Langsung ke konten utama

Mencecap Ayam Goreng ala Warung Ayam Bakar Wong Solo di Surabaya

Selasa, 14 Februari 2017. Cuaca sore kota Surabaya sedang bersahabat. Tidak terasa terik dan lalu lintas di sekitar Balaikota rupanya tak terlalu ramai. Padahal, biasanya sekitar pukul 16.00 adalah puncak keramaian jalanan di kota besar.
Paket ayam goreng komplit di Warung Ayam Bakar Wong Solo (dok. Hendra Wardhana).
Setelah check in di hotel dan berganti pakaian, mengobati lapar jadi tujuan saya. Tapi sore itu saya  tak berniat untuk mencicipi rawon atau rujak cingur. Saat mengetahui ada tempat makan bernama Ayam Bakar Wong Solo yang cukup terkenal di dekat Balaikota Surabaya, saya segera menetapkannya untuk mengisi perut sebelum berjam-jam bernyanyi di depan panggung KAHITNA. Menonton KAHITNA selain membutuhkan jiwa yang tegar, juga butuh tenaga untuk mengimbangi perasaan yang terhentak setiap kali KAHITNA bernyanyi.

Kebetulan pula Wong Solo dapat dicapai dengan berjalan kaki selama 5 menit dari hotel tempat menginap di Jalan Walikota Mustajab. Lokasinya tepat di tepi jalan dan ada papan nama berlampu sehingga terlihat mencolok. 
Warung Ayam Bakar Wong Solo di Jalan Walikota Mustajab sekitar 100 meter dari Balaikota (dok. Hendra Wardhana).
Memasuki warung Ayam Bakar Wong Solo dihadapkan dengan ruangan makan yang bersisian dengan dapur tempat semua menu makanan dan minuman dibuat. Seorang pelayan wanita mempersilakan duduk sambil menyodorkan daftar menu. 

Ayam Bakar Wong Solo menyediakan menu daging ayam dan bebek dengan pilihan digoreng, dibakar, atau dipenyet. Menu yang banyak dipesan adalah ayam bakar dan ayam penyet. Daging ayam yang disediakan adalah ayam kampung dan ayam broiler. Tentu saja harga menu ayam kampungnya lebih mahal. Tersedia juga menu lain, seperti nasi goreng, mie goreng, rica-rica ayam, tongseng ayam, sup ayam, cah kangkung, hingga balado pete. 
Pesanan saya sore itu (dok. Hendra Wardhana).
Sambal Lombok Ijo yang terlalu pedas (dok. Hendra Wardhana).
Meskipun terkenal sebagai warung ayam bakar dan ayam penyet, tapi saya tidak memesan keduanya. Sejak dulu saya kurang suka dengan ayam bakar karena rasanya cenderung sangat manis. Sementara ayam penyet ala Surabaya saat saya tanya ke pelayan ternyata sambalnya pedas. Asam lambung saya tentu saja harus dijaga agar nyaman saat menonton KAHITNA.

Maka saya pun memesan ayam goreng yang sejak dulu menjadi kesukaan saya. Paket ayam kampung goreng seharga Rp21000 saya pilih dengan pelengkap sambel lombok ijo yang menurut pelayan tidak terlalu pedas. Sebagai penyegar sekaligus pelepas dahaga segelas es buah seharga Rp15000 jadi pilihan setelah menyisihkan “pesaing” yang sebenarnya juga saya sukai yaitu es cincau, es degan, dan es campur.

Sambil menunggu hidangan siap, saya mengamati beberapa pembeli yang datang sore itu. Ada beberapa karyawan yang sepertinya baru pulang kerja menyempatkan makan. Beberapa anak muda yang terlihat seperti mahasiswa silih berganti memesan untuk dibawa pulang. Terlihat juga seorang pengemudi Gojek yang sepertinya sedang menerima order Go-Food. Di meja tengah ada dua orang pelayan warung sedang membungkus paket hidangan dalama puluhan kardus. Rupanya ada sepasang bapak ibu yang memesan take away dalam jumlah banyak.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian pesanan saya tersaji di atas meja. Perut yang sedang lapar mengirim tanda agar saya segera menghajar sepaket ayam goreng yang sudah di depan mata.
Sepotong ayam kampung goreng (dok. Hendra Wardhana).
Nikmat dan gurih! (dok. Hendra Wardhana).
Paket ayam kampung goreng disajikan cukup menarik dan komplit dengan “ubo rampe” alias lauk pendampingnya. Sepotong ayam disajikan bersama nasi putih yang porsinya tidak terlalu banyak dibentuk kerucut seperti tumpeng kecil. Di sekelilingnya disertakan soun goreng, serundeng, orek tempe, satu buah tahu goreng, terong peyet, mentimun, dan tak ketinggalan sambal lombok ijo. Semuanya disajikan dalam satu piring.

Memilih ayam goreng di warung ayam bakar ternyata bukan pilihan yang buruk.  Meski potongan ayamnya kecil tapi dagingnya gurih. Tekstur khas daging ayam kampung sangat mengigit di lidah. Kulit yang masih melekat dan digoreng kering terasa renyah. Dicocol ke dalam sambal lombok ijo semakin gurih. Sambalnya tidak terlalu pedas dengan sedikit jejak asin. Lombok ijo diulek kasar lalu diberi minyak goreng. Sepintas seperti sambal korek.

Begitu pula saat disantap bersama lauk pelengkapnya, rasanya semakin lengkap. Serundengnya yang kasar bercita rasa gurih. Orek tempenya perpaduan rasa manis dan pedas yang sedang. Tak ketinggalan soun goreng dan terong penyetnya yang juga nikmat. Tahu gorengnya  seperti tahu pong dengan kulit yang krispy dan isinya yang tidak terlalu padat menjadi cemilan pendamping yang pas. 
Es buah porsi besar! (dok. Hendra Wardhana).
Minuman sekaligus penutup yang menyegarkan (dok. Hendra Wardhana).
Ayam goreng telah habis saya lahap. Saatnya menenggak minuman yang segar, yaitu segelas es buah yang sempat membuat saya kaget saat dihantar ke meja karena ternyata gelasnya cukup besar. Isian buah potongnya juga lumayan royal. Ada semangka, nanas, dan melon. Masih ditambah nata de coco dan biji selasih. Semua isian itu digenangi jus nanas yang encer sehingga es buah ini menghasilkan perpaduan rasa manis dan asam yang sangat menyegarkan. Saya membayangkan jika es buah porsi besar ini dinikmati saat cuaca panas terik, sensasi segarnya pasti akan lebih terasa.


Ayam kampung goreng serta segelas es buah yang segar, bekal yang cukup sebagai energi untuk menikmati pertunjukkan KAHITNA di malam harinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

Gudeg Mbah Sudarmi, Teladan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir menuntut semua orang untuk segera beradaptasi. Protokol kesehatan wajib dipatuhi. Selain untuk untuk kembali menggerakkan roda ekonomi, juga agar semua bisa lebih terlindungi. Mbah Darmi atau Sudarmi menjajakan gudeg dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker dan face shield (dok. pri). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sudarmi atau Mbah Darmi. Sebagaimana kebanyakan orang, nenek 63 tahun ini tak pernah menyangka akan menemui masa pandemi hebat dalam hidupnya. Puluhan tahun menjajakan gudeg Mbah Darmi sudah menyaksikan banyak perubahan. Akan tetapi baru kali ini ia merasakan perubahan yang begitu besar dan cepat. Pada awal Korona mewabah di Indonesia Mbah Darmi terpaksa berhenti berjualan selama hampir 2 pekan akibat sepinya pembeli. Setelah itu ia kembali menjajakan gudeh di Jalan Urip Sumaharjo, Kota Yogyakarta, tepat di sisi timur Hotel Tickle atau di sisi utara auditorium Lemb