Langsung ke konten utama

Pacar yang Baik Bernama "Patjar Merah"


“Jokowi itu China, nama aslinya Wie Jo Koh. Dia juga kafir, waktu lahir nama Kristen-nya Herberthus”

Narasi tersebut barangkali masuk dalam jajaran hoaks paling keren abad ini. Dalam kitab besar “hoaks-mania", narasi itu mungkin dijumpai di kategori “paket hoaks premium” karena sasarannya tokoh besar dan terbukti memiliki dampak yang luas serta dahsyat. Banyak orang mempercayainya sampai ke dalam lubuk hati. Meski kemudian terbukti kebohongannya, tapi tetap diyakini: pokoknya Jokowi itu China kafir!
Patjar Merah (dok. pri).
Begitulah, hari demi hari kita semakin sering menjumpai aneka rupa orang dengan tampang yang mengesankan malasnya mereka membaca. Kepada dunia mereka konsisten memamerkan kebodohan. 

Perlu digarisbawahi bahwa kebodohan diam-diam menular seperti virus yang bisa menjangkiti tubuh manusia. Abang ojek, penjual sayur, buruh pabrik, hingga orang-orang sebenarnya berilmu seperti mahasiswa, aktivis pemuda, guru, dokter, doktor, artis, bekas artis, dan ustad bisa dijangkiti kebodohan. Pendek kata siapapun bisa tertular virus kebodohan. 

Dengan mudah kebodohan bisa menimbulkan kondisi “gawat darurat”, yaitu ketika kebodohan segera membuat manusia menjadi picik, tidak mampu bersikap kritis, dan gagal melayani umpan balik. Dalam hal ini kebodohan bukan karena perbedaan volume otak atau rendahnya pendidikan, tapi sudah berevolusi sebagai penyakit yang menyerang mental dan jiwa.
Patjar Merah (dok. pri).
Penderita yang terjangkiti mental kebodohan sering tidak sadar. Jika sudah parah mereka mengalami halusinasi sebagai pemilik akal sehat paling unggul sejagat. Keparahannya susah disembuhkan, apalagi jika sudah berulang kali salah menenggak suplemen bernama propaganda dan mabuk hoaks. Lama kelamaan kebodohan mengamputasi kemanusiaan dalam diri manusia.

Oleh karena itu, segenap cara perlu dikerahkan untuk mengobati kebodohan. Beragam upaya harus terus dicoba untuk meningkatkan kapasitas membaca masyarakat.  Sementara mereka yang terpanggil untuk memajukan dunia literasi perlu “stamina” yang tinggi mengingat belum ada mantra “abrakadabra” dan “simsalabim” yang bisa menyembuhkan penyakit kebodohan hanya dalam semalam.

Rimba Buku
Kamis, 7 Maret 2018, tanggal merah. Saya datang ke Patjar Merah, sebuah hajatan literasi yang sudah berlangsung di Yogyakarta sejak 2 Maret dan akan berakhir pada 10 Maret.

Pada hari ke-6 penyelenggaraannya itu saya mendapati bangunan besar terbungkus warna merah di bagian depannya. Penampilan seperti demikian membuat siapapun tak langsung mengira bahwa bangunan itu adalah bekas gudang yang sebelumnya tak terpakai. 
Rimba buku Patjar Merah (dok. pri).
Begitu masuk kesenangan segera didapati. Suasananya, walau tak mewah, tapi menggairahkan bagi para pemuja buku. Di dalam ruangan tumpukan-tumpukan buku tertata rapi di atas rak-rak. Umbul-umbul tergantung di langit-langit atap yang tinggi. 

Seorang panitia berwajah manis yang saya jumpai di meja layanan pelanggan mengatakan tak kurang dari 9000 pengunjung sudah datang ke Patjar Merah. Jumlah yang menurut saya cukup banyak, meski Patjar Merah mengambil tempat di luar radius pusat pergaulan warga Yogyakarta. Lokasinya di Jalan Gedong Kuning No. 118 jauh dari kampus-kampus besar. 

Sejam setelah saya datang, pengunjung mulai ramai dan semakin ramai. Saya lumayan terkejut mendapati bahwa rak yang paling banyak diserbu oleh pengunjung adalah rak penerbit indie dan penerbit lain yang tidak terlalu populer. Saat bergabung dalam kerumunan itu saya coba memperkirakan bahwa minat pada buku-buku indie barangkali karena rasa ingin tahu terhadap bacaan-bacaan alternatif. Benar tidaknya saya tidak tahu persis.
Banyak di antara pengunjung hari itu juga adalah anak-anak. Tumpukan buku bersampul aneka warna di rak buku anak menjadi wahana bermain dan membaca mereka siang itu. Sementara di ujung gedung berlangsung obrolan yang  disesaki ibu-ibu dan calon ibu.

Azzam, seorang mahasiswa semester 6 dari IAIN Surakarta saya jumpai di tengah kerumunan pengunjung. Ia mengaku sengaja datang dari Solo menuju Patjar Merah bersama seorang temannya. Menyukai kajian sosial, budaya, dan politik, ia berharap bisa mendapatkan beberapa bacaan menarik sesuai minatnya. Maka ia pun segera tenggelam di rimba buku Patjar Merah.

Melayani
Adalah Windy Ariestanty dan Irwan Bajang yang menggagas sekaligus mengkomandani Patjar Merah. Acara literasi dan pasar buku ini barangkali tak lepas dari usaha membuktikan tinggi  rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Menurut hasil sejumlah survey global minat baca orang Indonesia tergolong rendah. Namun, bagi saya daripada sibuk “menguji” kebenaran survey tersebut, acara-acara literasi semacam Patjar Merah justru lebih bermakna karena ada semangat “melayani”.

Melayani sambil melambungkan misi mengembangkan budaya literasi. Semangatnya adalah mengajak masyarakat agar terus membaca sekaligus melawan gelombang penurunan minat membeli buku karena alasan, salah satunya, harga buku yang mahal. Meski mahal atau tidaknya harga buku rasanya tidak mudah diukur standarnya.
Buku Indie diminati (dok. pri).

Buku Indie diminati (dok. pri).
Maka dari itu potongan harga 30% hingga 80% yang ditawarkan Patjar Merah untuk sebanyak satu juta buku yang dibawa selama acara baru merupakan satu upaya. Butuh cara-cara lain yang tak membatasi masalah minat baca pada urusan harga buku.

Untungnya Patjar Merah sadar akan hal itu. Tidak heran karena penggagasnya adalah orang-orang yang paham dan matang dalam urusan literasi. Jadilah Patjar Merah mengambil ruang di tempat yang tidak biasa, yakni sebuah gudang yang jauh dari kota. Mengutip pernyataan Wiendy, kegiatan literasi perlu dilakukan di mana saja.
Berburu novel (dok. pri).
Cantik, ingin rasa hari berbisik (dok. pri).
Soal nama “Patjar Merah” juga menarik. Nama itu dipinjam dari novel klasik berjudul “Pacar Merah Indonesia” karya Matu Mona. Diterbitkan pertama kali pada 1938 dan terakhir kali pada 2010, roman Pacar Merah Indonesia menggambarkan petualangan Tan Malaka, sosok yang dijuluki sebagai Bapak Republik Indonesia meski kemudian julukan itu lebih lekat dengan “kesepian” dan “keterasingan” yang harus menjadi milik Tan.
Buku-buku (dok. pri).
Tan seperti kita tahu hanya memegang satu cinta yang dia anggap layak untuk diperjuangkan. Ia hanya benar-benar cinta pada tanah airnya. Ia menghidupi cintanya dengan semangat memerdekakan bangsanya dari penjajah. Kini, Patjar Merah hidup kembali melalui wadah literasi yang juga memiliki semangat memerdekaan, yakni memerdekakan masyarakat dari kebodohan.

Oleh karena itu, acara literasi Patjar Merah bukan hanya berbentuk pasar buku. Literasi lebih dari sekadar membeli dan membaca buku. Maka dipertemukanlah para pengunjung dengan narasumber-narasumber, antara lain Ivan Lanin, Ria Papermoon, Trinity, Joko Pinurbo, Adimas Imanuel, Jenny Jusuf, Max Lane, dan masih banyak lagi. Tujuannya agar para para penulis, pembaca, pembuat konten, komunitas, dan masyarakat umum bisa saling bertukar gagasan, pengalaman, keterampilan, serta menularkan semangat-semangat positif. Sekat di antara mereka coba dilebur melalui “Obrolan Patjar” dan “Lokakarya”.

Pacar yang Baik
Lewat tengah hari, saya memutuskan menyudahi kunjungan ke Patjar Merah . Di antrean kasir saat hendak membayar beberapa buku yang saya ambil, saya kembali bertemu dengan Azzam. Mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah itu telah mendapatkan tiga buah buku yang semua tebal. Satu di antaranya “Kuasa Kata”, karya besar Benedict Anderson.

Sebenarnya ia juga berminat mengambil satu buku lagi tentang Sigmund Freud. Namun, ia mengurungkannya karena ada buku lain yang lebih ia butuhkan dan tidak ada di Patjar Merah.
Obrolan (dok. pri).
Azzam dan ribuan orang yang telah dan akan terus datang ke Patjar Merah hingga hari terakhirnya pada 10 Maret nanti tentu memiliki selera buku yang tidak sama. Pandangan mereka terhadap buku atau bacaan mungkin juga tidak seragam. 
Patjar Merah (dok.pri).
Meskipun demikian, hampir bisa dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang menolak untuk menjadi bodoh. Mereka tidak mau pikiran dan jiwanya dijangkiti virus kebodohan. Mereka tidak ingin menjadi picik karena malas membaca. 

Bagi Azzam dan semua yang tenggelam di Patjar Merah, buku adalah “pacar” yang baik. Intim bersamanya akan mencerahkan pikiran dan jiwa sehingga tak gampang menjadi pengabdi hoaks maupun propaganda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …