Langsung ke konten utama

SUPERSEMAR, Kudeta Paling Canggih dan Keji oleh Soeharto

Runtuhnya orde baru pada 1998 telah membuka gerbang penelusuran sejarah Indonesia secara lebih terang. Pengungkapan fakta sejarah yang selama puluhan tahun ditutupi dan dimanipulasi oleh Soeharto gencar dilakukan. Para sejarawan, peneliti, saksi sejarah , hingga media bekerja keras meluruskan narasi sejarah yang sebelumnya dikuasai dan dikendalikan oleh rezim orde baru yang otoriter.

Sampul depan "Supersemar" yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (dok. pri).

Salah satu peristiwa penting yang terungkap secara lebih terang ialah Surat Perintah Sebelas Maret 1966 atau “Supersemar”.

Walau beberapa hal tentang Supersemar masih menjadi misteri, fakta-fakta Supersemar kini terangkai dalam narasi yang lebih mendekati sebenarnya dibanding narasi versi orde baru.

Malam 11 Maret
Memanfaatkan kecerdikannya sebagai ahli strategi militer, Soeharto merancang kudeta paling canggih dan keji. Ia diyakini mulai menjalankan strategi kudeta lewat peristiwa G30S-PKI.

Penelusuran sejarah pasca orde baru mencium jejak rekayasa Soeharto atas peristiwa pembantaian para jenderal sebagai bagian dari taktik Soeharto untuk menyingkirkan para pesaingnya lebih dulu. Bersamaan dengan itu Soeharto mulai menguasai angkatan darat dan mempengaruhi sejumlah pemimpin tentara untuk mendukungnya.

Beberaoa bulan kemudian Soeharto melangkah ke babak yang paling menentukan, yakni merebut kekuasaan Soekarno.

Mula-mula Soeharto melakukannya dengan memanfaatkan tangan orang lain. Ia secara cerdik mempengaruhi dua pengusaha yang merupakan kawan dekat Soekarno.

Dua orang tersebut diutus oleh Soeharto untuk menemui Soekarno dan menganjurkan sang presiden untuk mau menyerahkan kekuasaan pada Soeharto. Soekarno menolak dan marah. Ia menganggap dua kawan dekatnya telah berpihak pada Soeharto.

Gagal memanfaatkan dua kawan dekat Soekarno, Soeharto mengutus tiga petinggi AD pengikut setianya. Mereka ialah Masyjen Basuki Rachmat, Brigjen Jusuf, dan Brigjen Amirmachmud. Ketiganya dalam sejarah dikenal sebagai “kurir Supersemar”.

Tiga kurir tersebut menemui Soekarno pada 11 Maret 1966 di Istana Bogor. Soekarno juga ditemani tiga pengikutnya, yakni Soebandrio, Chairul Saleh, dan Leimena.

Terdapat dua versi lahirnya Supersemar pada pertemuan tersebut. Versi pertama menyebutkan draft Supersemar telah disiapkan oleh Soeharto dan dibawa oleh tiga kurirnya untuk ditandatangani oleh Soekarno di Istana Bogor.

Namun, versi kedua lebih bisa diterima. Soekarno yang dalam kondisi tertekan membuat konsep suratnya sendiri dengan disaksikan oleh tiga kurir Soeharto.

Tiga pengikut Soekarno sempat merevisi isinya. Tujuannya agar Soekarno tidak membuat kesalahan yang merugikan dirinya. Langkah tiga pengikut Soekarno itu tidak disukai oleh kurir Soeharto hingga terjadi beberapa kali revisi.

Ketika konsep surat perintah berhasil disepakati, Soekarno masih sempat meminta pertimbangan Soebandrio, Chairul Saleh, dan Leimena. Tiga orang tersebut pun memperingatkan Soekarno agar berhati-hati dan jangan sampai terperangkap. Soekarno juga disarankan agar memberikan perintah lisan saja kepada Soeharto tanpa harus melalui surat perintah tertulis.

Namun, Surat Perintah 11 Maret akhirnya ditandatangani oleh Soekarno. Selanjutnya malam itu Supersemar langsung dibawa ke Jakarta oleh Basuki Rachmat, Jusuf, dan Amirmachmud untuk diserahkan kepada Soeharto.

Tanpa disadari oleh Soekarno, malam itu juga kekuasaannya mulai diambil alih oleh Soeharto.

Soeharto Melumpuhkan Soekarno

Hanya sehari setelah mendapat Supersemar, Soeharto langsung bertindak radikal. Pada 12 Maret 1966 ia membubarkan PKI dan penangkapan orang-orang yang dituduh terlibat PKI dimulai kembali.

Soekarno terkejut mengetahui langkah Soeharto yang menjadikan Supersemar sebagai landasan pengambilan keputusan yang mestinya dilakukan oleh presiden. Sebab  Seokarno memberikan Supersemar hanya sebagai perintah kepada Soeharto untuk mengamankan ibukota dan melindungi Soekarno beserta keluarganya. Kenyataannya Soeharto bertindak jauh di luar wewenang teknis militer yang menjadi wilayahnya.

Sadar bahwa Soeharto akan bertindak lebih nekat, Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 13 Maret yang isinya memerintahkan agar Soeharto kembali pada tugasnya pada urusan teknis. Soeharto juga diminta menghadap Soekarno untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Di luar dugaan, Soeharto tak mematuhi Surat Perintah 13 Maret tersebut.

Sebaliknya dengan Supersemar di tangannya, Soeharto terus mengambil tindakan yang lebih luas. Soeharto berdalih ia telah mendapat kekuasaan untuk melakukan segala tindakan guna mengendalikan keadaan.

Pada kenyataannya, tindakanya lebih dari sekadar mengendalikan keadaan. Soeharto mulai melawan Soekarno. Meski saat itu Soekarno masih menjadi presiden, tapi satu demi satu kekuasaanya sedang dipreteli dan diambil alih oleh Soeharto.

Soekarno menyampaikan penegasan bahwa Supersemar yang ia berikan kepada Seoharto bukanlah transfer kekuasaaan. Namun, itu tak banyak berarti karena kudeta oleh Seoharto sudah merangkak semakin jauh. Soekarno pun mulai lumpuh kekuasaan dan kekuatannya.

Pada 18 Maret 1966 Soeharto menangkap 15 menteri pengikut Seokarno dengan tuduhan amoral dan terlibat PKI. Puncaknya, Soeharto berkomplot dengan MPRS sehingga pidato pertanggungjawaban Soekarno ditolak dalam Sidang Umum MPRS. Seiring dengan hal itu MPRS menerbitkan ketetapan untuk Supersemar.

Saat itulah Soekarno secara tragis telah dilengserkan. Kudeta oleh Soeharto mencapai tujuan dan sasarannya.

Tak puas hanya mengkudeta kekuasaan dari Seokarno, Soeharto yang dilantik sebagai presiden pada 12 Maret 1967 segera melakukan desakralisasi dan stigmatisasi Soekarno. Lewat orde baru yang dipimpinnya, Soeharto mengkudeta banyak bagian dalam sejarah bangsa di mana ia mengendalikan, memanipulasi, dan merekayasa narasi-narasi sejarah, bangsa, khususnya terkait Soekarno, PKI, dan Supersemar.

Melacak Supersemar Asli
Keberadaan naskah Supersemar yang asli masih belum diketahui hingga saat ini. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) memiliki tiga versi Supersemar. Masing-masing didapat dari Pusat Penerangan TNI, Sekretariat Negara, dan Akademi Kebangsaan.

Sempat ada keyakinan bahwa satu di antaranya merupakan Supersemar yang asli. Akan tetapi hasil uji forensik di laboratorium Polri menyimpulkan bahwa ketiganya tidak otentik alias palsu.

Selain palsu, ketiga versi Supersemar juga memiliki perbedaan satu sama lain. Ada yang satu lembar dan dua lembar. Logo garuda dan kop surat tidak seragam. Begitupula nama “Soekarno” yang pada salah satu versi ditulis “Sukarno”. Tanda tangan Soekarno dalam naskah juga dipalsukan.

ANRI telah berulang kali menelusuri keberadaan Supersemar yang asli. Termasuk dengan berusahan mendatangi Soeharto. Akan tetapi sampai penguasa orde baru tersebut meninggal, ANRI gagal mendapatkan petunjuk.

Pencarian kemudian dialihkan kepada orang-orang terdekat Soeharto. Salah satunya M. Jusuf, salah satu kurir Supersemar yang mengaku menyimpan salinan naskah aslinya. Upaya ini tidak berhasil karena M. Jusuf tidak pernah menunjukkan salinan yang dimaksud sampai akhirnya ia meninggal dunia.

Misteri keberadaan Supersemar yang asli mengindikasikan bahwa kudeta memang dirancang dengan sangat cermat dan rapi oleh Soeharto. Adanya tiga versi naskah Supersemar merupakan taktik yang disengaja oleh Soeharto untuk menutupi kebenaran soal isi dan bagaimana ia mendapatkannya untuk mengkudeta Soekarno. Sementara naskah aslinya diyakini banyak pihak disimpan sendiri oleh Soeharto.

Soeharto Mengkudeta Sejarah Bangsa
Walau naskah aslinya tak terlacak jejaknya, dari penulusuran sejarah dan pengakuan saksi-saksi, serta mencermati isi dari tiga versi yang ada, diketahui bahwa Supersemar mengandung subtansi bahwa Soekarno hanya memberikan tugas kepada Soeharto untuk mengamankan jalannya pemerintahan dan melindungi Soekarno beserta keluarganya.

Tugas atau perintah itu tidak sepenuhnya dipatuhi oleh Soeharto. Menurut Soeharto, Supersemar adalah pengalihan kekuasaan yang diberikan Soekarno kepadanya. Soeharto menggunakan Supersemar untuk mengkudeta Soekarno dan bahkan menghabisi pengaruh sang proklamator.

Supersemar akhirnya menjadi semacam surat sakti yang dengannya Soeharto memulai orde baru. Semenjak itu Soeharto pun mengkudeta babak-babak penting dari sejarah bangsa Indonesia lalu menggantinya dengan tumpukan kepalsuan.

Bukanlah suatu rahasia bahwa selama tiga dasawarsa berkuasa  Soeharto menjadikan peringatan Supersemar setiap tanggal 11 Maret sebagai salah satu alat untuk melegitimasi kekuasaannya. Rakyat Indonesia diarahkan pemahamannya untuk menerima menerima bahwa Supersemar merupakan jejak kepahlawanan. Dengan demikian rakyat juga dimanipulasi untuk memuja Soeharto sebagai penyelamat yang menerima pelimpahan kekuasaan dari Soekarno.

Ironisnya, hingga detik ini masih banyak orang yang tetap menganggap Soeharto sebagai panyelamat bangsa. Tanda bahwa bukan sekadar kekuasaan yang dikudeta oleh Soeharto, tapi juga pemahaman rakyat Indonesia berhasil ia kendalikan selama puluhan tahun.

Oleh karena itu, kini sangat penting untuk memahami Supersemar secara lebih jelas dan benar. Peringatannya perlu menjadi tonggak untuk mengkaji salah satu peristiwa kelam dan tragis dalam sejarah bangsa Indonesia.

Supersemar merupakan saksi bisu atas kudeta yang dilakukan Soeharto terhadap Soekarno dan bangsa Indonesia sekaligus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi