Langsung ke konten utama

Menonton Konser KAHITNA yang Lebih "Ramah Hati"



Ada banyak cinta, ada banyak sayang, ada juga mantan yang terindah…
namun hanya satu…KAHITNA”

Musikal di atas mengalun di Semarang, 2 September 2016 lalu. Dilanjutkan overture dari beberapa lagu hits KAHITNA yang serempak ditirukan liriknya oleh penonton. Bagi yang menyaksikan Love Festival 30 Tahun KAHITNA di JCC, ini adalah pembukaan yang kurang lebih sama dengan konser 13 Februari yang lalu.
Super Show 30 Tahun KAHITNA!!
Ini adalah kedua kalinya saya menonton konser KAHITNA di Semarang setelah pada 2012 berdiri di depan panggung Konser HATI. Selain itu, Super Show “Rahasia Cinta” jadi pelampiasan saya setelah gagal menonton KAHITNA Love Festival. Saat itu, di hari ketika ribuan orang merayakan 30 Tahun KAHITNA, saya justru terbang di atas langit Jakarta. Beberapa bulan kemudian saya pun terpaksa meninggalkan konser KAHITNA di Malang meski sudah membeli tiketnya jauh-jauh hari. Oleh karena itu, saya cukup antusias datang ke Semarang. Sambil berharap lagu  “Tak Mampu Mendua” akan dibawakan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun saya menonton mereka.

Semenjak hari itu hati ini miliknya...
Penonton langsung bersorak saat nama KAHITNA dipanggil menyusul selesainya penampilan Pasto yang jadi pembuka. Riuh tepuk tangan terdengar saat satu persatu personel KAHITNA masuk diawali Dody Is dan Yovie Widianto jadi yang terakhir menampakkan wajahnya. KAHITNA pun membuka konser dengan lagu lawas Bagaimana  disambung Lajeungan lengkap dengan tarian unik tiga vokalisnya. Setelah itu tak ada waktu untuk memalingkan muka. Semua energi hanya untuk menikmati hangatnya cinta bersama KAHITNA.
"Di dalam benakmu, namun aku setia dan sabar menunggu kau mengerti..."

Seperti yang sudah-sudah, playlist malam itu pun diisi judul-judul langganan semisal Tentang Diriku, Andai Dia Tahu, Katakan Saja, Cerita Cinta, Cantik, Soulmate, Aku Dirimu Dirinya, Tak Sebebas Merpati, dan  Takkan Terganti. Lagu-lagu itu terbukti meringankan vokalis KAHITNA karena penonton selalu senang menjadi backing vokal mereka.

KAHITNA juga membawakan lagi Adakah Dia. Di konser HATI 4 tahun lalu saya juga menyaksikan lagu ini dinyanyikan. Saat itu KAHITNA tampil bersama dua vokalis lama mereka yaitu Netta KD dan Rita Effendi. Umur lagu yang sudah cukup lama membuat banyak penonton lebih banyak diam saat lagu ini dinyanyikan. Wajar saja karena banyak di antara penonton adalah generasi Y dan Z yang lebih familiar dengan Mantan Terindah.

Gimmick dan kedekatan yang dibangun oleh ketiga vokalis KAHITNA membuat suasana konser semakin seru dan intim. Seperti biasa saling ledek antara Hedi, Carlo dan Mario terjadi beberapa kali. Yovie yang duduk diam pun tak lepas dari sindiran Hedi Yunus yang mencoba memancing kenangan lama di balik lagu-lagu KAHITNA. Itulah KAHITNA yang membuat panggung mereka lebih dari sekadar konser, tapi menjadi sebuah pertunjukkan yang hidup.

Malam itu KAHITNA juga masih melakukan ritual menarik dan "membully" penonton ke atas panggung. Jika biasanya dilakukan saat lagu Tak Sebebas Merpati, kali ini KAHITNA memboyong seorang penonton wanita untuk menemani mereka di lagu Menikahimu. Karena menjadi bagian dari promosi album baru, KAHITNA pun menyanyikan 3 lagu anyar andalannya yakni Rahasia Cinta #Baper, Kulakukan Dengan Cinta, dan DI Sekitar Senayan.
"Sungguh aku sayang kamu..."
Tak terasa tiba-tiba lagu Cantik sudah dibawakan. Itu tandanya KAHITNA segera pamit dari panggung. Tak percaya dengan waktu yang berjalan cepat, saya pun mengintip jam. Waktu belum meninggalkan pukul 10 malam tapi konser sudah hampir selesai. Rasanya ini adalah pertama kalinya di mana saya bisa pulang menonton KAHITNA sebelum jam 11 malam. Tahun lalu saja saya pulang menonton konser mereka pukul 01.00. Oleh karena itu, Super Show ini bisa dibilang sebagai "konser baik-baik"

Super Show di Semarang juga menjadi konser KAHITNA yang paling “ramah hati” karena tak ada lagu-lagu supergalau seperti Nggak Ngerti dan Mantan Terindah. Meskipun demikian, konser malam itu tetap menyisakan kesan yang sama untuk saya setiap kali menonton mereka. Susah lupa!. Meski untuk sekian kalinya lagu yang saya tunggu-tunggu tak terdengar.

Video Super Show KAHITNA: Menanti.
Video Super Show KAHITNA: Banyak lagu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi