Langsung ke konten utama

"JANGAN HINA KAHITNA" (sebuah catatan jelang 27 tahun KAHITNA)


Saya mencoba mengingat-ingat lagi tanggapan seorang pembaca pada sebuah tulisan saya tentang KAHITNA sekitar 2,5 tahun lalu. Pada kolom komentar, ia meninggalkan pesan berbunyi “Jangan Hina KAHITNA”. Jujur saja saya tertawa membacanya saat itu. Tapi saya juga terlambat mengerti apa maksud dari ungkapan yang ia katakan sebagai bentuk dukungan kepada musik Indonesia. Ketika itu saya berfikir “Jangan Hina KAHITNA”  hanyalah sebuah komentar spontan yang mengambil nama KAHITNA untuk mewakili separuh  musik Indonesia. Tapi malam ini saya baru mengerti jika “Jangan Hina KAHITNA” ternyata sesuatu yang benar-benar ada dan eksis di masa 2007 sampai 2008.


Adalah seorang penulis buku sekaligus pesohor bernama Miund yang menginisiasi “Jangan Hina KAHITNA” sebagai sebuah gerakan unik. Saya tak mengerti alasan pasti di balik gerakan yang ia hembuskan dan seketika menjadi populer di masa itu. Meski disampaikan dengan gaya tulisan yang terkesan hanya canda, tapi Miund serius mengusung gerakan itu dalam konteksnya sebagai penggemar berat grup band KAHITNA.

Berikut ini saya salin isi pernyataan “Jangan Hina KAHITNA” yang dideklarasikan Miund di dalam web site pribadinya pada 13 November 2007.

“Berbekal pengalaman karaoke bertahun-tahun dan yang terkini adalah malam Minggu kemarin, maka dengan ini saya dan sahabat saya Neng Wenni, resmi melancarkan gerakan JANGAN HINA KAHITNA. Manifesto dari gerakan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mereka yang ingin menghina, jangan mencaci MUSIK dari kelompok ini.
2. Penyiletan terhadap salah satu anggota seperti di website ini sah-sah saja, asal tidak mencaci MUSIK dari kelompok ini.
3. Pendukung gerakan WAJIB menyanyikan paling tidak SATU LAGU kelompok ini setiap kali ia berkaraoke”.

Akhirnya saya mulai bisa menerka pesan dan latar di balik gerakan “Jangan Hina KAHITNA” ini. Tak dipungkiri sebagai grup band yang berdiri pada 24 Juni 1986, KAHITNA tak bisa lagi disebut grup musik ABG. Hal ini membuat untuk hal tertentu segelintir orang memandang aneh ke arah KAHITNA yang masih saja mengumbar cerita cinta gaya ABG. Lagu-lagunya yang cenderung cengeng sering dipandang kurang pantas lagi untuk dibawakan oleh grup yang sudah berusia 27 tahun. Di sisi lain musik KAHITNA juga kerap dianggap “begitu-begitu saja”.

Tapi anggapan itu jelas hanya dimiliki oleh orang yang asing dengan musik Indonesia. Mereka yang memandang remeh musik KAHITNA boleh jadi merupakan korban dari serbuan band-band spesialis acara musik pagi atau grup-grup karbitan yang memainkan musik serba seragam, suara serba sama dan cengkok yang dibuat-buat.

Kenyataanya KAHITNA justru menjadi salah satu ikon musik pop Indonesia. Sebagian wajah musik pop khas Indonesia dianggap ada pada KAHITNA. Bukan itu saja, grup beranggotakan 9 personel ini juga dipandang sebagai salah satu penjaga wibawa musik Indonesia. Bersama sejumlah nama seperti Slank, Gigi dan Sheila On 7, KAHITNA berada di jajaran terdepan grup pop Indonesia terbesar selama 2 dekade terakhir.


Secuil stigma  terhadap KAHITNA juga menular kepada penggemarnya yang dulu disebut KAHITNAmania, kini soulmateKAHITNA. Karena menyenangi KAHITNA, para penggemarnya kerap dipandang sebagai orang yang cengeng, mudah galau dan kalau dia laki-laki pasti dianggap aneh. Oleh karena itu gerakan “Jangan Hina KAHITNA” boleh dianggap sebagai  ajakan serangan balik dengan menyanyikan lagi lagu-lagu KAHITNA setiap hari. Memang terkesan fanatik, tapi juga diperlukan untuk menetralkan ruang dengar kita yang sudah jenuh dengan musik yang serba seragam dari deretan grup follower.

“Jangan Hina KAHITNA” boleh jadi hanyalah sebuah gerakan yang mewakili kekaguman personal sekaligus kekesalan seorang penggemar ketika idolanya dipandang remeh dan dihina. Tapi “Jangan Hina KAHITNA” sesungguhnya mengandung pesan yang sangat kekinian. Selain susah ditandingi, eksistensi KAHITNA bersama sejumlah band yang sudah disebutkan di atas mampu menyelamatkan wajah musik Indonesia di tengah hajaran grup-grup prematur yang dipaksakan mengisikan panggung saat ini.


Oleh karena itu menghina KAHITNA boleh jadi sama dengan penghinaan kepada wajah musik Indonesia. Terdengar berlebihan memang, tapi lebih keterlaluan lagi jika kita menjadikan grup-grup prematur saat ini sebagai wajah musik Indonesia yang sesungguhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …