Langsung ke konten utama

PAGI yang MEMULAI KEHIDUPAN dan SAWAH yang PENUH HARAPAN

Hari baru dimulai, mentari baru saja naik memerahkan langit. Tapi bagi mereka hari sudah cukup siang untuk meniti kehidupan. Udara dingin, tanah becek berair sudah biasa. Bahkan tubuh renta tak pernah mengeluh tentang beratnya mendorong traktor membajak sawah.
Sementara itu di pinggir sawah beberapa yang lain mulai menyusul. Sebentar mereka saling tegur dan berbincang. Cahaya pagi membuat semuanya semakin hangat. Tak lama kemudian mereka turun ke sawah, mulai mencangkul, meratakan lahan dan menyiapkan benih. 




Pekerjaan kini berganti tangan. Para lelaki tak lagi menguasai sawah. Buruh-buruh wanita menggantikan tugas mereka. Dengan terampil mereka menanam benih sambil berjalan mundur. Sepintas pekerjaan yang mudah, tapi cobalah sendiri, sampai keringat habis belum tentu banyak orang sanggup seperti mereka. 
Hingga akhirnya mereka menyelesaikan tugas mulia nya menanam padi untuk mengisi perut orang-orang kota yang selama ini mungkin meremehkan mereka dan tak mengerti bagaimana beratnya menjalani hidup sebagai petani di negeri ini, menjadi makanan orang-orang kaya yang mungkin menggelapkan subsidi pupuk dan benih untuk mereka. Bagi saya para petani itu adalah pahlawan bagi banyak orang meski  sering mereka sendiri kekurangan.
Sawah ini sesungguhnya bukan hanya ladang yang ditanami padi melainkan saksi bahwa di sinilah sebuah harapan digantungkan dan sebuah kehidupan mungkin dimulai. Indonesia adalah negara agraris tapi petaninya tak pernah bebas menikmati hangatnya nasi dari padi yang mereka tanam sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …