Langsung ke konten utama

Wedang Uwuh dari "Kaki Langit" Mangunan, Yogyakarta

Beberapa waktu lalu Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama melancong ke Puncak Becici di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sebelas hari sebelumnya juga saya mengunjungi daerah yang sama. Tapi saya tidak pelesiran ke Puncak Becici, melainkan ke desa tetangganya, Mangunan. 
Wedang Uwuh alias minuman "sampah" yang kaya khasiat rempah-rempah.

Jika Obama singgah di restoran “Bumi Langit”, maka saya mengelilingi “Kaki Langit”. Nama “Kaki Langit” adalah sematan untuk Desa Wisata Mangunan. Menurut pengelola desa wisata, “Kaki Langit” mengandung makna bergerak dan berdaya untuk menggapai cita-cita yang tinggi dengan rahmat Tuhan. JIka di “Bumi Langit” Obama menyantap makanan “Mie Lethek”, maka di “Kaki Langit” saya memilih minuman hangat “Wedang Uwuh”.

Wedang Uwuh kurang lebih berarti “minuman sampah” karena bahan-bahannya jika disatukan seperti sampah yang kurang bernilai. Bahan-bahan tersebut antara lain kayu manis, daun kayu manis, daun cengkeh, daun lada, daun sereh, dan kapulaga. Kemudian ada jahe dan gula batu. Bahan-bahan untuk membuat wedang uwuh disiapkan dalam kondisi kering sehingga bisa disimpan lebih lama.
Wedang Uwuh "Mbak Duk" dari Desa Wisata "Kaki Langit" Mangunan, Bantul, Yogyakarta.

Bahan-bahan Wedang Uwuh "Mbak Duk".

Menikmati wedang uwuh sudah menjadi kesukaan saya sejak lama. Keluarga di rumah juga sering memesannya sebagai oleh-oleh saat saya pulang kampung. Biasanya saya membeli wedang uwuh dalam bungkusan-bungkusan kecil siap seduh yang banyak dijual di toko oleh-oleh dan beberapa pasar tradisional. Kini, wedang uwuh juga disajikan di beberapa restoran dan rumah makan.

Segelas wedang uwuh biasa saya minum untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Saya juga meminumnya jika sedang kelelahan, terserang gejala flu, masuk angin, serta saat sakit maag saya mulai terasa kambuh.

Rata-rata wedang uwuh siap seduh yang dijual di pasaran memasang embel-embel “khas Imogiri” karena minuman ini memang banyak dijumpai di Imogiri, Bantul. Cerita sejarah menyebut wedang uwuh tercipta secara tidak sengaja di Imogiri. Konon Sultan Agung pernah bertapa untuk menentukan lokasi makam kerajaan yang kini berada di Imogiri. Pada suatu malam minuman hangat yang disediakan oleh abdi dalem untuk sang sultan tercampur dengan sampah-sampah kering yang jatuh tertiup angin dan masuk ke dalam wadah minuman tersebut. Kejadian ini tidak diketahui oleh Sultan Agung maupun para abdi dalem. 

Adanya “campur tangan” alam itu ternyata membawa berkah. Sultan Agung menyukai minuman campuran tersebut. Para abdi dalem yang penasaran kemudian memeriksa wadahnya dan menemukan daun cengkeh, daun lada, serta bahan-bahan lainnya yang di kemudian hari menjadi bahan ramuan minuman baru yakni wedang uwuh. 

Di Desa Wisata “Kaki Langit” Mangunan saya juga membeli wedang uwuh siap seduh. Saat bertemu dengan seorang wanita yang sedang menggendong anaknya, saya tertarik dengan bungkusan-bungkusan wedang uwuh yang dibawanya menggunakan sebuah nampan. Pada kemasannya terdapat secarik kertas berwarna merah jambu bertuliskan “Mbak Duk”. Rupanya “Mbak Duk” bukan hanya nama merek wedang uwuh tersebut, tetapi juga nama wanita pembuatnya yang saya temui saat itu.
Bahan-bahan kering untuk membuat wedang uwuh. Antara lain daun cengkeh, daun lada, daun kayu manis, daun sereh, dan kayu manis.

Wedang Uwuh yang masih panas.

Satu kemasan besar wedang uwuh “Mbak Duk” yang berisi lima bungkusan kecil bahan-bahan wedang uwuh dihargai Rp15000. Harga tersebut tidak jauh berbeda dengan harga pasaran wedang uwuh yang biasa saya beli di toko oleh-oleh di kota Yogyakarta. Akan tetapi setelah diamati isinya, bahan-bahan wedang uwuh racikan “Mbak Duk” terlihat lebih baik. 

Daun cengkeh, daun kayu manis, daun lada, daun sere, kayu manis, dan kapulaga yang digunakan cukup bersih. Jahe dan gula batunya juga lebih besar dibanding wedang uwuh siap saji yang biasa saya beli di toko oleh-oleh. Bahan-bahan tersebut dipisah ke dalam tiga plastik kecil yang berbeda. 

Di Desa Wisata “Kaki Langit”, sebagian bahan untuk wedang uwuh dihasilkan dari kebun warga. Beberapa warga ada yang menanam empon-empon seperti jahe dan kunyit. Pohon cengkeh juga banyak dijumpai di beberapa pekarangan rumah warga. Daun-daun cengkeh yang kering dan berguguran itu dikumpulkan sebagai bahan wedang uwuh. 

Bapak pencari daun cengkeh kering.
Menyiapkan wedang uwuh cukup sederhana. Semua bahan bisa langsung diseduh dengan air panas. Tapi saya biasa membuatnya dalam rebusan air mendidih. Caranya semua bahan kering dicuci menggunakan air mengalir dan dimasukkan ke dalam rebusan air. Kemudian jahe yang telah dimemarkan/digeprek dan dipotong menjadi beberapa bagian ikut dimasukkan. Jangan lupa tambahkan gula batu sebagai pemanisnya. 

Saat air telah mendidih dan matang, rebusan semua bahannya menghasilkan wedang uwuh yang berwarna merah. Uap panasnya menerbangkan aroma khas rempah-rempah yang nikmat dan melegakan. 

Menenggak wedang uwuh “Mbak Duk”, saya menemukan rasa hangat yang lebih kuat dibanding wedang uwuh lain yang biasa saya beli. Barangkali karena bahan-bahan yang digunakan lebih baik. 



Teks dan foto: Hendra Wardhana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Selamat Tinggal TCASH, Selamat Datang LinkAja!

Sebuah sms saya terima pada 30 Januari 2019. Pengirimnya Bank Mandiri. Isinya pemberitahuan tentang platform digital baru bernama LinkAja! dengan menyinggung “masa depan” Mandiri e-cash, dompet uang elektronik yang selama ini saya miliki.

“Pengguna ecash yth, Mulai 01Mar2019 saldo mandiri e-cash Anda akan dipindahkan ke LinkAja. Nantikan LinkAja di Playstore&Appstore mulai 21Feb2019”.
Pemberitahuan itu lumayan mengagetkan. Saya pun segera mencari tahu kepastiannya kepada @Mandiricare lewat twitter dan dikonfirmasi bahwa benar adanya Mandiri E-cash akan berubah menjadi LinkAja. Selanjutnya saldo E-cash akan dipindahkan ke LinkAja.
Beberapa hari kemudian giliran sms dari TCash saya terima. Isinya kurang lebih sama soal peluncuran LinkAja pada 21 Februari 2019 sebagai pengganti aplikasi TCash Wallet yang akan segera dimatikan. Sama seperti saldo Ecash, saldo TCash pun akan dikonversi menjadi saldo LinkAja.
Belakangan pada 20 Februari 2019 sms pemberitahuan datang lagi baik dari Bank Mand…

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …