Langsung ke konten utama

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat


“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu dengan landmark berupa batu karang berukuran besar (dok. pri).

Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya. 

Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, jika berpapasan dengan kendaraan besar seperti bis atau truk. 
Pantai Poto Batu (dok. pri).

Batu karang berserakan di Pantai Poto Batu (dok. pri).
Perkampungan nelayan dapat dijumpai di sepanjang perjalanan menuju Pantai Poto Batu. Rumah-rumah sederhana dan kapal-kapal nelayan menggerombol di sekitar muara sungai yang mengarah ke laut. Melihat perkampungan nelayan di pesisir Sumbawa Barat merupakan pengalaman tersendiri.

Selain perkampungan nelayan, panorama khas pesisir lainnya juga bisa dinikmati. Di kanan-kiri jalan dijumpai kebun dan tanaman bakau, berikut sejumlah orang yang sedang beraktivitas. Pohon-pohon kelapa berbaris memagari landskap pesisir.
Batu karang memagari Pantai Poto Baru dari dengan lautan (dok. pri).
Untuk benar-benar menjejak Pantai Poto Batu kami harus melangkah menuruni jalan tanah di antara kebun kelapa. Hal ini karena permukaan jalan raya terdekat dengan Poto Batu lokasinya lebih tinggi empat hingga lima meter dibandingkan permukaan pantai. 

Poto Batu sungguh memesona. Garis pantainya panjang dan bersih. Siang itu hampir tidak ada pengunjung lain selain rombongan kami. Sejauh mata memandang ke arah laut yang terlihat adalah bentang samudera luas dengan payung langit biru begitu cerah. Ke arah sebaliknya hijau pepohonan menampilkan kontras yang menyejukkan.

Meski pasir pantainya bukan pasir putih, tapi butirannya lembut dan tidak lengket sehingga kaki terasa nyaman melangkah. Semakin nyaman karena tubuh dibelai oleh hembusan angin yang sejuk dan membuat dedaunan kelapa ikut melambai-lambai. 

Batu karang di Poto Batu (dok. pri).
Berada di tepi Pantai Poto Batu seperti menyaksikan tarian gelombang air laut yang bergerak ritmis dan berulang menghampiri pasir pantai. Setiap kali mencapai tepi, gelombang itu membentuk gulungan-gulungan kecil yang menghamburkan pasir. Sesaat buih tertinggal, lalu lenyap, tapi kemudian gelombang kembali menyapa. 

Air laut di sekitar Pantai Poto Batu juga bersih dan bening. Kami bisa mendekat sampai beberapa meter ke arah perairan. Tapi sebaiknya berhati-hati dan jangan terlalu jauh dari pantai karena Poto Batu memiliki banyak batu karang yang tersebar di beberapa titik di dekat pantai. Batu-batu itu membuat air laut yang bergerak ke arah pantai terhempas lebih kencang. Menurut informasi pada saat-saat tertentu banyak orang yang datang ke Poto Batu untuk memancing ikan di atas baru-batu karang tersebut.

Meski demikian keberadaan batu-batu karang justru menjadi daya pikat utama di Pantai Poto Batu. Selain ukurannya yang beragam, bentuknya juga bervariasi. Ada yang memanjang, bulat, dan runcing. Satu batu terlihat sangat unik karena berukuran besar dan berbentuk seperti segitiga dengan ujung yang tumpul. Pada bagian tengah batu terdapat lubang mirip mulut gua. Konon batu berlubang inilah yang menjadi asal-muasal penamaan Poto Batu. 

Dari kejauhan batu berlubang itu memang terlihat sebagai landmark Poto Batu. Di bagian puncaknya tertancap sebuah tiang bambu dengan bendera merah putih. Batu itu juga ditumbuhi sedikit rumput dan sebuah pohon kecil. Sayangnya dijumpai coretan tangan-tangan usil yang tidak bertanggung jawab di atas batu.
Poto Batu (dok. pri).
Sengatan matahari siang itu seolah tak dirasakan lagi. Kantuk dan lelah seketika sirna. Kami enggan buru-buru kembali ke bus meski sebenarnya tidak tertulis Poto Batu pada daftar agenda kami hari itu. Untuk sesaat kami tidak peduli. Apa boleh buat, pijar pasir dan air laut, langit biru, hembusan angin yang segar, serta pemandangan di sekeliling Pantai Poto Batu telah memikat kami. Keterlaluan jika “vitamin sea” seperti ini dilewatkan begitu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta