Langsung ke konten utama

Suami Terbaik. I : Dia Datang Semalam

“Aku bermimpi kau mengatakan kau rela
Bila ada bidadari pengganti dirimu”

 Kami berpisah sangat lama. Mungkin hampir 5 tahun. Kami pun sama-sama sempurna menghilang. Bahkan jejaring sosial sama sekali tak menghubungkan kami waktu itu. Aku dan dia bahkan tak sempat saling menjadi “teman” di dunia maya itu. Dan aku waktu itu tak berfikir untuk tahu tentangnya lagi. Sekedar iseng menguntit timeline twitter atau status facebook pun tak pernah ku lakukan. Entah dia, rasanya juga tak mungkin.

Sebuah kejadian masa lalu telah membuat jalinan cerita kami jadi begini. Lebih-lebih ada benteng yang teramat tinggi di antara kami.

Suatu ketika aku mendengar tentangnya dari sebuah perbincangan tak sengaja di bandara dengan seorang sahabatnya yang juga teman lamaku. Akhirnya aku tahu kalau dia menekuni karirnya dengan berpindah-pindah kota bahkan negara.

Waktu  benar-benar menyimpan banyak rahasia. Dan sekali-kali satu beberapa rahasia itu terbuka menjadi sebuah kejutan. Dua tahun yang lalu aku dan dia akhirnya bertemu. Waktu, tempat dan kejadiannya serba tak terduga. Terlalu hebat untuk dikatakan sebuah kebetulan. Tapi juga jelas bukan sebuah rencana yang sempurna diatur, kecuali olehNya.

Saat itu aku bersama beberapa rekan melakukan pendampingan untuk sebuah perusahaan besar yang telah membuka cabang di kota tetangga. Hari pertama berjalan seperti biasa. Kami hanya mengunjungi lokasi pabrik dan kantor selama 2 jam.

15 Agustus 2015. Aku akan selalu mengingat tanggal itu. Hari ke-2 kunjungan. Sedari pukul 8 pagi kami sudah tiba. Dua jam setelah berkeliling lokasi kantor dan pabrik, kami melaksanakan audiensi dengan beberapa orang penting perusahaan termasuk dengan ketua dan anggota tim penelitinya.

Diantar manajer HR kami berjalan menuju ruang pertemuan. Jaraknya lumayan jauh karena ruangan itu ada di gedung C, sementara kami berjalan memutar dari lokasi pabrik menuju gedung A. Dua rekan lainnya sudah menunggu di sana. Dan dari gedung A kami baru berjalan menuju gedung C.

Suasana di gedung C ternyata sangat berbeda. Dekorasi lobinya sederhana namun cukup hangat dengan beberapa lukisan tergantung di dinding bercat krem. Ditambah beberapa vas di sudut ruang  terisi bunga potong, asli, bukan bunga plastik. Mungkin kantor ini menyewa secara khusus konsultan interior. Pikirku dalam hati.

Ruang pertemuan ada di lantai 2. Di lantai itu untuk sampai ke sana kami melewati beberapa ruang kerja karyawan yang tampak seragam, entah ukurannya, pintunya, catnya, gorden bahkan kesetnya pun sama. Iseng aku pun melemparkan pandangan ke setiap nama yang terpasang di pintu, lengkap dengan jabatannya.

“Nah itu yang pintunya terbuka”. Manajer HR menunjuk sebuah ruang yang pintunya terbuka, itulah tempat kami sudah ditunggu untuk audensi dan mendengar presentasi pihak perusahaan. Jaraknya masih beberapa langkah lagi dan aku masih asyik melihat nama-nama di tiap pintu yang terlewati.

Dan pandanganku tiba-tiba terpaku pada sebuah pintu. Tak sampai 1 detik rangsang itu sampai di jantung lalu menjalar ke seluruh tubuh. Kini bukan pandanganku saja yang kaku namun badan beserta ruh ku kompak mengejang. Nama yang tertulis di pintu itu. Siapa namanya ?? Ya itu namanya. Nama yang tak asing buatku. Langkahku memelan. “Benarkah ia ??”. Hatiku bertanya sendiri.

“Hei, ayo cepat !!”. Seorang rekan memanggilku dari depan pintu masuk ruang audiensi. Lamunanku buyar. Terima kasih kawan. Aku setengah berlari menyusul mereka. “Ah, di dunia ini banyak nama kembar tapi orangnya beda. Namaku saja ada banyak sekali kalau dicari di google”. Pikiranku mencoba meredakan galau yang sekejap telah menguasai perasaan.

Selangkah melewati pintu aku melempar pandangan ke isi ruang. Sambil berjalan  mataku menyapu semua sudut ruang hingga tak disangka-sangka padanganku berhenti seketika di ujung sana. Tatapanku bertabrakan dengan sebuah tatapan lainnya. Aku terkejut. Sedetik aku merasa pandanganku jadi gelap kembali. Lalu aku seperti bisa mendengar bunyi jantungku sendiri. Keras sekali. Ternyata benar dia. Sekilas diapun tampak terkejut. Meski sepertinya ia jauh lebih tenang dariku yang diam-diam menggalau.

Semua masih sama darinya. Hampir tak ada yang berubah. Ada memang, tapi sedikit dan itu tak cukup untuk membuatku tak mampu mengenalinya.

Dengan tenang (cuma kelihataannya saja) aku melangkah duduk di sebelah 2 rekanku yang sudah siap dengan sejumlah berkas terbungkus map. Aku duduk kemudian mengeluarkan laptop. Huft..diam-diam kutarik nafas panjang. Lalu kuhembuskan sekalian mengusir perasaan galau yang masih berkeliaran memenuhi perasaan.

Itulah kejadian yang mengantarku untuk pertama kali melihatnya lagi setelah 5 tahun. 5 tahun setelah kami menjalani bagian hidup kami masing-masing. 5 tahun setelah aku dan dia sama-sama sempurna menghilang. Dan Tuhan benar-benar menunjukkan caraNya sendiri dalam mempertemukan kami. Cara yang bahkan begitu elegan dan sering sukar dipercaya. Pada akhirnya nanti aku membuktikan sendiri kuasaNya. Seseorang yang awalnya sukar dibayangkan menjadi jodoh bisa kita dibuat menjadi jodoh selagi ada niat suci ke pernikahan. Dan jika aku menceritakan ini pada sembarang orang mungkin mereka akan sulit percaya. Istriku adalah wanita yang tak sempat menjadi kekasih formal ku. Aku melamarnya  6 bulan sesudah perjumpaan di ruangan itu. Dan 6 bulan kemudian kami menikah. Ya, aku dan dia. Waktu itu banyak orang yang terkejut setengah mati. Tentu saja itu berlaku untuk mereka yang tak menyimak cerita lama kami. Sebuah cerita panjang yang sempat terputus selama 5 tahun. Mereka tidak tahu itu. Tapi pada akhirnya satu demi  satu dari mereka mengerti.

Semalam aku dan dia bertemu di tempat dulu aku melamarnya. Dia cantik sekali. Rambut sebahunya dia ikat seperti biasa, tapi juga seperti biasanya lagi, ikatannya tak pernah rapi. Selalu ada yang terurai di bahunya. Aku pernah berkata aku suka caranya mengikat seperti itu. Dan dia demi mendengar itu matanya langsung melotot, dikiranya aku mengejek. Dia kesal tapi aku suka melihatnya kesal demikian. Dia makin cantik. Tapi kemarin malam dia jauh lebih cantik dari biasanya. Dia datang menemani mimpiku. Lembut dia bisikkan, “nanti kalau ada bidadari datang sambutlah dia, dia akan menggantikanku menyeterika bajumu, pemalas..”. Dia tersenyum. Aku terbangun. Ada sisa air di sudut mata. Hangat dan masih basah.

bersambung.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …