Dalam hidup pasti selalu ada hal yang ingin kita sesali untuk beragam alasan. Itu hal yang manusiawi. Penyesalan datang karena manusia mampu menilai dan mengevaluasi apa yang sudah terlewati, apa yang telah terjadi. Tapi sepanjang itu pula selalu satu alasan yang sama untuk tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Yaitu, jika sudah melewatinya dengan kebaikan yang tertinggal, tak ada yang harus kita sesali.
Satu yang tak berubah dan tak ingin saya ubah adalah saya seorang anak desa. Anak desa yang lalu hijrah belajar di kota besar. Anak desa yang semenjak itu selalu rindu untuk mengulang atau sekedar mengingat masa-masa kecilnya yang telah terlalui. Berjalan-jalan di sawah, sembunyi-sembunyi membuang makanan yang tak habis dimakan, ikut ibu ke pasar, berkelahi sepulang sekolah, kabur diam-diam dari rumah untuk bermain hingga menikmati jajanan masa kecil. Salah satunya adalah makanan tradisional yakni kue putu. Dulu saya sangat suka meminta jajan kue putu. Pasti banyak yang tahu seperti apa kue putu itu. Kue tradisional terbuat dari beras dengan isian gula merah yang dibuat dengan cara dipanaskan menggunakan uap panas, disajikan dengan parutan kelapa dan kadang ditaburi gula pasir. Dulu saya suka menanti pedagang kue putu lewat di depan rumah, biasanya sore hari sampai jelang senja. Ia datang dengan pikulan di pundak, pasti berat. Mendengar bunyi tiupan uap panasnya dari jauh saya ...

yang peting segala sesuatu yg kita lakukan harus kita lakukan dengan percaya diri agar tidak ada penyesalan, ya kalau pun ada rasa sesal ya cuma sedikit, hehehe
BalasHapus