Langsung ke konten utama

Bayang-bayang Bencana di Balik Kemilau Emas Bumi Minahasa

Mata saya terbelalak melihat kolam berwarna cokelat keruh pada Jumat sore itu. Dahi pun berkerut saat mengamatinya dari dekat. Warna air di kolam benar-benar pekat.
Tempat pengolahan tanah dan batuan mengandung emas di Ratatotok, Minahasa Tenggara. Lokasi pertambangan emas tradisional ini tersebar tak jauh dari Kebun Raya Minahasa (dok. Hendra Wardhana).
Kolam tersebut merupakan penampungan air limbah dari kegiatan pertambangan emas tradisional di Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Tidak hanya satu, ada sejumlah kolam serupa yang umumnya berada di samping gubug atau bangunan-bangunan berdinding kayu. Bangunan tersebut didirikan dan dioperasikan oleh para petambang tradisional sebagai tempat pengolahan tanah dan batuan cikal bakal emas. Beberapa bangunan terlihat berdiri di dekat bukit.

Saya juga sempat berpapasan dengan para petambang yang baru pulang dan hendak berangkat mencari emas. Di antara mereka ada yang terlihat masih berusia belasan tahun. Namun, nyali mereka pasti sudah digantungkan antara keinginan kuat mendapatkan emas atau kehilangan nyawa. Menggali batuan dan masuk ke dalam lubang tambang jelas penuh resiko. Kapan saja musibah bisa terjadi. Apalagi, mereka bekerja tanpa perlengkapan dan prosedur keselamatan yang memadai.
Mobil-mobil "Rambo" yang digunakan para petambang untuk mengangkut hasil galian tanah dan batuan cikal bakal emas mentah (dok. Hendra Wardhana).
Selain menggunakan mobil "Rambo", para petambang juga mengendarai motor yang telah dimodifikasi untuk mencapai lokasi pertambangan (dok. Hendra Wardhana).
Para petambang umumnya bekerja berkelompok. Mereka mengendarai sepeda motor dan jeep terbuka yang dimodifikasi agar bisa melalui medan berat sekaligus mampu membawa karung-karung berisi batuan cikal bakal emas. Oleh para petambang mobil jeep itu dinamai “rambo”.

Batuan cikal bakal emas kemudian dibawa dan dikumpulkan di tempat pengolahan. Jumlahnya bisa puluhan karung. Alat yang digunakan untuk mengekstraksi emas berupa rangkaian tabung atau molen sederhana yang ukurannya tidak terlalu besar. Selanjutnya batuan dan air perak dimasukkan ke dalam tabung-tabung tersebut. Air perak adalah sebutan yang digunakan oleh para petambang emas tradisional untuk air raksa atau merkuri.

Dengan tenaga dari mesin penggerak, rangkaian tabung akan berputar dan menghancurkan batuan di dalamnya. Jika ada emas yang terkandung, merkuri akan memisahkannya dari unsur batuan.

Karung-karung berisi batuan bercampur tanah yang diduga mengandung emas (dok. Hendra Wardhana).
Bilik tempat para petambang emas tradisional (dok. Hendra Wardhana).

Kemilau emas di bumi Minahasa, khususnya di Ratatotok memang sudah lama menggoda manusia. Kegiatan pertambangan emas di tempat ini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Ketika perusahaan tambang besar seperti Newmont Minahasa Raya berhenti berproduksi lebih dari 10 tahun lalu, mesin-mesin milik pertambangan emas tradisional tetap beroperasi.

Menurut informasi jumlah total emas mentah yang bisa didulang oleh para petambang tradisional di Ratatotok mencapai belasan hingga puluhan gram setiap hari. Tentu saja nilainya tidak sedikit dan sepintas menjanjikan kemakmuran  bagi para petambang. Namun, tanpa pemanfaatan dan pengelolaan keuangan yang baik, uang hasil mencari emas dengan bertaruh nyawa tak bertahan lama. Kadang sebagian uang tersebut juga harus digunakan untuk membayar hutang atau justru dibelanjakan barang-barang selain kebutuhan pokok.

Inilah yang akhirnya membuat para petambang tradisional terus mencari emas. Seolah tak punya pilihan lain, saat uangnya habis mereka kembali ke lokasi pertambangan. Mencari emas dianggap cara paling cepat untuk mendapat banyak uang.


Keberadaan pertambangan emas tradisional seperti di Ratatotok memang seringkali dilematis. Masyarakat petambang tradisional menjadikannya sebagai penopang hidup. Pada saat yang sama kegiatan tersebut menghadirkan ancaman yang nyata bagi lingkungan dan masyarakat, terutama para petambang itu sendiri.

Penggunaan bahan-bahan kimia seperti merkuri atau air raksa dalam pertambangan emas tradisional tidak bisa dipantau dan dikendalikan jumlahnya. Kondisi diperparah dengan tidak adanya sistem pengolahan dan pengelolaan limbah yang dihasilkan. Limbah langsung dialirkan ke kolam-kolam terbuka sehingga langsung mengontaminasi tanah dan lingkungan sekitar.

Daya racun limbah pertambangan emas tradisional sangat berbahaya. Merkuri yang terkandung di dalamnya mudah terserap dan terakumulasi pada perairan, tanah, maupun tubuh makhluk hidup. 
Kolam terbuka tempat menampung air limbah dari pertambangan emas tradisional (dok. Hendra Wardhana).
Tak jelas apakah pertambangan emas tradisional di Ratatotok ini ilegal atau “direstui” oleh aparat dan pemerintah daerah. Namun, kegiatan eksploitasi alam yang dilakukan tanpa memperhatikan kaidah lingkungan seperti ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah Kabupaten Minahasa Tenggara dan Provinsi Sulawesi Utara. 

Jika kegiatan pertambangan dilakukan tanpa izin, maka pemerintah daerah dan aparat harus segera menutupnya. Selanjutnya pemerintah daerah perlu memfasilitasi para petambang emas tradisional untuk mendapatkan mata pencaharian baru dengan bekal pelatihan keterampilan. Perkebunan dan sektor wisata pantai di Ratatotok terlihat cukup potensial untuk dikembangkan.

Namun, jika pertambangan emas tradisional tersebut direstui maka pemerintah daerah wajib melakukan pengawasan dan pemantauan yang ketat, khususnya terkait penggunaan bahan kimia berbahaya. Pemerintah daerah harus memastikan tersedianya fasilitas penanganan dan pengendalian limbah yang aman. Para petambang juga harus dibina agar mematuhi peraturan lingkungan, seperti tidak menebang  pohon di hutan dan dilarang membuka lahan untuk pertambangan baru.
Dua orang petambang emas tradisional sedang mempersiapkan alat untuk mengolah batuan dan tanah yang diduga mengandung emas (dok. Hendra Wardhana).

Tidak seharusnya berkompromi dengan mempertaruhkan keselamatan lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat. Jika hanya demi kemilau emas dan godaan uang sampai membiarkan alam rusak, maka itu sama artinya mengundang bencana untuk datang mendekat. 

Satu hal lagi yang juga menjadi ironi, lokasi pertambangan emas tradisional di Ratatotok berada tak jauh dari Kebun Raya Minahasa yang sedang dikembangkan oleh LIPI dan pemerintah  sebagai kawasan konservasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …