Langsung ke konten utama

Romantisme KAHITNA dan Dedek-dedek SMA

Malam Minggu, 3 Februari 2018, Yogyakarta terbungkus hawa dingin usai diguyur hujan lebat siang harinya. Saat itu air seperti ditumpahkan secara serempak dari wadahnya di langit. 

Carlo, Mario, Hedi sebagai juru bicara KAHITNA (dok. pri).
Namun, dingin di luar itu segera diganti dengan “kehangatan” di dalam Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma. Di sana panggung pentas seni (pensi) “Glowin9” pelajar SMA 9 Yogyakarta digelar. Bintang utamanya KAHITNA yang datang membawa cinta.

Kursi-kursi di ruangan auditorium berkapasitas 1200 tempat duduk itu pun nyaris semuanya terisi. Demikian juga dengan tambahan deret kursi di balkon. Saya katakan nyaris karena meski tiket terjual habis, tapi setidaknya ada satu orang yang semestinya datang akhirnya tak jadi menonton. Kursi D10 di samping saya kosong dari awal hingga akhir.
***
KAHITNA yang naik panggung setelah Jikustik mengawali penampilannya dengan Takkan Terganti yang menyentuh. Lagu ini jarang dihadirkan sebagai pembuka. KAHITNA lebih sering membawakannya dalam pertengahan lintasan pertunjukkan. Tapi barangkali karena malam itu panggung “Glowin9" sudah dihentak lebih dulu oleh Jikustik, maka Takkan Terganti dilantunkan lebih dini untuk menuntun penonton menata dan menyiapkan lagi hati serta segenap indera mereka. 

Terbukti memang usai Takkan Terganti para penonton langsung melebur dalam nada-nada KAHITNA. Semua ikut bernyanyi pada setiap lagu yang dibawakan berikutnya: Tentang Diriku, Andai Dia Tahu, Cerita Cinta, Soulmate, Katakan Saja, Rahasia Cinta, Tak Sebebas Merpati, Setahun Kemarin, Mantan Terindah, dan Cantik. Semua ringan mengangkat tangan serta riang melanjutkan lirik-lirik lagu ketika para vokalis KAHITNA melempar mic. 


KAHITNA! (dok. pri).

KAHITNA dan seorang penonton di panggung "Glowin9" (dok. pri).

Mario di hadapan Dedek-dedek SMA (dok. pri)
Penonton yang sebagian adalah murid SMA itu berulangkali bersorak. Mereka pula yang kencang berteriak tatkala Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario turun menjelajah kursi penonton lalu mengajak seorang wanita untuk dihadiahi pelukan diiringi lagu Tak Sebebas Merpati. Lalu saat tiba di ujung lagu Cantik yang menutup pensi mereka meminta lebih. Sayangnya ini bukan konser atau show tunggal KAHITNA, jadi tak ada perpanjangan waktu dan tambahan lagu.
***
Ekspresi penonton saat KAHITNA tampil di pentas seni "Glowin9" SMA 9 Yogyakarta (sumber: @kahitna)
Penonton malam itu sebenarnya beragam, tidak hanya anak-anak sekolah. Tapi tetap saja rasanya mengejutkan  sekaligus menyenangkan menyaksikan  murid-murid SMA yang fasih serta lantang menyanyikan Cerita Cinta. Pasalnya KAHITNA yang berdiri sejak 24 Juni 1986 ini beranggotakan bapak-bapak. Walau lagu-lagu cinta KAHITNA tak mengenal umur, tapi tetap saja ada beda masa yang mencolok antara band bapak-bapak ini dengan generasi “milenial muda” yang berusia 15-18 tahun.

Dedek-dedek SMA ini adalah generasi 2000-an yang hampir bisa dipastikan tidak memiliki banyak pengalaman langsung tentang KAHITNA, terutama dengan lagu-lagu KAHITNA malam itu yang sebagian besar diambil dari album lama.

Relasi yang paling mungkin menautkan generasi 2000-an dengan lantunan merdu Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario adalah para orang tua mereka yang dulunya penggemar KAHITNA. Selebihnya adalah fakta bahwa saat KAHITNA menghadirkan Mantan Terindah pada 2010, anak-anak SMA itu masih duduk di bangku SD. Kita tentu tidak bisa berimajinasi bahwa saat sedang di kantin SD mereka istirahat sambil menyenandungkan: "mau dikatakan apalagi kita tak akan pernah satu...". Kemudian saat mereka tumbuh besar, Mantan Terindah yang pertama kali sampai di telinga mereka barangkali juga lewat suara Raisa.

Lalu bagaimana relasi pengalaman mereka dengan Cerita Cinta, Cantik, dan Andai Dia Tahun yang kehadirannya jauh mendahului kelahiran anak-anak generasi 2000-an?


Pada akhirnya relasi KAHITNA dengan penggemarnya tidak selalu perlu dijelaskan berdasarkan rentang usia. Kenyataannya ada rentangan masa yang lebar antara KAHITNA dengan lapis penggemarnya. Tapi senjang waktu itu telah memungkinkan baik KAHITNA maupun generasi 2000-an untuk saling beradaptasi dan menerima. Itulah mengapa KAHITNA kemudian disayangi juga oleh generasi 2000-an. 

Tampaknya pula bahwa romantisme tidak hanya melingkupi  para penggemar yang sempat bersinggungan erat dengan masa kelampauan KAHITNA. Para generasi 2000-an memiliki bentuk romantisme dan keriaan sendiri yang menautkan diri mereka dengan KAHITNA. Jadilah Dedek-dedek SMA masa kini juga  fasih dan lantang bernyanyi, “biar cinta bergelora di dada, biar cinta memadukan kita, HUO HUO HUO!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …

Wajah Pangeran Diponegoro Mirip Jokowi

Untuk kali pertama, Babad Diponegoro yang telah ditetapkan sebagai Warisan Ingatan Dunia oleh UNESCO “dialihwahanakan” dalam bentuk visual. Sebanyak 51 lukisan dibuat secara khusus dengan mengacu pada pupuh-pupuh yang termuat dalam naskah Babad Diponegoro. Pemilihan kisah yang diangkat melibatkan para akademisi dan sejarawan. Sementara para pelukisnya merupakan seniman pilihan yang juga melakukan riset dan mengumpulkan informasi.

Hasilnya tercipta visual-visual indah sekaligus mengejutkan yang secara naratif menceritakan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya. Semua lukisan itu bisa disimak dalam Pameran Sastra Rupa “Gambar Babad Diponegoro” yang berlangsung di Jogja Gallery, 1-24 Februari 2019.
Di antara semua lukisan yang dipamerkan, ada lukisan yang memiliki daya pikat khusus sehingga segera menarik perhatian manakala pertama kali manatapnya. Lukisan itu berjudul “Abdulrohim Jokowibowo Namaku”. 
Sigit Santoso membuatnya dengan cat minyak di atas kanvas berukuran 115x185 …