Langsung ke konten utama

Bias Asa Karmila


Tidak banyak karya yang ditulis dan kemudian ditakdirkan untuk menjadi besar. Karmila adalah masterpiece bagi penulisnya sekaligus jadi tonggak bersejarah bagi penerbitnya, Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Karmila, karya besar Marga T. (dok. pri).
Saya masih ingat bagaimana menemukan Karmila di sudut ruangan sebuah toko buku pada 2010 silam. Saat itu sedang diadakan pameran buku dan sebagaimana lazimnya pameran buku, maka beberapa buku lama dikeluarkan dan dijual dengan harga lebih murah.

Karmila rupanya salah satu judul yang dijual "murah" ketika itu. Kalau tidak salah ingat saya membawanya pulang dengan hanya membayar Rp25.000. Harga yang sangat saya syukuri dan begitu selesai membacanya saya segera merasa sangat beruntung bisa mendapatkan karya besar ini.
"Kala terjaga di lelapnya malam, coba renungkan redup sang rembulan" (dok. pri).
Dengan mudah saya menyukai Karmila dan dengan mudah pula saya jatuh hati pada karya-karya Marga T berikutnya. Sejak membaca Karmila saya kemudian berburu novel-novel Marga T lainnya. Maka hari ini di rak buku saya Karmila bersanding dengan beberapa judul lainnya, sebutlah "Sekuntum Nozomi" dan "Bukan Impian Semusim”.

Cerita Karmila menurut saya sangat luar biasa. Marga membawanya secara bersahaja dalam kisah yang dekat dengan "kenyataan" sehari-hari. Karmila memang sebuah fiksi. Tapi sebagai sebuah pengalaman kisah, menurut saya Karmila adalah realitas.
"Haruskah ku akhiri segala yang tlah kujalani, anganku dan cintaku tlah terkubur" (dok. pri).
Kiranya saya tak perlu menceritakan ulang kisah Karmila. Saya khawatir penuturan ulang dari saya akan mengurangi secara signifikan kebermaknaan Karmila. Toh, orang-orang sudah paham bahwa Karmila adalah seorang mahasiswi Kedokteran yang menemui malapetaka dalam sebuah pesta yang dengan segera mengubah rencana besar hidup dan cintanya. 

Karmila kemudian hidup dengan sejumlah kemarahan, kepiluan, kekacauan, dan kegalauan. Ia merasa angannya hancur dan cintanya terkubur. Namun kepasrahan dan kesabaran menuntun Karmila menemukan cahaya terang bernama kebahagiaan justru dari masa kelam yang sebelumnya sangat ia benci dan ingin dibuangnya jauh-jauh.

Kisah Karmila yang menyentuh tentu dihasilkan dari sebuah perasaan yang peka dan halus seorang Marga T. Itu jadi semacam jalan tol yang membuat Karmila dengan mudah dan mulus meluncur ke dalam jiwa orang-orang yang membacanya.
Karmila adalah buku pertama yang diterbitkan oleh Gramedia (dok. pri).
Pada zamannya, Karmila disebut-sebut sebagai pembawa arah baru dalam dunia novel Indonesia. Selain itu, Karmila erat sekali dengan sejarah berdirinya GPU. Novel ini adalah buku pertama yang diterbitkan oleh GPU. 

Dengan kata lain Karmila adalah salah tonggak utama GPU. Karmila kemudian menjadi semacam standar bagi GPU dalam menerbitkan karya-karya fiksi. Kebijakan soal novel yang berkualitas dan populer bagi GPU mengacu salah satunya pada Karmila.

Karmila pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Rangkaian Karmila I terbit dari 6 Juli-4 Agustus 1970 dan Karmila II menyusul pada 15 April-9Juni 1971.
Karmila (dok. pri).
Karmila seakan-akan ditulis untuk menjadi karya besar. Sejak pertama kali diterbitkan Karmila telah menyentuh hati banyak orang sehingga dengan cepat dicetak ulang. 

Koleksi yang saya miliki merupakan cetakan kedua puluh. Novel Karmila itu adalah edisi khusus yang dicetak untuk memperingati 30 tahun penerbit Gramedia pada 2004. Edisi tersebut berjenis hardcover dengan jumlah halaman 319. Gambar sampul yang digunakan merupakan gambar yang sama seperti saat pertama kali novel Karmila diterbitkan oleh GPU pada 1974. Hal itu menunjukkan betapa secara historis GPU dan Karmila tidak bisa dipisahkan. Kebesaran GPU saat ini sedikit banyak  tak bisa dilepaskan dari kebesaran Karmila. 

Saya sangat beruntung dan bersyukur Karmila ada di rak buku saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal