Langsung ke konten utama

Senangnya Dapat Uang "Palu Arit"

Uang baru emisi 2016 atau uang NKRI pecahan Rp50000 (dok Hendra Wardhana).
Kamis sore, 2 Maret 2017, sesaat saya terkejut di depan mesin ATM. Dari celah tempat uang keluar, saya melihat beberapa lembar uang yang wujudnya berbeda dari biasanya. Warnanya memang masih biru, tapi kesan pertama saat melihatnya tampak tidak sama dengan wujud uang sebelumnya. 

Keterkejutan saya hanya berlangsung sekitar 5 detik. Tatkala mengambilnya dan melihat wujudnya secara keseluruhan, seketika saya merasa senang. Akhirnya dapat uang NKRI yang baru juga!.

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya memegang uang baru emisi 2016 yang belum lama diberlakukan. Namun, ini untuk pertama kalinya saya mendapatkannya dari mesin ATM. Sebelumnya setiap kali menarik tabungan di ATM, uang yang keluar selalu emisi lama.

Oleh karena itu, setelah mendapatkannya saya menyempatkan waktu untuk mengamati wujud dan rupa uang pecahan Rp50000 baru tersebut. Hal pertama yang saya cari adalah bentuk rectoverso BI yang oleh sebagian orang “super cerdas” dianggap sebagai simbol “palu arit”. Entah apa yang ada di otak mereka saat menjadikan intrumen pengaman uang yang baik ini sebagai media propaganda, hingga memanfaatkannya untuk melempat fitnah kepada pemerintah.  Malah ada yang menghubungkan-hubungkannya dengan wujud uang Tiongkok dengan maksud melancarkan proganda kebencian kepada etnis tertentu. Semoga Allah membukakan hati dan pikiran manusia-manusia super cerdas tersebut.
Uang emisi 2016 memiliki tanda "rectoverso" BI yang dianggap "palu arit" oleh segelintir manusia "super cerdas" (dok. Hendra Wardhana).
Tanda tangan Gubernur BI dan Menteri Keuangan (dok. Hendra Wardhana).
Uang NKRI emisi 2016 banyak digambarkan memiliki desain yang elegan dan manis. Sayapun mengamini hal itu dari uang Rp50000 ini. Warna dominannya masih sama dengan emisi lama, yakni biru. Namun uang baru ini lebih biru muda dengan gradasi yang lembut.

Uang NKRI 2016 memuat tanda tangan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan sebagai representasi pemerintah. Pada emisi lama tanda tangan yang tertera adalah Gubernur BI dan Deputinya.

Label “Negara Kesatuan Republik Indonesia” juga tercetak di salah sisinya yang mempertegas bahwa uang ini adalah salah satu intrumen yang mewakili kedaulatan negara. Maka orang yang menghina uang NKRI ini sesungguhnya ia telah menginjak-injak kedaulatan Indonesia juga.
Gambar Wajah Ir. Djuanda pada salah satu sisi uang Rp50000 emisi 2016 (dok. Hendra Wardhana).
Gambar penari Legong dan Taman Nasional Komodo pada sisi lainnya (dok. Hendra Wardhana).
Wajah Ir. Djuanda tergambar pada salah satu sisi menggantikan I Gusti Ngurah Rai yang menghiasi emisi lama. Namun, unsur Bali masih dipertahankan pada satu sisi yang lain. Bedanya jika uang emisi lama menampilkan gambar pura, maka emisi 2016 menampilkan Tari Legong yang dibawakan oleh seorang wanita.
Perbandingan uang pecahan Rp50000 emisi 2016 dengan emisi lama (dok. Hendra Wardhana).
Soal dimensi, uang Rp50000 emisi 2016 sepertinya memiliki ukuran yang hampir sama dengan emisi lama. Akan tetapi, kertas uang baru ini sedikit lebih kaku dibanding sebelumnya. Satu hal lagi, saat pertama kali mengambilnya dari mesin ATM, aroma penyamak uang baru ini cukup kuat dan masih tercium hingga sekarang. 
Uang baru yang masih bertahan di dompet (dok. Hendra Wardhana).

Begitu senang terkesannya mendapatkan uang emisi baru 2016 dari mesin ATM, saya masih mempertahankannya di dompet hingga kini. Belum ada satu lembar pun yang saya gunakan. Untuk membayar sejumlah pengeluaran saya memilih menggunakan uang emisi lama yang masih ada ^^.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…