Langsung ke konten utama

Festival Bocah Dolanan 2019: Merindukan Dolanan, Menolak Jadi Robot

"Ponsel pintar adalah simbol kedigdayaan teknologi modern. Namun, penggunaan gawai canggih tersebut secara berlebihan telah memangsa anak-anak dan menjadikan mereka robot yang kehilangan kepekaan. Dolanan atau permainan anak tradisional bisa menjadi pemulih dan penyeimbangnya"


Festival Bocah Dolanan 2019 (dok. pri).
Minggu pagi, 13 Oktober 2019, halaman Museum Radya Pustaka di Kota Surakarta terlihat ramai dan meriah. Banyak orang dari Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi membelokkan langkahnya untuk ke halaman museum. Sebuah panggung di depan pintu museum segera dipenuhi masyarakat dan terutama anak-anak. 

Tabuhan musik dan suara riang bocah membuat suasana pagi dilingkupi keceriaan. Cuaca yang cerah kian berwarna dengan tingkah para bocah. Sebuah lagu berbahasa Jawa terdengar keras dinyanyikan.

“Ayo kanca dolanan neng jaba, padhang wulan wulane kaya rina
Rembulane sing awe-awe
Ngelingake aja padha turu sore”

Lagu riang tersebut mengiringi dolanan Padhang Wulan atau Padhang Bulan. Liriknya berisi ajakan kepada anak-anak untuk berkumpul di kala malam. Bulan yang bersinar terang memanggil anak-anak agar bermain bersama di luar dan jangan buru-buru tidur sore.
Festival Bocah Dolanan (dok. pri).
Festival Bocah Dolanan (dok. pri).
Pagi itu Padhang Bulan menjadi salah satu pertunjukkan yang ditampilkan oleh sekelompok kelompok anak-anak di Festival Bocah Dolanan 2019. (Lihat videonya di sini)

Festival ini merupakan ikhtiar untuk membangkitkan kembali dolanan-dolanan anak serta melestarikan nilai-nilai positif di dalamnya guna meredam dan menangkal pengaruh buruk gawai, terutama ponsel pintar yang semakin menguasai anak-anak.

Seiring lagu Padhang Bulan, anak-anak itu bergerak dan menari dengan lincah. Di antara mereka ada yang memukul-mukul kentongan dan memainkan egrang bathok. 

Permainan egrang bathok mirip dengan egrang bambu. Hanya saya egrang bathok menggunakan bathok atau tempurung kelapa sebagai tumpuan kaki. Sementara pegangannya berupa seutas tali. Egrang bathok dimainkan sambil berbaris dan berputar-putar. Hentakan bathok pada lantai menghasilkan bunyi “thok-thok-thok” yang ritmis sehingga dolanan menjadi semakin menarik. 

Agar bisa bergerak lincah, anak yang menaiki egrang bathok harus menjaga keseimbangannya. Jika si pemain kehilangan keseimbangan sampai kakinya menyentuh tanah, itu tandanya ia harus bergantian dengan teman-temannya.
Festival Bocah Dolanan (dok. pri).
Setelah puas bermain egrang bathok, mereka melanjutkan dolanannya dengan jamuran. Dalam dolanan jamuran ada seorang yang berindak sebagai poros. Ia dikelilingi oleh teman-temannya yang berputar membentuk lingkaran sambil bernyanyi. 

Saat lagu berhenti anak yang menjadi poros akan menentukan tantangan untuk dilakukan oleh teman-temannya. Tantangan ini menjadi bagian paling seru dan menghibur dalam permainan jamuran. Berhasil atau tidaknya melakukan tantangan seperti “jadi kursi”, “jadi monyet” dan “jadi jamur payung” akan menentukan giliran dan peran setiap anak pada dolanan berikutnya.
***
Selain Padhang Bulan yang memuat dolanan egrang bathok dan jamuran, beragam dolanan lainnya juga ditampilkan di Festival Bocah Dolanan, seperti congklak, wayangan, dan jaran kepang. Semua dolanan dimainkan secara berkelompok. Setiap kelompok berisi belasan hingga puluhan anak berusia 5-12 tahun.

Menariknya, hampir semua kelompok merangkai beberapa dolanan sekaligus dalam satu komposisi yang dikemas layaknya teater anak. Misalnya komposisi Padhang Bulan yang menampilkan dolanan egrang bathok, jamuran, ombak banyu, dan nyek-nyekan. 
Festival Bocah Dolanan (dok.pri).
Festival Bocah Dolanan (dok. pri).
Kostum, aksesoris, dan perlengkapan yang mereka kenakan pun tak kalah menarik. Mulai dari pita aneka warna yang menghiasi kepangan rambut, hiasan janur kelapa, boneka, wayang hingga aneka alat musik mereka bawa.

Meski dinilai oleh para juri dan ditonton banyak orang, bocah-bocah itu tetap asyik memainkan dolanan seolah sedang melakukannya di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Pada setiap kali akan berganti dolanan, dialog-dialog dalam bahasa Jawa disampaikan dengan gaya khas bocah-bocah. 

Tak jarang celetukan, tingkah dan keusilan mereka mengundang tawa. Salah satunya ketika seorang bocah mengucap “tak kandake ibuku, lho”. Penonton yang terhibur langsung tertawa tergelak. Bahkan kemudian ucapan tersebut menjadi jargon yang ditirukan berulang kali oleh pembawa acara festival.
Festival Bocah Dolanan (dok. pri).
Festival Bocah Dolanan (dok. pri).
Kelompok lainnya memainkan komposisi berjudul Sayuk yang berisi aneka dolanan, salah satunya Cublak-cublak Suweng. Pilihan bisa berbohong atau tidak berbohong dalam permainan ini menekankan pentingnya nilai kejujuran yang perlu dimiliki anak-anak sejak dini.

Berikutnya sekelompok anak membawakan komposisi dolanan Babon Angrem. Di sini dolanan dikemas sebagai cerita tentang seorang anak yang tengah kesepian lalu menabuh benda-benda di sekitarnya.

Tabuhan itu ternyata memancing teman-temannya berdatangan. Mereka lalu bernyanyi, baik lagu-lagu berbahasa Jawa maupun Indonesia. Setelah banyak anak bergabung, mereka memutuskan untuk bermain bersama. Babon Angrem dan Kodok Ngorek menjadi dolanan utama yang ditampilkan.

Ada juga kelompok yang memainkan komposisi berjudul Wayahe Dolanan yang berarti Waktunya Bermain. Ceritanya dimulai dengan seorang anak yang diperintahkan oleh orang tuanya untuk menimba air. Usai menuntaskan perintah orang tua, ia pergi ke luar rumah dengan tetap membawa ember.

Di luar rumah si anak bertemu dengan teman-temannya yang akan bermain perang-perangan. Mereka membawa senapan mainan dan berjalan beriringan sambil bernyanyi. Anak itu pun meminta bergabung untuk bermain bersama. Maka mengalirlah aneka dolanan seperti wayangan, jarang kepang, dan lain sebagainya sebelum akhirnya ibu si anak datang untuk mengingatkan belajar. Saat itulah Wayahe Dolanan disudahi.
***
Festival Bocah Dolanan 2019 terasa cukup menggembirakan. Penonton yang berkerumun di sekitar panggung tidak hanya anak-anak, tapi juga orang tua. Semua menikmati pertunjukkan dolanan yang ditampilkan.

Bagi orang tua dan orang dewasa yang menonton, pastilah festival ini menjadi lorong waktu yang mengantarkan ingatan dan kenangan mereka kembali ke masa kecil ketika aneka dolanan tradisional masih mewarnai hari-hari mereka dulu.
Festival Bocah Dolanan (dok. pri).
Sedangkan perhatian dan antusiasme anak-anak yang menonton sebayanya di atas panggung memunculkan secercah harapan. Di antara mereka mungkin ada yang baru mengerti dolanan seperti Jamuran, Ombak banyu, dan Cublak-cublak Suweng.

Mereka mungkin mulai berpikir bahwa akan sangat menyenangkan jika mereka pun bisa bermain sambil bergandengan tangan bersama teman-teman dibanding sendirian di dalam rumah dengan ponsel pintar. Mereka menjadi tahu bahwa dolanan-dolanan itu ternyata bisa lebih mengasyikkan dibanding ponsel pintar.

Pada saat itulah sebenarnya dolanan-dolanan tradisional sedang mencari dan mencuri ruang di hati anak-anak. Selanjutnya peran dan dukungan orang tua sangat dibutuhkan agar anak-anak bisa lebih mengenal dan akhirnya memainkan kembali dolanan-dolanan tradisional.
Festival Bocah Dolanan (dok. pri)
Perkembangan teknologi yang semakin maju memang tidak bisa dihindari. Keberadaan gawai yang canggih pun bisa memberikan manfaat. Namun, era gawai dan penggunaannya yang cenderung tanpa kendali saat ini telah membuat anak-anak “kecanduan”. Gawai telah mengubah mereka menjadi robot-robot yang individualis dan kehilangan kepekaan terhadap lingkungannya.

Di sinilah dolanan bisa menjadi peredam sekaligus penyeimbang. Hampir semua dolanan dimainkan secara bersama-sama dan di dalamnya anak-anak belajar mengembangkan keterampilan komunikasi, berbagi peran serta tanggung jawab. 

Kebersamaan itu selain menciptakan keceriaan, dengan sendirinya juga menjadi wahana untuk menanamkan sikap toleransi, saling menjaga dan menyayangi antar manusia. Maka dolanan tak sekadar menghilangkan kecanduan anak pada gawai, tapi yang paling utama adalah mengembalikan anak pada dunianya dengan kepekaan sosial yang lebih baik. 
Merindukan dolanan? (dok. pri).
Banyaknya peserta serta antusiasme penonton anak-anak pada Festival Bocah Dolanan di Surakarta ini setidaknya membuktikan bahwa anak-anak bisa menerima tawaran yang lebih baik. Dengan dolanan mereka menolak menjadi robot. Tak terlalu masalah jika saat memainkan dolanan itu mereka memunculkan sifat usil dan nakalnya.
***
Video Festival Bocah Dolanan 2019 klik di sini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …