Langsung ke konten utama

Suwarto dan Es Badeg di Purwokerto


Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB dan sinar matahari terasa mulai menyengat kulit. Di tepi Jalan Gatot Subroto, tepatnya di salah satu sudut simpang empat Pasar Manis Kota Purwokerto, seorang laki-laki berperawakan agak gemuk duduk di atas kursi plastik warna hijau. Ia tampak diam seolah sedang menunggu sesuatu. Berjarak beberapa langkah di depannya terdapat sebuah gerobak biru bertuliskan “es badeg”.
Pak Suwarto (dok. pri).


“Permisi, Pak. Mau esnya satu”. Ia seperti terkejut dan terbangun mendengar permintaan saya. Mungkin saat itu ia sedang termenung atau setengah melamun. Ia mempersilakan saya duduk di sebuah kursi plastik lainnya, lalu bangkit menghampiri gerobak biru itu. Melihat caranya melangkah dan mengangkat kaki, segera tertangkap bahwa satu kakinya sudah sulit untuk diajak melangkah cepat.

Suwarto, nama laki-laki berusia 69 tahun itu. Rumahnya di daerah Purwokerto Barat berjarak hampir 3 km dari tempatnya berjualan Es Badeg saat ini. Sudah empat tahun ia menjajakan Es Badeg. 

Badeg adalah sebutan masyarakat Banyumas untuk air nira yang disadap dari tandan bunga kelapa. Selain dijadikan bahan utama pembuatan gula merah atau gula jawa, dahulu Badeg juga sering dijadikan minuman. Rasanya yang manis dan menyegarkan. 
Pak Suwarto berjualan Es Badeg sejak 2015 (dok. pri).
Jika didiamkan selama beberapa hari Badeg akan memunculkan rasa masam dengan sensasi rasa seperti mint. Itu akibat proses fermentasi. Maka air badeg yang sudah didiamkan terlalu lama sebaiknya jangan diminum karena kandungan alkoholnya telah bertambah.

Lain halnya dengan Es Badeg yang dijual Pak Suwarto. Sama sekali tidak terlacak rasa masam karena ia menggunakan Badeg yang masih segar. Rasanya manis, tapi tidak terlalu pekat karena ia tidak menambahkan gula, sirup maupun pemanis tambahan lainnya. “Bakal gula ya nggak usah pakai gula”, kata Pak Suwarto.

Badeg itu dibelinya langsung dari penderes atau penyadap bunga kelapa dengan harga Rp4000 per liter. Satu liter Badeg bisa untuk membuat dua sampai tiga gelas minuman Es Badeg, tergantung banyak sedikitnya es yang ditambahkan. Kalau pembeli minumannya tidak ingin banyak es atau bahkan tidak menghendaki es, maka ia menuangkan lebih banyak Badeg. Itu berarti semakin sedikit Es Badeg yang bisa dibuatnya dari setiap liter Badeg.

Hari itu Pak Suwarto membawa 15 liter Badeg yang disimpannya dalam tiga wadah dari potongan bambu. Badeg sebanyak itu biasanya baru habis terjual dalam 2 hari. Dengan harga Es Badeg sebesar Rp3000 per gelas pendapatan dan keuntungan yang diperolehnya tidaklah banyak. Apalagi menurutnya peminat Es Badeg sudah sangat jarang. “Minuman jadul kan ya, sudah nggak banyak yang suka”, terangnya.
Es Badeg yang manis dan segar (dok.pri).
Meskipun demikian, ia tetap berjualan Es Badeg sebagai penyambung hidup. Apalagi setelah ia berhenti menjadi sopir. Dulu ia bekerja sebagai sopir truk pengangkut BBM di sebuah agen distributor minyak. “Kalau jualan dawet modalnya besar”, kata Pak Suwarto menjelaskan alasannya memilih berjualan Es Badeg.

Awalnya Pak Suwarto berjualan dengan cara berkeliling. Ia berjalan kaki mendorong gerobaknya ke terminal Purwokerto, Taman Andang Pangrenan, hingga ke tengah kota Purwokerto.
Es Badeg (dok. pri).
Namun, kondisi kakinya yang sakit membuatnya kini menempuh cara lain. Dua tahun belakangan ia tak lagi berkeliling dan memilih berjualan di sebelah barat Pasar Manis Purwokerto. Lokasi itu berada di ujung Jalan Gatot Subroto yang berbatasan langsung dengan Jalan Pemuda menuju Stasiun Purwokerto. “Mulai (jualan) jam 10 di sini (samping Pasar Manis). Nanti habis dzuhur sampai jam 3 di samping stasiun, dekat (kantor) Herona”, jelasnya.
Es Badeg (dok. pri).
Pak Suwarto pernah berpikir untuk berjualan es menggunakan sepeda motor. Ia pun mempunyai keinginan untuk membeli sepeda motor bekas yang bisa digunakannya sebagai pengganti gerobak dorongnya saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat

“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jereweh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya.
Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, …

Gamelan Pusaka Kraton Yogyakarta