Langsung ke konten utama

Kisah Bu Sri, 40 Tahun Berjualan Pecel di Pasar Klojen Malang

Jam masih menunjukkan pukul 05.30 ketika saya memasuki Pasar Klojen Malang. Saat itu hanya ada sedikit lapak penjual yang sudah buka. Aneh memang pasar tradisional yang umumnya ramai di pagi hari justru terlihat sepi. 
Bu Sri di Pasar Klojen (dok. pri).
Namun, begitulah keadaan Pasar Klojen sekarang. Banyak penjualnya telah pindah ke pasar-pasar lain, sementara warga Malang yang berbelanja di sana sudah surut jumlahnya sejak lama. Bisa dikatakan hanya penjual dan pembeli yang saling setia yang sekarang masih menjejakkan kakinya di Pasar Klojen.

Salah satu penjual yang setia bertahan di Pasat Klojen adalah seorang penjual pecel bernama Bu Sri. Kedatangan saya pagi itu juga untuk bertemu dengannya sambil menyantap pecel racikannya.

Ketika saya datang Bu Sri masih sibuk menyiapkan bahan untuk menyajikan pecel. Ia tampak cekatan menata wadah-wadah di atas meja kayu. Wadah-wadah itu berisi antara lain sayuran, bumbu pecel, dan aneka lauk yang mengundang selera.

Tempat Bu Sri berjualan hanya berupa lapak sederhana di dekat pintu masuk pasar. Setiap pengunjung yang memasuki Pasar Klojen pasti dengan mudah menemukannya di dalam pasar. 
Bu Sri sedang meracik pecel (dok. pri).

Isian Pecel Bu Sri (dok. pri).
Sayur dan nasi putih isian utama pecel Bu Sri (dok. pri).

Datang pagi-pagi sekali membuat saya menjadi pembeli pertama Bu Sri. Ia pun antusias ketika mengetahui saya baru datang dan sengaja mampir ke tempatnya untuk sarapan.

Pecel Bu Sri istimewa karena disajikan dengan pincuk daun pisang. Isiannya terdiri dari nasi putih, daun singkong, daun pepaya, tauge, daun kemangi, mentimun, rempeyek, dan mendol, yaitu sejenis olahan kedelai mirip tempe. Semuanya lalu disiram dengan bumbu pecel yang gurih. 

Bu Sri menyediakan tiga bumbu pecel yang berbeda untuk menyesuaikan selera pembeli. Ada bumbu pedas, sedang, dan tidak pedas. Semua bumbu itu dibuatnya sendiri. Ia juga menyediakan stock bumbu pecel yang bisa dibeli sebagai oleh-oleh. Sementara sebagai teman menyantap pecel, tersedia lauk tempe goreng, bakwan jagung, sate daging, peyek ikan, peyek udang, gendar, kerupuk, dan lain sebagainya. Sebagai penyuka pecel saya lahap menyantap Pecel Bu Sri ini.
Bu Sri sedang menyiapkan pesanan pembeli (dok. pri).

Ada hal menarik saat menikmati Pecel Bu Sri. Di antara sekian banyak lauk yang disediakan, Bu Sri tidak menyediakan telur. Padahal, umumnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta pecel disantap dengan tambahan telur ceplok atau telur dadar. Tentang hal ini Bu Sri punya alasan sendiri. Menurutnya selain pecel bukan makanan khas Malang, pembeli juga lebih suka menikmati pecel buatannya dengan lauk mendol dan bakwan jagung. “Orang juga takut kolesterol kalau makan telur terus”, candanya.

Bu Sri sudah lebih dari 40 tahun menjalani hidupnya dengan berjualan pecel. Bahkan, sebenarnya lebih lama dari itu karena sejak duduk di bangku SD pun ia sudah membantu ibunya berjualan pecel.

Kesetiaan Bu Sri tidak hanya ditunjukkan dengan tetap menjajakan pecel warisan. Ia juga bertahan di Pasar Klojen meski pasar tersebut semakin sepi. “Ibu saya dulu berjualan di pasar ini, jadi saya mengikuti”, katanya. 
Ini enak! (dok. pri).

Selain itu, Bu Sri masih menggunakan anglo dan arang untuk memasak bahan-bahan pecelnya. Jenis atau macam sayuran pun ia pertahankan seperti yang dulu meski saat ini sebenarnya ia bisa mendapatkan sayuran yang lebih beragam. Menurutnya semua itu adalah resep atau “pakem” dari pecel yang diwariskan oleh ibunya.

Barangkali itulah yang membuat Pecel Bu Sri mampu merengkuh banyak penikmat dari beragam kalangan. Mulai dari warga Malang sendiri, wisatawan, mahasiswa, hingga pejabat pemerintahan daerah, baik tingkat kota/kabupaten maupun provinsi. Beberapa kali ia diminta menyediakan pecel untuk acara atau hajatan pejabat di Malang dan Surabaya. Bu Sri juga pernah mendapat pesanan bumbu pecel untuk dibawa ke luar negeri, seperti Belanda dan Arab Saudi.

Walau pasar tempatnya berjualan tidak lagi seramai dulu, tapi ibu dua anak ini bersyukur karena setiap hari pecelnya dicari pembeli. Ia mulai berjualan pukul 06.00 dan biasanya sudah habis pada pukul 11.00. Itu artinya tetap banyak orang yang menyukai pecel buatannya. 

Pelanggan-pelanggan lama Pecel Bu Sri juga masih menjadi pembeli setianya hingga kini. Sementara orang yang pernah tinggal di Malang dan sudah pindah ke daerah lain, saat kembali  sekali waktu pasti menyempatkan diri untuk mampir menikmati pecelnya lagi. “Mereka (pelanggan) masih ingat, tapi saya yang lupa karena wajahnya beda waktu kecil dan besar”, ujarnya sambil tertawa.

Meskipun demikian, Bu Sri tidak pernah merasa pecel buatannya adalah yang terbaik dibanding racikan penjual-penjual pecel lainnya. Ia menganggap rezeki setiap orang adalah ketentuan yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sebagai manusia ia hanya berusaha melakukan apapun dengan sepenuh hati, termasuk dalam berjualan pecel.

Selama ini Bu Sri juga tak pernah “ngoyo” mengejar keuntungan atau kesuksesan yang besar. Ia mensyukuri apa yang telah didapatkannya dari berjualan pecel selama ini. Mengenai pasar tempatnya berjualan yang semakin sepi, Bu Sri memiliki pandangan yang bijak. Menurutnya dulu saat ia berjuang keras membangun kehidupan dan membiayai anak-anak sekolah, Tuhan memberikan kemudahan berupa pasar yang ramai dan pembeli yang banyak. Sekarang pasar memang sepi, tapi hidupnya telah berkecukupan. Baginya itu berarti Tuhan Maha Adil. “Sekarang saya tinggal menikmati. Apapun saya syukuri”, tegasnya.
Bu Sri membuat bumbu pecel sendiri dengan tiga pilihan tingkat kepedasan (dok. pri).


Bu Sri yang ramah dan akrab membuat saya terlambat menyadari kalau sudah satu setengah jam saya bersamanya di dalam pasar. Saat hendak membayar dan berpamitan, Bu Sri sempat menolak uang yang saya sodorkan. Katanya ia merasa senang bertemu saya dan menemani paginya dengan bercerita. Namun, saya tetap ingin membayar karena pecelnya sangat enak. Wanita itu akhirnya tidak keberatan dan mengatakan bahwa saya cukup membayar separuh harga saja. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi