dan Marga T.
Sejak saat itu Karmila dikenal luas sebagai novel pertama Marga T. Namun, Karmila sebenarnya bukan yang pertama. Kepada PK Ojong, salah satu pendiri Kompas Gramedia, Marga T mengaku bahwa sebelum Karmila ia pernah mengirim naskah berjudul Anita ke Gramedia. Lama menunggu, tapi tak pernah ada kabar tentang nasib Anita.
PK Ojong yang terkejut lalu menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki keberadaan naskah tersebut. Sayangnya Anita tak pernah ditemukan. Marga T menduga naskah Anita sebenarnya telah sampai ke penerbit. Akan tetapi seseorang kemungkinan melenyapkannya karena novel Anita memuat hal yang dianggap tabu dan sensitif pada masa itu. Yakni tentang kisah cinta seorang wanita Tionghoa dengan laki-laki pribumi.
Marga tak sempat membuat salinan Anita karena tak memiliki uang untuk menggandakannya. Dengan lenyapnya naskah Anita, novel pertama Marga T itu pun tidak pernah terbit.
Tersiksa Tradisi
Ia tumbuh di keluarga Tionghoa peranakan yang memegang erat tradisi leluhur. Kedua orang tuanya sangat patuh pada adat Tionghoa, termasuk mempercayai hal-hal yang sifatnya takhayul. Suatu hal yang kelak menjadi awal petaka bagi Marga T.
Sedari bocah Marga telah menelan kepedihan dan kepahitan hidup yang menurutnya sebagian bersumber dari tradisi Tionghoa. Dalam memoar “Seandainya” ia banyak menggugat dan mengungkapkan kebenciannya terhadap praktik serta akibat dari tradisi tersebut. Misalnya, sebagai anak perempuan Marga mengalami diskriminasi sejak dini karena bagi keluarga Tionghoa hanya anak laki-laki yang dianggap memiliki arti penting dan bisa meneruskan nama keluarga. Apalagi Marga merupakan anak pertama, sedangkan ayahnya sangat menghendaki anak pertamanya seorang laki-laki.
Marga juga tersiksa karena harus memanggil ibu dan ayahnya dengan sebutan “tante” dan “om”. Hal itu karena orang tuanya percaya pada anjuran seorang sinshe yang mengatakan ada roh jahat sedang mengusik keluarga mereka dan ingin mengganggu anak-anak. Oleh karenanya untuk mengelabui roh jahat, anak-anak harus mengganti sapaan kepada orang tua mereka.
Dalam hatinya Marga memberontak pada kepercayaan takhayul semacam itu. Namun, seorang bocah tak memiliki daya, apalagi ketika kedua orang tuanya sendiri memilih untuk mematuhi tradisi dan kepercayaan tersebut. Kehilangan hak untuk memanggil orang tuanya dengan wajar menjadi salah satu pengalaman traumatis sepanjang hidup Marga.
Trauma dan Derita
Marga T sangat dekat dengan ibunya. Ia mengagumi sang ibu sebagai wanita yang pandai memasak, ahli membuat kue, pintar menjahit, serta mengerti kebutuhan anak-anaknya.
Namun, tidak demikian dengan sang ayah. Marga menyebut ayahnya sebagai orang yang ahli melakukan kekerasan psikis. Perangainya yang emosional dan sewenang-wenang membuat Marga harus mengalami rentetan trauma dan derita. Apalagi setelah sang ibu meninggal dunia saat usia Marga baru 9 tahun.
Kehilangan sang ibu membuat hidup Marga T menjadi kelam. Dunianya sebagai seorang anak seketika kacau balau. Sejak itu ia menjadi kakak sekaligus pengganti ibu bagi adik-adiknya yang masih kecil. Sedangkan kasih sayang seorang ayah hampir tak pernah didapatkan. Justru tabiat sang ayah menambah luka dan kemalangan Marga T.
Ayahnya lebih peduli kepada orang tua dan keluarga besarnya dibanding memperhatikan anak-anaknya sendiri. Dengan uang pemberian sang ayah yang terbatas, Marga harus mengaturnya untuk memenuhi kebutuhannya dan adik-adiknya. Kadang ia harus menahan lapar demi memastikan adik-adiknya mendapatkan jatah makan. Marga T juga sering terpaksa menyerahkan barang-barangnya kepada kerabat ayah karena ia tahu sang ayah takkan berpihak padanya. Lagi-lagi, tradisi Tionghoa yang mewajibkan anak laki-laki berbakti pada keluarga besar dianggap oleh Marga T sebagai sesuatu yang buruk.
Suatu hari Marga T mengalami kekerasan fisik yang keji dari sepupunya. Tubuh kecilnya diseret, dibanting, dan ditendang. Kepalanya pun dibenturkan hingga mulutnya berdarah. Saat mengadu kepada sang ayah, Marga T justru semakin terluka karena ayahnya bersikap tak peduli. Hatinya bertambah pedih karena si sepupu berlanjut memfitnahnya seolah siksaan fisik belum memuaskan.
Marga T memilih memendam luka dan pedih hatinya sendirian. Pengalaman pahit itu terus menetap dalam jiwanya sebagai trauma yang tak kunjung sembuh. Apalagi tak ada permintaan maaf dari si sepupu yang telah menyiksanya. Puluhan tahun kemudian, perlakuan keji itu baru terbongkar. Satu beban terlepas dari diri Marga T berkat dorongan sang suami yang memintanya untuk berani bersuara.
Marga T memang mengakui dirinya kurang berani untuk melawan secara terbuka segala ketidakadilan dan perlakuan buruk yang dialaminya sejak kecil. Ia kurang bisa tegas dan memilih tetap melayani kebutuhan keluarganya. Sikapnya yang terlalu peduli itu justru dimanfaatkan oleh ayah dan saudara-saudaranya. Ia dijadikan sapi perah.
Ketika Marga kuliah di Jerman, ayahnya selalu meminta kiriman uang. Bahkan, ketika sudah kembali ke Indonesia, Marga T harus membayar sejumlah uang sebagai “biaya mengontrak” di rumah mereka sendiri. Pernah pula Marga T diminta menyerahkan uang royalti film Karmila dan Badai Pasti Berlalu dengan dalih uang itu akan dikelola dengan baik oleh sang ayah.
Setiap pemberian dari sang ayah juga harus Marga T ganti dengan sejumlah uang. Bahkan sebuah boneka atau sehelai pakaian yang bagus tak bisa Marga mengharapkan ayahnya akan memberikan dengan tulus.
Di sisi lain, ayahnya mengadu domba antara Marga T dan para adiknya. Sesuatu yang tragis dialami oleh Marga karena adik-adiknya yang saat kecil ia jaga dan kasihi, saat dewasa justru tidak bersahabat dengan dirinya. Kenyataan itu membuat hati Marga bertambah sakit.
Menulis, Menyelamatkan
Ketika masa kelam sudah tertinggal jauh di belakang, cobaan lain menghampiri. Marga T divonis mengidap kanker. Kenyataan itu membuatnya frustasi dan hancur.
Dokter yang menangani penyakitnya mengatakan bahwa perkembangan sel-sel kanker bisa terkait dengan trauma-trauma yang menumpuk dalam jiwanya sejak kecil. Marga yang juga seorang dokter memahami hal itu. Rasa trauma yang tak lekas sembuh memang bisa mengganggu keseimbangan produksi hormon. Dalam jangka panjang faktor itu memperbesar potensi munculnya kanker saat seseorang telah dewasa dan tua
Meski demikian akhirnya Marga menyadari bahwa berbagai luka, trauma, dan peristiwa tragis yang menimpanya pada masa lalu merupakan sesuatu yang mesti dijalaninya mengikuti garis kehidupan. Ia tak ingin pikiran dan tubuhnya semakin rusak karena memendam sakit hati. Maka ia pun terus menulis sebagai salah satu cara melepaskan siksaan serta mengungkap kebenaran.
Memoar ini ditulis dan diterbitkan pada 2021 dalam bahasa Inggris berjudul “If Only”. Lalu pada 2024 diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai “Seandainya”, bertepatan dengan peringatan 50 tahun Gramedia Pustaka Utama.
Walau penuh kejujuran dan blak-blakan, Marga T menyiapkan memoar ini bukan sebagai balas dendam, melainkan untuk menyelamatkan jiwa dan pikirannya. “Seandainya” juga memperlihatkan betapa luar biasanya daya ingat Marga T yang sanggup merekam serta memanggil kembali peristiwa-peristiwa yang telah lewat hampir setengah abad ke belakang.
Pada 17 Agustus 2023 Marga T berpulang. Ia dimakamkan di Australia. Seperti ia menjalani hidupnya dengan sederhana dan tidak ingin terlalu dikenal, pemakamannya pun hanya dihadiri dan diantar oleh sedikit orang yang membersamainya di hari-hari terakhir.



Komentar
Posting Komentar