Langsung ke konten utama

Mencicipi "Lumpur Kentang" di Pasar Oro-oro Dowo Malang


Lumpur Kentang Wolak-Walik dari Pasar Oro-oro Dowo (dok. Hendra Wardhana).

Sabtu (17/12/2016) pagi itu udara Kota Malang terasa sejuk. Meski masih sedikit basah dan dingin karena gerimis yang mengguyur malam sebelumnya, tapi kaki saya terus melangkah. Setelah sarapan di daerah Klojen, saya beranjak menuju daerah Oro-oro Dowo. Tujuannya adalah melihat Pasar Oro-oro Dowo yang belum lama diresmikan.

Tak ada rencana khusus di pasar tersebut selain melihat-lihat wujud dan suasana pasar. Rencananya saya pun hanya sebentar di sana. Namun, apa boleh buat saya justru bertahan agak lama di dalamnya. Sebuah tempat berjualan yang tepat menghadap pintu masuk pasar menarik perhatian saya. Meski tempatnya kecil namun beberapa orang silih berganti berdatangan. Sebentar mereka duduk lalu pergi sambil membawa kotak bungkusan.

Wangi yang tercium dari tempat itu akhirnya menarik saya untuk bertandang. Setelah melihat sebuah spanduk kecil di dindingnya saya semakin penasaran. “Lumpur Kentang Wolak-Walik”. Apa gerangan jajanan ini?.
Pasar Oro-oro Dowo di Kota Malang (dok. Hendra Wardhana).
Ternyata “Lumpur Kentang Wolak-Walik” adalah kue lumpur. Pembuat sekaligus penjualnya adalah seorang ibu muda bernama Vera. Ia lalu menceritakan sedikit kisah kue lumpur buatannya itu.

Sepintas Lumpur Kentang tak berbeda dengan kue lumpur lainnya. Namun, ibu dua anak itu menjelaskan kalau kue lumpur buatannya menggunakan lebih banyak kentang sebagai bahan utama adonannya yang juga terdiri dari tepung terigu, gula, telur dan mentega. Adonan tersebut lalu diaduk hingga benar-benar halus.
Gerai Lumpur Kentang Wolak-Walik di Pasar Oro-Oro Dowo (dok. Hendra Wardhana).

Lumpur Kentang baru dibuat setiap ada pembeli memesan (dok. Hendra Wardhana).

Lumpur Kentang dicetak di loyang dengan aneka toping (dok. Hendra Wardhana).

Lumpur Kentang Wolak-Walik baru dibuat saat ada pembeli yang memesan sehingga selalu hangat. Tidak butuh waktu lama untuk mematangkan adonan hingga Lumpur Kentang siap dinikmati. Mula-mula adonan dituang dan dicetak di dalam loyang. Toping berupa kismis, keju atau kelapa bisa ditambahkan sesuai keinginan pembeli. Setelah kurang lebih 3 menit, lumpur kentang diangkat dari loyang. Tapi pembuatannya belum selesai. Lumpur Kentang kemudian dipindahkan di wajan datar untuk mematangkan sisi sebaliknya. Karena proses pematangan dua kali untuk kedua sisinya secara bolak-balik inilah nama “Wolak Walik” ditambahkan.

Lumpur Kentang Wolak-Walik yang sudah jadi  terlihat eksotis dan begitu mengundang selera. Warna kuning terang dengan jejak gosong di kedua sisinya serta aroma wangi adalah perpaduan yang memikat mata sekaligus indera penciuman. Ukurannya lebih tebal dibanding kue lumpur lain pada umumnya. 

Sayapun mencicipinya selagi masih hangat. Sisi luarnya yang kering menjadi tester yang pas sebelum lidah menyentuh bagian dalamnya yang masih agak lumer khas kue lumpur. Teksturnya lembut dan memuaskan penggemar manis. Tapi tak cepat membuat bosan karena menurut saya masih dalam takaran yang pas. Dinikmati saat masih hangat membuat rasanya lebih menggigit di lidah.
Lumpur Kentang Wolak-Walik yang sudah sudah siap dinikmati (dok. Hendra Wardhana).

Harga Rp4000 untuk satu buah Lumpur Kentang Wolak-Walik sesuai dengan kenikmatannya. Pantas saja jika beberapa pembeli yang jajan pagi itu memesannya dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang. 
Lumpur Kentang dengan toping kismis (dok. Hendra Wardhana).

Selain Lumpur Kentang, Mbak Vera juga menjual Tahu Bakso dan Lemper yang semuanya dibuatnya sendiri. Ia mengaku memang hobi memasak dan membuat jajanan terutama kue. Lumpur Kentang adalah resepnya yang paling sukses. Sejak 2012 ia pun  mulai menerima pesanan di rumahnya. Ia juga berjualan saat car free day di Jalan Ijen Malang setiap hari Minggu. Kemudian mulai Agustus 2016, dengan dibantu oleh adik dan tantenya, ia memutuskan membuka gerai sederhana di Pasar Oro-oro Dowo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …