Langsung ke konten utama

Masa Depan Garuda Indonesia Setelah "Dihajar" Milenial


Polemik daftar menu tulis tangan di penerbangan Garuda Indonesia menarik untuk ditelaah. Permasalahan terpenting bukan ada pada foto daftar menu yang diunggah ke media sosial, melainkan pada cara Garuda Indonesia merespon unggahan tersebut. Melarang pengambilan foto di pesawat dan melaporkan penumpang ke polisi justru memperlihatkan kelemahan besar Garuda Indonesia yang selama ini tampak baik-baik saja.
Bersama Garuda Indonesia melintas di atas Sumatera (dok. pri).
Garuda Indonesia sedang didera prahara. Bukan turbulensi yang terjadi pada Garuda saat ini. Kita tahu bahwa turbulensi adalah hal wajar yang terjadi pada penerbangan. Setiap pesawat modern dalam pembuatannya telah dirancang untuk menghadapi turbulensi. Gangguan turbulensi juga disebabkan oleh faktor dari luar dan belum pernah menjadi penyebab utama kecelakaan pesawat.

Sedangkan permasalahan-permasalahan yang menimpa Garuda belakangan ini tampak bersumber dari dalam kokpit dan ruang kendali mereka sendiri. Jika turbulensi relatif tidak berbahaya bagi kelangsungan perjalanan pesawat, maka error-error yang tidak tertangani dengan baik pada suatu perusahaan bisa mendatangkan bahaya yang besar. Itulah sebabnya kondisi yang terjadi pada Garuda Indonesia lebih tepat disebut prahara daripada turbulensi.

Sebutlah beberapa masalah Garuda yang muncul ke permukaan dan menjadi pengetahuan khalayak akhir-akhir ini. Pertama, untuk BUMN dengan citra sekelas Garuda, melakukan manipulasi laporan keuangan merupakan aib yang buruk. Apalagi manipulasi dilakukan untuk membangun kesan bahwa perusahaan sedang baik-baik saja dan mampu mencetak banyak laba.

Kedua, soal dugaan keterlibatan Garuda Indonesia dalam praktik kartel harga tiket pesawat. Dalam perkembangannya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan adanya pelanggaran rangkap jabatan pucuk pimpinan Garuda dan Sriwijaya Air. 

Ketiga, Garuda Indonesia terlempar dari jajaran 10 besar maskapai terbaik dunia versi Skytrax. Ini mengindikasikan adanya penumpukan error di dalam tubuh sang Garuda yang tak segera tertangani. Sudah pasti bukan tanpa sebab Garuda Indonesia turun ranking. Seorang siswa yang ranking sekolahnya jeblok tidak bisa menyalahkan teman sekelasnya yang prestasinya meningkat.

Semua permasalahan dan hal buruk yang menumpuk tampaknya telah menghalangi Garuda Indonesia untuk melihat jalan keluar bagi sebuah peristiwa yang sebenarnya sepele. Mirip orang yang ketika ditimpa permasalahan bertubi-tubi lalu menjadi tidak mampu berpikir jernih. Begitulah mungkin yang terjadi pada Garuda Indonesia saat merespon balik unggahan penumpangnya yang menceritakan pengalaman kurang baik tentang pelayanan Garuda.

Walau Garuda kemudian melunakkan larangan berfoto menjadi sekadar himbauan, lalu dikoreksi lagi menjadi mengizinkan mengambil foto, respon pertama yang keluar dari Garuda tetap menjadi fokus perhatian. Meskipun pada perkembangannya Serikat Karyawan Garuda membuka jalur kekeluargaan dan penyelesaian damai, tapi publik terlanjur telah mengetahui lebih banyak tentang kondisi Garuda Indonesia.
***
Larangan merekam gambar dan video, serta pelaporan ke polisi yang sempat dilakukan oleh pihak Garuda mengindikasikan dengan kuat adanya kelemahan besar dalam tubuh Garuda Indonesia. Kelemahan yang untuk sekian lama mungkin tidak dianggap sebagai kelemahan oleh perusahaan sampai kemudian Garuda menyadarinya setelah dihajar oleh netizen dan kaum milenial pada polemik daftar menu.

Kelemahan yang berangkat dari kegagalan Garuda mengenali dunia saat ini. Seperti seekor burung, Garuda sepertinya memandang langit tempat mereka terbang saat ini masih sama seperti langit di masa lalu. Padahal lingkungan telah berubah. Dunia saat ini dikuasai oleh makhluk-makhluk milenial yang tidak pernah ada sebelumnya.
Garuda Indonesia (dok. pri).
Generasi Milenial sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Milenial menguasai informasi, bahkan memproduksi informasi jauh lebih banyak dan lebih kuat dibanding jurnalis.

Sebagai konsumen, milenial jelas bukan konsumen yang pasif dan mudah dikendalikan. Konsumen milenial tidak hanya memiliki uang, tapi juga pengaruh. Bahkan, meski uang yang dibelanjakan tidak banyak, milenial sanggup menciptakan pengaruh yang besar nilainya.

Itulah mengapa banyak perusahaan modern saat ini menjadikan konsumennya sebagai agen pemasaran. Konsumen milenial adalah agen pemasaran terbaik di era digital sekarang.

Banyak perusahaan yang sukses karena menjadikan konsumennya sebagai teman baik. Kepada para teman-teman baiknya, perusahaan tidak berpromosi. Tidak ampuh lagi meyakinkan konsumen milenial dengan berpromosi karena para milenial tahu lebih banyak isi dunia dibanding perusahaan. Dibanding melakukan promosi, perusahaan-perusahaan modern lebih memilih komunikasi dan interaksi. 

Dengan komunikasi dan interaksi perusahaan akan mendapat banyak informasi  melalui tanggapan konsumennya. Bagi perusahaan modern yang terbuka, tanggapan positif maupun negatif dari milenial sama pentingnya. Review yang baik maupun kurang baik dari konsumen bisa menjadi modal berharga untuk merancang strategi-strategi yang menguntungkan bagi perusahaan. 

Respon awal Garuda terkait unggahan daftar menu tulis tangan mengindikasikan bahwa Garuda belum benar-benar menjadikan konsumen sebagai teman baik. Melaporkan konsumen ke polisi atas dasar pencemaran nama baik juga mengindikasikan bahwa Garuda belum cukup terbuka pada umpan balik yang diberikan penumpangnya sendiri. Garuda terkesan lebih terbuka pada ulasan positif yang mendukung citranya daripada menerima ulasan negatif yang dianggap merugikan.

Padahal, suara positif maupun negatif dari konsumen sesungguhnya mengandung keinginan-keinginan. Jika bisa memenuhi keinginan itu perusahaan akan mendapatkan berkah yang tak ternilai mengingat milenial adalah konsumen yang sangat berpengaruh. 

Mereka saling mempengaruhi satu sama lain. Milenial selalu membagikan pengalamannya kepada dunia. Pemasaran tradisional dari mulut ke mulut menjadi semakin ampuh di tangan konsumen milenial yang menguasai teknologi dan media sosial. 
Garuda Indonesia (dok. pri).
Hal lain yang harus dipahami oleh Garuda Indonesia adalah konsumen milenial tidak terlalu mempertimbangkan citra. Garuda boleh saja merupakan maskapai plat merah yang pernah meraih penghargaan-penghargaan bergengsi. Tapi milenial tak terlalu peduli pada citra tersebut. Sebagi konsumen, milenial lebih menghargai pengalaman yang dirasakan dan didapatkan secara langsung.

Semoga Garuda Indonesia belajar banyak dari polemik daftar menu ini. Lagipula Garuda telah merasakan bagaimana milenial “menghajar” perusahaan atas larangan berfoto di pesawat dengan cara memparodikannya melalui media sosial. Di era sekarang, parodi-parodi yang lucu bisa lebih menyakitkan dibanding lontaran kemarahan secara lisan. Di tangan milenial parodi seringkali menjadi alat teguran yang lebih keras dibanding teriakan langsung di depan telinga.

Setelah ini patut dinanti sejauh mana Garuda Indonesia bisa mentransformasikan dirinya sebagai bagian dari dunia baru yang dihuni milenial. Burung yang tidak bisa mengenali angkasa akan sulit terbang tinggi. Namun, sebagai orang yang senantiasa bangga jika terbang bersamanya, saya berharap Garuda Indonesia akan bisa mengangkasa lebih tinggi lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi