Langsung ke konten utama

"Bersih Desa", Kearifan Lokal Yogyakarta untuk Kelestarian Alam

Lapangan sisi selatan Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta pada sore itu terlihat lebih ramai daripada hari-hari biasa. Awan mendung yang menggantung di langit tidak menghalangi ratusan orang untuk berkumpul. Warga tua-muda berdiri di sekeliling lapangan. Sebagian yang lain berjongkok dan duduk tanpa alas.
Masyarakat pelaku adat Taruban Tuksono, Kabupaten Kulonprogo sedang melakukan prosesi pengambilan air sebagai bagian dari upacara adat Bersih Desa Luaran (dok. Hendra Wardhana).

Saat itu Yogyakarta sedang menggelar Festival Bentara Upacara Adat dengan agenda “Bersih Desa”. Kegiatan tersebut bertujuan melestarikan tradisi dan mengangkat budaya Yogyakarta di tengah derasnya arus kehidupan modern. Berbagai upacara adat yang ditampilkan juga dimaksudkan untuk memperkaya wawasan masyarakat tentang kearifan lokal yang tumbuh di Yogyakarta.

Salah satu upacara adat yang ditampilkan adalah "Bersih Desa Luaran" oleh masyarakat adat Taruban Tuksono dari Kabupaten Kulonprogo. Masyarakat pelaku prosesi ini mengenakan pakaian adat Jawa gaya Mataraman. Mereka membawa sejumlah perlengkapan, termasuk senjata tradisional seperti keris dan tombak.

Bersih Desa Luaran diawali dengan arak-arakan prajurit wanita pembawa panji dan prajurit pria membawa tombak. Menyusul di belakangnya pembawa gunungan hasil bumi yang dikawal oleh para pemimpin desa. Ikut juga sekelompok petani yang membawa cangkul dan segera menari. 
Upacara adat Bersih Desa Luaran memuat  kearifan lokal Yogyakarta dalam menjaga keselarasan antara manusia, alam dan Tuhan (dok. Hendra Wardhana).
Gunungan sebagai simbol hasil bumi yang melimpah berkat kelestarian alam yang terjaga (dok. Hendra Wardhana).

Prosesi berlanjut dengan memanjaatkan doa yang dilakukan para pemimpin adat. Mereka duduk bersila di tengah lapangan. Setelah itu dilakukan pengambilan air sendang sebagai simbol pembersih desa. 

Saat sedang membersihkan desa, tiba-tiba datang raksasa berwajah seram mengganggu. Raksasa itu digambarkan ingin merusak sawah dan mengganggu kehidupan penduduk. Tak ingin alam desanya hancur, para prajurit, petani dan penduduk bersatu hingga berhasil mengalahkan raksasa.

Prosesi lain Bersih Desa juga ditampilkan oleh masyarakat adat dari Kabupaten Bantul yang mengemasnya dalam upacara Rasulan. Disebut Rasulan karena pelaksanaannya banyak diisi dengan doa dan pujian kepada Rasulullah. 

Praktik Rasulan dalam prosesi bersih desa menonjolkan semangat kebersamaan. Prosesinya dilakukan penuh kegembiraan sebagai ungkapan syukur atas nikmat Tuhan yang diberikan kepada desa. Selama prosesi berlangsung, gamelan berulang kali ditabuh . Rasulan juga menyertakan gunungan hasil bumi dari hasil panen tanah desa yang subur.

Pesan Lestari
Upacara adat Bersih Desa merupakan tradisi yang memuat kearifan lokal masyarakat dari berbagai daerah di Yogyakarta. Upacara ini dilakukan setiap tahun dan telah berlangsung secara turun-temurun sejak lama.

Petani, penduduk, dan prajurit bergotong royong dalam menjaga desanya dari serangan raksasa yang ingin merusak alam dan mengganggu ketentraman hidup (dok. Hendra Wardhana).
Sebagai bentuk kearifan lokal, prosesi dan nama Bersih Desa bisa berbeda-beda di setiap tempat. Namun semuanya memiliki makna dan pesan yang sama, yaitu keselarasan hidup antara manusia, Tuhan dan alam. Makna dan pesan itu disampaikan melalui simbol-simbol seperti gunungan, raksasa, air, tarian, dan lain sebagainya. 

Dalam konteks manusia sebagai makhluk Tuhan, upacara Bersih Desa merupakan ungkapan syukur atas perlindungan dan rezeki yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Kemudian dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Bersih Desa adalah perwujudan dari gotong royong. Hal ini digambarkan dengan menghancurkan raksasa secara bersama-sama agar desa tetap tentram.

Sementara itu, dalam konteks hubungan manusia dan lingkungannya, Bersih Desa adalah bentuk kesadaran manusia untuk menjaga alam. Sawah yang subur, sumber mata air, dan hasil panen yang menghidupi manusia selama ini adalah manifestasi dari alam pemberian Tuhan. Oleh karena itu, alam harus terus dirawat agar hasil bumi tetap melimpah. Melestarikan alam juga merupakan wujud rasa syukur manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Berkat alam yang lestari, manusia mendapatkan kebutuhan hidupnya sekaligus terhindar dari bencana.

Sebagai kearifan lokal, upacara Bersih Desa mampu memperkuat pesan-pesan kelestarian lingkungan karena melebur dalam budaya setempat. Pada saat yang sama Bersih Desa juga melestarikan budaya itu sendiri dari penggunaan gamelan, bahasa Jawa, pakaian adat, hingga tarian tradisional. Oleh karena itu, masyarakat adat di Yogyakarta melakukan Bersih Desa bukan semata-mata karena keharusan, melainkan telah menjadi kebutuhan. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta