Langsung ke konten utama

Wajah Gus Mus hingga Jokowi di Pertokoan Gatot Subroto Solo


Kota Surakarta atau Solo lebih dari sekadar wisata kuliner. Bicara tentang Solo juga bicara tentang api kreativitas yang senantiasa dijaga tetap menyala di segala tempat. Tak hanya hadir di dalam ruang-ruang galeri elit, kreativitas juga hidup di gang-gang pemukiman dan di pinggir jalan.
Berfoto bersama mural di koridor "Gatsu" Kota Surakarta (dok. pri).
Koridor kawasan pertokoan di Jalan Gatot Subroto itu panjangnya hanya sekitar 400 meter. Namun, deretan tempat usaha tersebut mampu memikat banyak mata. Tidak hanya menonjolkan bisnis, koridor ini juga berfungsi rangkap sebagai kanvas seni.

Sejak akhir 2017 aneka mural menghiasi dinding-dinding dan pintu bangunan di sepanjang koridor. Dibuat oleh sekitar 100 seniman, mural-mural tersebut merupakan bagian dari kampanye “Solo is Solo” yang dikerjakan menjelang peringatan Sumpah Pemuda. 

Oleh karena itu, salah satu mural yang mencolok adalah mural Mohammad Yamin, tokoh penting di balik Sumpah Pemuda 1928. Mural Mohammad Yamin bersanding dalam satu bidang lukisan dengan mural Bung Tomo, pejuang pertempuran 10 November Surabaya. Selain mural Mohammad Yamin dan Bung Tomo, ada puluhan mural lainnya yang bisa disimak dengan tema nasionalisme, sosial, budaya, hingga musik. 
Nasionalisme Indonesia (dok. pri).
Pesan dari Gus Mus (dok. pri).
Melihat bentuknya yang menawan, tampak bahwa semua mural dibuat dengan konsep yang baik dan tidak sembarangan. Hasilnya berupa karya seni yang menarik, edukatif, dan inspiratif.

Beberapa mural yang menonjol antara lain mural seorang pembatik wanita. Mural ini seolah menyuarakan pesan betapa besar dan berharganya sebuah warisan budaya adiluhung seperti batik di tengah derap modernitas yang semakin deras. Kehadiran mural pembatik di jantung kota dan di kawasan bisnis menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga dan melestarikan batik.
"Kanvas Seni" (dok. pri).
Candid atau Stalking? (dok. pri).
Ada juga mural KH. A. Mustofa Bisri atau yang dikenal dengan Gus Mus. Mural Gus Mus disertai kutipan yang berbunyi: “Mereka yang hanya tahu hitam dan putih tak mengherankan bila terkaget-kaget melihat warna-warni yang lain”. 

Jelas bahwa mural tersebut mengingatkan kita pada kondisi masyarakat yang akhir-akhir ini mudah retak karena masalah perbedaan, intoleransi, dan diskriminasi. Dengan demikian mural Gus Mus juga menjadi pesan kepada bangsa Indonesia agar tetap setia dan bersatu pada fitrah kebangsaan yang majemuk.

Sementara itu di dekat persimpangan koridor Gatot Subroto hadir serangkaian mural bertema musik. Wajah Nike Ardila hingga Kurt Kobain menjadi daya tariknya. Selanjutnya ada beberapa mural bernuansa kartun dan tokoh animasi.
Mural (dok. pri).
Nike Ardila (dok. pri).
Namun, dari semua mural yang terbentang ada satu yang paling menyita perhatian, yakni mural wajah Jokowi yang sedang tersenyum sambil mengenakan blangkon. Mural ini menjadi sasaran favorit pengunjung, terutama sebagai latar untuk berfoto.
Jokowi (dok. pri).
Waktu terbaik untuk menikmati deretan mural di koridor Gatot Subroto adalah pada malam hari saat toko-toko telah tutup dan bentangan pintunya menampilkan Mural di bawah temaram cahaya lampu yang menambah kesan manis.

Komentar

  1. Permisi mas/pak. Saya Grafirati mengenai blog ini kan saya juga menemukan video nya di YouTube, saya hendak membuat tugas video tentang Wisata Solo menggunakan video dari YouTube mas/bapak apakah di izinkan? Terimakasih untuk perhatiannya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ancaman Bahaya "Direct Debit" LinkAja dan KAI Access

KAI Access menerapkan “direct debit” menggunakan LinkAja untuk pembayaran tiket kereta api. Pembayaran bisa langsung dilakukan tanpa perlu memasukkan PIN LinkAja. Dianggap praktis, fitur ini justru meningkatkan risiko dan ancaman bahaya bagi penggunanya. Saya mengalaminya sendiri beberapa hari lalu.Suasana rileks yang sedang saya nikmati pada Minggu (1/9/2019) siang lenyap seketika. Mood yang saya bangun selagi membaca buku tiba-tiba dirusak oleh sebuah pemberitahuan/info dari LinkAja di layar smartphone. Isinya kurang lebih begini:
“Anda sudah bertransaksi sejumlah Rp180.000 ke KAI Lokal….”.
Dalam rasa terkejut saya segera memeriksa aplikasi LinkAja dan menemukan riwayat pembayaran yang dimaksud. Masalahnya saya tidak memesan tiket KAI tersebut.
Saya lalu beralih memeriksa arsip tiket pada akun saya di aplikasi KAI Access. Ternyata tidak ditemukan daftar tiket yang dimaksud. Oleh karena itu, siapa yang memesan tiket KAI dengan menggunakan saldo LinkAja saya dan tiket apa yang dipesan me…

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.
Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online. Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.
Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.
Tiba saatnya unboxing. Milo Cube ini berupa bubuk coklat yang dipadatkan sehingga menyerupai permen hisap. Tapi sebenarnya tak bisa disebut permen karena meski dipadatkan, agregat bubuk Milo ini mudah hancur saat terjatuh.
Dalam benak dan angan saya ter…

"Jangkau" dan Tren Filantropi yang Tumbuh di Indonesia

Ada banyak jalan untuk mengulurkan tangan. Ada banyak cara untuk menjadi dermawan. Gairah baru filantropi memberi kesempatan bagi setiap orang untuk terlibat dalam misi kebaikan dengan berbagai cara.
Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok meluncurkan aplikasi bernama “Jangkau” pada awal Agustus 2019. Aplikasi yang dijalankan di perangkat mobile dan smartphone ini bertujuan untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan, terutama kalangan rakyat miskin dan lansia.
Jangkau mempertemukan mereka yang membutuhkan bantuan dengan orang-orang yang ingin membantu. Pada masa awal Jangkau masih terbatas mengelola sumbangan berupa barang, terutama barang kebutuhan lansia. Namun, ini hanya embrio. Artinya Jangkau akan dikembangkan lebih luas lagi.
Jangkau dan Humanisme Ahok Jangkau bersemi dari dalam penjara. Hasil pendalaman Ahok terhadap masih adanya orang-orang yang menghendaki bantuannya saat ia ditahan. Di sisi lain ia bukan siapa-siapa lagi. Bukan lagi pejabat dan tak mem…