Langsung ke konten utama

[31ThnKAHITNA] #CeritaSoulmate 4: Cerita Cinta dari Bali

Namaku Mestia, tinggal di Bali dan masih bersekolah di SMK. Jatuh hatiku pada KAHITNA terjadi saat masih SD gara-gara “menguping” Ibu saat sedang nyanyi lagu Cerita Cinta. Saat itu sih aku nggak tahu apa itu cinta, hihihi. Menginjak SMP kelas 2 baru aku bisa menghayati lagu Cerita Cinta itu (berarti sudah ngerti cinta ^^). 

Ngomong-ngomong tentang lagu KAHITNA, lagu yang paling dalem banget menurutku adalah Aku, Dirimu, Dirinya. Yah, mau bagaimana lagi. Lagu itu pas banget dengan perasaanku (maaf jadi curhat). Tapi lambat laun aku merasa semua lagu KAHITNA sama dalamnya.
Batik KAHITNA (dok. Hendra Wardhana).

Aku pertama kali nonton KAHITNA pada acara di sebuah kampus swasta di Bali, 28 Januari 2017 lalu. Saat itu aku mengumpulkan uang saku sekolah selama beberapa hari. hingga akhirnya bisa membeli tiketnya. Tapi itu pun belum mulus mengantarkanku ke pertunjukkan KAHITNA. Masih ada izin dari Ibu yang harus aku upayakan.

Sejak awal aku tidak yakin akan diizinkan menonton musik malam hari. Tapi aku nekat. Diam-diam aku memesan tiket tanpa memberi tahu Ibu. Saat tiket sudah dibayar aku pun belum jujur kepada Ibu. Beberapa hari kemudian baru aku memberi tahu Ibu jika aku sudah membeli tiket KAHITNA. Dugaanku ternyata benar. Ibu tak memberikan izin.

Sedih, tapi aku tak menyerah. Sehari sebelum pertunjukkan aku menulis surat “permohonan” kepada Ibu agar diizinkan menonton KAHITNA. Kemudian surat itu aku letakkan di atas tas miliknya karena aku tak berani memberikannya secara langsung.

Hingga hari pertunjukkan izin yang kuharapkan belum juga kudapatkan. Aku pun mulai menyiapkan hati untuk kecewa. Kemudian jam lima sore Ibu  bertanya, “Jadi nonton KAHITNA?”. Aku menjawab singkat setengah putus asa, “Emangnya boleh?”. 

“Katanya udah pesen tiket, kan kasian uangnya. Ibu juga pengen nonton”. Aku tak mengira Ibu akan menjawa seperti itu. Ia mengizinkanku menonton KAHITNA. Bukan itu saja, ia malah  mau menemani nonton KAHITNA. Yes!!. Jangan-jangan sejak awal Ibu juga ingin nonton KAHITNA, hanya saja gengsi ketahuan anaknya ini. Masa ibu sama anak punya idola yang sama, ihihihi.

Akhirnya kesampaian juga nonton KAHITNA. Kenangan pertama kali itu benar-benar sangat membekas. Seperti lagu MANTAN TERINDAH, “yang telah kau buat sungguhlah indah buat diriku susah lupa”. Apalagi saat itu aku merasa dilihatin dan didadain sama vokalis KAHITNA (GR banget gini?!). 

Di balik itu semua, ada cerita menarik yang aku anggap sebagai berkah dari Tuhan. Hari saat aku menonton KAHITNA menurut kalender adat Bali adalah hari “kelahiran” untukku atau yang disebut “Hari Otona”. Menurut kepercayaan orang Bali, di Hari Otona itu aku tidak boleh bepergian jauh dan harus melakukan upacara. 

Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Saat itu aku kedatangan “tamu bulanan" sehingga tidak boleh melakukan upacara. Jadilah aku bisa pergi menonton KAHITNA. Inilah yang aku maksud berkah dari Tuhan.

Menjadi soulmateKAHITNA juga berkah bagiku. Kenapa? Karena rasanya beruntung punya idola seperti KAHITNA yang baik dan nggak sombong meski sudah sangat terkenal. Bertemu dengan sesama penggemar KAHITNA juga menyenangkan. Seperti teman atau saudara yang langsung akrab. Padahal belum tentu saling tahu namanya. 

Harapanku sederhana saja. Semoga KAHITNA semakin sukses, panjang umur dan always humble. I Love You KAHITNA. Jangan pernah berakhir cerita cinta kita, ya…

***
cerita soulmate #1 di sini
cerita soulmate #2 di sini
cerita soulmate #3 di sini



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi