Langsung ke konten utama

Menjadi Lebih Baik Dengan Buku


 Membaca lebih banyak buku adalah salah satu cara merawat hidup dan kehidupan (dok. Hendra Wardhana). 
Ada satu lagi perihal "mencintai" yang barangkali takkan menghadirkan penyesalan, yaitu ketika seseorang telah jatuh cinta pada buku.
Buku cerita perjalanan dan laporan ekspedisi adalah salah satu bacaan kesukaan saya (dok. Hendra Wardhana).

Buku baru terbitan BIP Gramedia berjudul "10 Tahun Setelah Chrisye Pergi" yang saya beli awal Mei 2017 (dok. Hendra Wardhana).
Saya bukanlah seorang kutu buku yang betah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk tertunduk menatap lembaran-lembaran buku. Saya bukan ahli buku yang sanggup mengeja banyak kata dan menyimpannya di kepala untuk diceritakan lagi. Hanya saja ada perubahan yang "lebih baik" yang saya alami tahun ini. 

Sepanjang 5 bulan pertama pada 2017, atau 6 bulan sejak Desember 2016, saya sudah membeli hampir 30 buku yang separuh di antaranya sudah tuntas saya baca. 


Untuk ukuran saya pribadi hal ini adalah rekor. Apalagi jika dibandingkan pada sepanjang 2016 saat saya hanya membeli dan membaca sekitar 5 buah buku saja!


Dulu saya suka membaca novel, terutama karya Mira W. Tapi belakangan saya lebih banyak membaca buku nonfiksi seperti biografi (dok. Hendra Wardhana)
Barangkali sama seperti kebanyakan orang. Kebiasaan saya membaca juga  dimulai sejak SD. Majalah Bobo dan buku-buku teks pelajaran sekolah adalah yang paling sering saya baca saat itu. Akan tetapi, secara perlahan kebiasaan itu surut sebelum akhirnya kembali menjadi hobi ketika usia semakin dewasa. 

Jumlah buku bacaan saya pun bertambah banyak dalam 6 tahun terakhir. Mulai dari novel, catatan perjalanan, hingga buku biografi dan kisah hidup  yang akhir-akhir ini semakin saya gemari. Buku pun menjadi benda yang selalu ada di dalam tas saya ke manapun saya pergi selama ini. Kini aktivitas menunggu juga sering saya isi dengan membaca buku. Bahkan, dalam konser-konser KAHITNA yang saya tonton tahun ini, saya memilih membaca buku di depan panggung saat KAHITNA belum muncul.

Menurut saya buku adalah media terbaik untuk menambah ilmu, memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan, sekaligus  memperkuat perasaan. Apa yang kita dapat dari setiap lembar halaman buku lebih dari sekadar untaian kata.

Sejarah peradaban  juga mencatat andil besar buku/kitab dalam perjalanan kemajuan dunia. Ilmu dan pengetahuan yang dimiliki para cendekiawan dan pemikir besar zaman dulu bisa diterapkan karena diabadikan, disalin, dan dialihbahasakan ke dalam buku. Oleh karena itu, sukar dibayangkan bagaimana masa depan manusia dan bangsa-bangsa di dunia ini jika para generasi penerusnya terasing dan menjauhkan jaraknya dari buku.

Maka, hal yang wajar jika seseorang akhirnya jatuh cinta pada buku. Membaca buku adalah salah satu cara paling mudah untuk meningkatkan kualitas diri. Buku adalah gudang ilmu yang membebaskan manusia dari "kegelapan" akibat ketidaktahuan atau "kesesatan" berpikir. Mereka yang banyak "bicara" namun "kacau" cara berpikirnya barangkali karena kurang bergaul dengan buku. 

Banyak orang "tahu" tapi tidak sama banyaknya dengan mereka yang bisa "memahami". Buku akan memoderasi diri dan pikiran kita dari sikap "sok tahu" dan "sok benar".

Membaca buku membuat orang naik level dari hanya tahu menjadi lebih memahami. Buku mengantar pembacanya menjemput pengetahuan, kebenaran, sekaligus kemanusiaan.

Buku adalah kolam inspirasi dan ide. Buku juga penyelaras yang baik bagi pemikiran dan imajinasi manusia. Melalui buku kita dibimbing untuk lebih peka dengan kejadian-kejadian di sekeliling kita.

Membaca buku membuat mata kita terbuka lebih lebar sehingga menatap lebih luas dunia ini. Buku menghadirkan kesadaran kita tentang Indonesia yang alamnya megah, penuh sejarah, bertabur keragaman, sekaligus punya banyak masalah. 

Saat membuka halaman-halaman buku, semangat dan kesadaran kita  dibangkitkan kembali. Seberapa jauh kita mengenal tempat kita lahir dan hidup?. Dan seberapa kepedulian kita terhadap permasalahan yang ada?.

Pada akhirnya buku akan mengetuk kesadaran kita untuk bersama-sama menjaga Indonesia beserta segenap isi alamnya. Membaca buku membuat manusia lebih mencintai tanah airnya. 

Sebagian buku yang saya baca dalam 2 bulan terakhir dan buku untuk beberapa minggu ke depan (dok. Hendra Wardhana).

Seperti "sumber gizi" yang esensial, menurut saya membaca buku bukanlah aktivitas mengeja aksara.  Lebih dari itu, membaca buku adalah ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, bacalah buku yang baik.

Komentar

  1. Waahhh 15 buku dalam 5 bulan itu luar biasa mas bro..keren lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung mood sedang baik..puasin beli dan baca buku, mas

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …