Langsung ke konten utama

Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa: Sampul yang Tak Sesuai Isi

Jangan menilai buku dari sampulnya. Sebuah ungkapan yang sudah berlaku umum sebagai petuah atau pedoman bagi kita agar tak mudah menilai sesuatu hanya dari kesan sesaat terhadap tampilan luar. Biasanya ini berlaku sebagai peringatan agar kita tak gegabah memandang kepribadian orang jika belum mengenalnya lebih dekat.

Namun, kali ini yang saya bicarakan adalah tentang buku itu sendiri. Saya baru saja membaca  buku berjudul "Asal-usul & Sejarah Orang Jawa" yang diterbitkan penerbit Araska.
Dalam urusan membaca buku, saya adalah pembaca yang cenderung cepat menyukai atau juga cepat tidak menyukai sebuah buku setelah sampai pada 10-20 halaman pertamanya. Gairah saya dalam menuntaskan membaca buku sangat ditentukan oleh apa yang saya rasakan dan saya temukan dari halaman-halaman pertamanya. Dan, saat membaca buku "Asal-usul & Sejarah Orang Jawa" ini saya mendapati bahwa minat saya untuk meneruskan halaman-halaman berikutnya telah jauh berkurang. Meski pada akhirnya saya selesai menyentuh halaman terakhirnya.

Buku ini tidak sementereng sampul depan dan belakangnya. Kurang semenarik judul dan kata pengantarnya. Bahkan pada 30 halaman pertamanya saya tidak menemukan banyak hal kecuali kalimat dan cerita yang diulang-ulang. Kemudian saya menemukan bahwa buku ini tidak bisa membedakan benua Eropa dan Amerika. Juga mengalami kebingungan antara Gunung Lawu dan Kelud. Penarikan kesimpulan yang coba dimunculkan di buku ini cenderung dimulai dari potongan-potongan premis yang kurang lengkap. Bahkan, tampaknya susah untuk menemukan kesimpulan dalam buku ini.

Barangkali ekspektasi saya tentang buku ini telah lebih dulu berlebihan karena saya berharap akan berjumpa dengan kajian-kajian mendalam penuh analisis tentang sejarah orang Jawa. Tapi buku ini ternyata hanya menuliskan definisi-definisi dan beberapa deret istilah.

Saya merasa bahwa saya telah keliru membaca sampul buku. Faktanya buku ini hanya sedikit menyinggung "Asal-usul" dan "Sejarah". Selebihnya buku ini lebih banyak memberikan definisi pendek tentang jajan pasar, tari serimpi, merti desa, mubeng beteng, dan hal-hal lain yang akan dibutuhkan oleh anak-anak sekolah yang membutuhkan hafalan cepat menjelang ujian.

Tidak terlalu banyak hal baru yang muncul dari buku ini. Dengan judul yang mentereng, isi buku ini malah cenderung mengecewakan. Sangat disayangkan bahwa pembaca yang menghendaki informasi mendalam tentang asal dan sejarah orang Jawa (mungkin) tidak akan menemukan jawabannya dalam buku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …