Langsung ke konten utama

11 Tahun Kompasiana, Jurnalisme Warga di Tengah Obsesi Popularitas


Hari Minggu lalu, 13 Oktober 2019, blog saya ini tepat berumur satu tahun. Lebih tepatnya satu tahun umur www.hendrawardhana.com. Cikal bakalnya sendiri, yakni wardhanahendra.blogspot.com sudah ada sejak 2011. 

Akan tetapi blogpost ini bukan membahas hendrawardhana.com. Rasanya tak ada yang istimewa dari blog ini kecuali bahwa saya senang mengetahui telah banyak tulisan yang tertuang di dalamnya. Selebihnya belum ada keunggulan dari blog pribadi ini yang pantas untuk diangkat sebagai cerita khusus.

"Esensi bukan sensasi", kata Kompasiana dulu (dok. pri).
Beda halnya dengan Kompasiana yang kebetulan juga berulang tahun pada bulan Oktober. Kompasiana resmi menjejak umur 11 tahun pada 22 Oktober 2019. 

Dengan umur yang telah melampaui satu dasawarsa, tentu banyak keistimewaan yang melekat pada Kompasiana. Silakan mencari tahu di google, di buku-buku, di dokumentasi-dokumentasi acara, atau di naskah-naskah hasil penelitian. Kompasiana bisa ditemukan di sana. Atau masuki saja rumahnya yang beralamat di www.kompasiana.com untuk merasakan langsung.

Taman Belajar dan Bermain
Bagi saya Kompasiana seperti taman belajar dan bermain. Di taman itu ada ruang maya bernama www.kompasiana.com/wardhanahendra yang pertama kali saya masuki pada 15 Juni 2010. Dari sanalah kemudian saya ikut dalam proses belajar menulis, berinteraksi, menerima masukan, memberi apresiasi, dan banyak lagi. Lalu tiba-tiba waktu meluncur cepat hingga tidak terasa sudah 9 tahun lebih saya mengikuti proses tersebut secara menyenangkan.

Harus saya akui Kompasiana adalah awal perkenalan saya dengan blog dan berbagai aktivitas blogging yang sesungguhnya. Tak mungkin saya melupakan Kompasiana. Ada memang senjang waktu saya disergap kebosanan dan merasakan momen ketika Kompasiana menjadi kurang menarik untuk dibuka. Akan tetapi belum saya temukan alasan yang benar-benar meyakinkan untuk meninggalkan ruang maya saya di sana.

Yang ada justru kenyataan bahwa saya sangat bersyukur karena Kompasiana telah memberi pengaruh besar pada penguatan kesadaran saya tentang satu hal. Bahwa kegemaran membaca dan menyerap informasi dari berbagai sumber akan semakin bermakna jika diikuti aktivitas menulis yang lebih intens. Penting bagi saya untuk membagikan apa yang saya pikirkan, saya alami, dan  saya ketahui dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca orang lebih luas. 

Ternyata menyenangkan bisa menulis di blog dan Kompasiana berkali-kali menunjukkan di mana letak kesenangan itu. Ternyata bercerita melalui blogpost mendatangkan kebaikan serta keajaiban dan Kompasiana menunjukkan bagaimana itu bisa didapatkan.

Kompasiana dan Jurnalisme Warga
Sembilan tahun menempati ruang maya Kompasiana membuat saya beruntung bisa menjadi saksi atau setidaknya mengetahui sejumlah hal penting dalam perjalanan #11TahunKompasiana. Sebutlah perubahan wajah kompasiana.com, beberapa skandal dan kehebohan kompasianer, kelahiran maskot Kriko yang kini tak diketahui kabarnya, serta sederet pembaruan dan inovasi yang mengalir. 
Kompasiana Freez, ruang istimewa bagi jurnalisme warga (dok. pri).
Di mata saya Kompasiana yang sekarang berbeda dengan Kompasiana yang dulu. Semangat besarnya tidak berubah, yaitu menginspirasi dan menyemai semangat menebar kebaikan lewat aktivitas blogging. Namun, tampak ada pendekatan baru yang diusung. Paling tidak itu tercermin dari slogan Kompasiana yang mengalami pemutakhiran menjadi #BeyondBlogging setelah sebelumnya “Sharing and Connecting”.

Sayangnya pendekatan baru itu dirasakan membuat sebagian warna khas Kompasiana perlahan memudar. Warna yang saya maksud adalah reportase atau jurnalisme warga. 

Memang sejak dulu Kompasiana tidak pernah mendeklarasikan diri secara khusus sebagai media jurnalisme warga. Kompasiana adalah blog sosial dengan aneka rupa artikel ditampung di dalamnya. Tapi sebuah kenyataan tak bisa dibantah bahwa jurnalisme warga pernah menjadi sangat kental warnanya di Kompasiana sehingga ada periode ketika Kompasiana memberi treatment khusus pada reportase khas warga. 

Kompasiana Freez, Kompasiana TV, rubrik Berita di kompasiana.com, serta Kompasiana Award kategori Citizen Journalism memperlihatkan bagaimana jurnalisme warga mendapatkan ruang khusus di Kompasiana. Kecuali Kompasiana Award, tiga yang disebutkan pertama sejak beberapa tahun lalu telah ditiadakan. 

Tentu bisa diperdebatkan apakah itu mengindikasikan telah bergesernya pandangan Kompasiana terhadap jurnalisme warga atau jurnalisme warga itu sendiri sudah menurun intensitasnya secara alami seiring gairah dan ketertarikan kompasianer pada hal lain. 

Padahal, daya pikat utama Kompasiana di mata saya adalah reportase khas warganya. Itulah yang membuat saya senang berlama-lama menatap halaman Kompasiana. Dulu gara-gara sering membaca artikel bergaya jurnalisme warga saya menjadi tertarik melakukan hal yang sama. Minat saya menulis reportase adalah pengaruh dari warna citizen journalism di Kompasiana.

Jurnalisme Warga dalam Himpitan Popularitas Blog
Entah kapan persisnya jurnalisme warga mulai berkurang kekentalannya di Kompasiana. Apakah seiring mundurnya beberapa kompasianer lama? Sepertinya bukan karena kompasianer-kompasianer baru terus berdatangan dan banyak di antara mereka merupakan penyaji artikel-artikel yang baik.

Akan tetapi sejak 2016 menjadi terlihat bagaimana Kompasiana sangat terobsesi pada pencapaian jumlah pengunjung dan popularitas. Pandangan ini bisa saja keliru, tapi beberapa indikator memperlihatkan kecenderungan obsesi tersebut.

Pertama, ada kalanya Kompasiana mudah mengobral artikel pilihan dan artikel utama (headline), terutama dari kategori politik dan olahraga yang memang hampir selalu berhasil menarik banyak pembaca untuk berkerumun. 

Tentu bukan masalah jika artikel tersebut memiliki keunggulan atau keutamaan yang layak ditempatkan sebagai headline. Tapi beberapa kejadian menimbulkan keresahan ketika Kompasiana terlalu mudah mengangkat artikel yang isinya lemah, kalau tidak boleh dikatakan sekadar pengulangan atas pengetahuan umum dari berita di media massa. Jadi apa kebaharuan atau keistimewaannya?

Hal tersebut kerap berulang, maka kesan adanya obral tak bisa dihindari. Barangkali admin, moderator, atau redaktur yang menangani rubrik spesifik, misalnya olahraga, perlu selangkah lebih cepat dalam mengikuti perkembangan terkini kabar dan hasil pertandingan dari sumber yang lebih utama. Ini agar lebih teliti dalam menilai artikel olahraga yang masuk dan yang terpenting tidak terlalu gampang mengangkat artikel yang isi serta aktualitas sudah tertinggal.

Agak menggelikan ketika Kompasiana mengangkat headline tentang perempat final kejuaraan bulutangkis pada saat babak semifinal sudah diketahui hasilnya dan final sedang menunggu. Terlalu mudah bagi Kompasiana untuk mengangkat artikel yang sekadar menyinggung peluang juara para atlet ketika babak pertama baru dimulai. Tentu saja atlet-atlet yang mengikuti pertandingan apa pun akan selalu memiliki peluang untuk menang atau jadi juara. 

Barangkali penting untuk selalu konsisten pada pedoman dalam menilai artikel pertama-tama berdasarkan isinya, bukan pada penulisnya. Mudahnya artikel, terutama politik dan olahraga naik menjadi pilihan dan bahkan headline pada akhirnya membangkitkan dorongan pragmatisme. Kompasianer akan berpandangan bahwa lebih bermakna dan menguntungkan baginya jika berceloteh tentang politik, olahraga, maupun topik-topik pop lainnya. Itu tidak sepenuhnya salah karena bagaimana pun pilihan ada di tangan kompasianer dan Kompasiana memfasilitasinya.

Akan tetapi ketika banyak kompasianer memusatkan obsesi pada topik yang seksi, politik misalnya, maka kecenderungan produksi artikel-artikel yang kurang berisi menjadi meningkat. Dalam hal ini saya teringat slogan Kompasiana Frezz yang berbunyi “Esensi, Bukan Sensasi”. Apakah slogan itu perlu dihidupkan atau diperkenalkan kembali?

Dorongan pragmatisme, mudahnya artikel politik dan olahraga naik ke halaman utama, serta obsesi pada tingkat keterbacaan yang tinggi, menurut saya telah ikut andil dalam pudarnya warna  jurnalisme warga Kompasiana. 
Kompasiana (dok. pri).
Kedua, dominasi artikel dari topik tertentu yang populer dengan sendirinya menggeser artikel-artikel menarik lainnya. Beberapa kali saya menemukan dan membaca artikel-artikel yang baik, tapi kurang mendapatkan exposure. 

Kadang berselang dua atau tiga hari kemudian artikel itu baru naik menjadi artikel utama. Bisa dipahami jika Kompasiana secara tidak sengaja melewatkan beberapa artikel karena banyaknya unggahan yang perlu diseleksi dan dimoderasi setiap hari. 

Namun, bisa pula dipertanyakan tentang Kompasiana yang terkesan mengalokasikan waktu pagi hingga sore untuk artikel-artikel utama dari topik yang populer, sementara artikel-artikel lain yang dianggap kurang seksi ditempatkan pada antrean sebagai calon artikel utama untuk malam hari.

Alokasi waktu dan antrean seperti demikian jika benar adanya tentulah perlu ditinjau kembali. Bagi saya artikel-artikel yang baik dan menarik meskipun topiknya tidak terlalu seksi tetap perlu mendapatkan antrean di depan jika memang artikel itu tayang lebih awal. Ini penting agar setiap artikel mendapatkan perhatian dan kesempatan terbaca secara lebih adil.

Ketiga, dukungan Kompasiana pada reportase warga juga berkurang kalau kita melihat hari ini foto-foto yang diunggah ke Kompasiana segera mengalami penyesuaian. Resolusi dan kualitas foto, khususnya foto utama akan menurun secara mencolok. Bagi saya ini agak mengecewakan karena mengurangi kualitas artikel reportase di mana kompasianer biasanya menyertakan beberapa foto pendukung. 

Keempat, kebijakan terbaru Kompasiana, yakni memotong atau membagi artikel ke dalam nomor-nomor halaman memang bisa menguntungkan. Namun, sisi negatifnya juga terasa. Kompasianer yang kerap menulis hingga lebih dari 1000 kata harus menerima kenyataan bahwa artikelnya dibagi ke dalam empat hingga lima halaman. Ini beberapa kali saya alami dan pastilah terjadi pula pada kompasianer lain.

Kurang mengenakkan bagi saya  membaca artikel dalam mode multiple page. Apalagi artikel yang terbagi sampai lebih dari empat nomor halaman. Kadang saya menjadi terganggu dengan artikel saya sendiri ketika mengetahui setelah tayang dan dimoderasi, artikel itu terbagi ke dalam nomor-nomor halaman yang lebih banyak dari sebelumnya.

Belum lagi ketika membaca melalui layar smartphone. Kadang ketika hendak melanjutkan bacaan dan meng-klik nomor halaman, sentuhan jari terpeleset pada iklan-iklan yang mengambang di halaman Kompasiana. 

Dengan demikian kebijakan membagi artikel ke dalam nomor-nomor halaman telah berdampak kurang baik. Cara itu justru meningkatkan kemungkinan pembaca memutuskan untuk tidak melanjutkan bacaannya. 

Sebuah jalan tengah patut dipertimbangkan oleh Kompasiana. Misalnya, tetap menerapkan multiple page, tapi dibatasi maksimal hanya sampai empat nomor halaman. Tentu saja artikel yang lebih pendek tidak usah dipaksakan untuk dibagi menjadi beberapa nomor halaman.

Kita bisa memahami kebutuhan Kompasiana pada tingkat keterbacaan dan popularitas artikel. Paling tidak sebagai entitas bisnis, tingkat kunjungan dan keterbacaan memang sangat penting. Namun, bagaimana obsesi tersebut tidak mengorbankan terlalu jauh keunggulan yang sudah lebih ada menjadi tantangan yang perlu digarisbawahi pada rapat-rapat Kompasiana selanjutnya.
***
Begitulah keresahan saya pada ulang tahun Kompasiana ke-11 ini. Keresahan yang bisa dipandang sebagai masukan atau kritik. 

Tidak benar-benar baru karena sejumlah kompasianer telah mengutarakan keresahan yang sama sebelumnya. Namun, saya merasa perlu menyampaikannya secara lebih panjang sebagai wujud perhatian pada taman bermain dan belajar yang telah memberi banyak kebaikan pada saya selama 9 tahun terakhir.

Boleh jadi kritik menjadi kurang menyenangkan, terutama jika tidak sesuai kenyataaan. Uraian hasil pengamatan saya di atas pun punya kecenderungan subyektif yang perlu diuji  dan dibandingkan lagi. Meski demikian saya percaya Kompasiana akan memberi perhatian dan mencatat kritik-kritik yang ada. Lagipula selama ini ada keutamaan yang selalu dimiliki Kompasiana, yaitu kesediaan mendengar, menerima, dan merespon kritik.

Kesediaan Kompasiana menyiapkan tidak hanya dua telinga, tapi banyak telinga untuk mendengar masukan adalah hal yang sangat baik. Sebagai kompasianer saya mensyukuri keterbukaan dan kelapangan hati Kompasiana. Inilah salah satu karakter Kompasiana yang membuat saya tetap bisa merasa nyaman, sayang, peduli atau apapun namanya. 

Kompasiana membuka diri sebagai media kolaborasi. Sebisa mungkin ini perlu dibalas dengan sepenuh cinta dan seisi jiwa oleh kompasianer. Ada ruang dan kesempatan bagi kompasianer untuk ikut membangun Kompasiana dengan memberikan kritik dan masukan sepanjang waktu. 

Terbukti bahwa Kompasiana mau menjadikan masukan dan kritik sebagai pijakan untuk berinovasi sekaligus melakukan perbaikan. Dalam hal K-Rewards misalnya, Kompasiana memperbaharui aturan dan kriterianya dengan berbagai pertimbangan, salah satunya tentu kritik dari kompasianer.
Keajaiban dari Kompasiana (dok. pri).
Fenomena K-Rewards memang menarik sehingga perlu dicermati secara mendalam. Meski inovasi ini dilandasi kebaikan dan memang bisa memberi kebaikan, tapi bisa jadi bumerang bagi Kompasiana mengingat mulai berkembang kecenderungan sebagian kompasianer menganggap bahwa rewards adalah hak dan Kompasiana wajib memberikan rewards apa pun keadaannya. Barangkali ini semacam gejala awal kecanduan.

Selain bisa membangkitkan pragmatisme yang berdampak pada kualitas konten, juga berpotensi memunculkan pergeseran persepsi tentang prinsip menulis di Kompasiana. Semoga tidak marak pandangan di kemudian hari bahwa menulis di Kompasiana itu harus dibayar. 

Akhirnya besar harapan saya taman belajar dan bermain ini akan terus tumbuh dan berjaya. Terima kasih tak terhingga  atas banyak kebaikan dan keajaibannya. Selamat Ulang Tahun, Kompasiana!

Komentar

  1. Saya membaca catatan ini dengan seksama. banyak pujian dan juga banyak masukan yang sangat berarti.

    selayaknya kompasiana tidak hanya menyimpan atau mencatat segala masukan dari Kompasianer tp juga membawanya ke ruang diskusi untuk pengembangan selanjutnya.

    Terima kasih, Mas

    Salam
    Nurulloh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"

“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”
Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir! Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan.
Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata …