Langsung ke konten utama

Generasi Baru Teroris Indonesia: Muda, Galau, dan Berbahaya

Jika kami bersama nyalakan tanda bahaya/jika kami berpesta hening akan terpecah/aku dia dan mereka memang gila memang beda.

Teroris penyerang Mabes Polri (dok. Ivany Atina Arbi).

Saya senang sekali dengan lagu yang petikannya saya sebut di atas. Superman Is Dead dan Shaggy Dog yang membawakannya. Judulnya “Jika Kami Bersama”.

Beberapa tahun lampau ketika lagu itu pertama kali diperdengarkan, banyak kaum muda segera menjadikannya sebagai lagu bersama. Dinyanyikan keras-keras maupun lirih-lirih, lagu itu tetap punya energi yang sama.

Sementara pesannya sudah sangat jelas sejak awal lagu dibuka. Tersurat dalam liriknya yang mudah dicerna. Yakni tentang persatuan. Misalnya, kata-kata “nyalakan tanda bahaya” merupakan ungkapan bahwa kekuatan besar bisa diciptakan lewat persatuan.

Oleh karena itu saya mohon maaf karena sekarang harus memotong atau mengambil sebagian liriknya untuk menggambarkan bagaimana fenomena teroris milenial di Indonesia. Tentu lagu ini tidak dilatarbelakangi dan juga tidak ditujukan sebagai insipirasi bagi aksi-aksi tercela.

Teroris Milenial
Ungkapan “muda dan berbahaya” begitu saja melintas dalam benak saya saat merinding melihat dua kejadian teror berurutan yang terjadi Indonesia sepekan terakhir. Serangan teroris di Gereja Katedral Makassar dan Markas Besar Polri dilakukan oleh orang-orang muda yang berbahaya.

Di Makassar sepasang suami istri yang masih muda meledakkan diri dengan bom di pintu gereja. Sedangkan di Jakarta, seorang gadis secara mencengangkan menerobos markas besar polisi dan menebar ancaman di dekat kantor Kapolri sebelum akhirnya ia tewas ditembak aparat.

Usia mereka masih berbilang 20 tahunan. Belum sampai kepala tiga. Mereka tergolong milenial-Z, yakni generasi paling muda penduduk bumi.

Generasi milenial bagaikan anak emas dunia saat ini. Digadang-gadang menjadi pemain utama dan penentu wajah dunia sekarang dan nanti. Semua memuji, menaruh harapan sekaligus meletakkan beban besar di pundak generasi milenial.

Sebagai bukti bagaimana bernilainya “emas” ini, Presiden Jokowi pun sampai harus membentuk staf khusus milenial sebagai pembantu dekatnya.

Ada banyak lagi contohnya dan dijumpai secara luas dalam banyak rupa yang menempatkan generasi milenial di atas panggung utama. Mulai dari influencer, kepala daerah, politisi, hingga para sultan muda kini berbertebaran di Indonesia. Merekalah yang menguasai pemberitaan media, tontonan televisi, acara gosip, konten youtube , serta layar Instagram kita.

Sampai kemudian kita dibuat terhenyak dan dipaksa untuk menyadari bahwa ada milenial lain yang berbeda, yakni teroris milenial.

Mungkin ini agak berlebihan dan terkesan membesar-besarkan fenomena teroris hanya berdasarkan kejadian di Makassar dan Jakarta. Akan tetapi kalau kita mau jeli dan jujur menilai sejumlah tren yang ada, maka berseminya teroris milenial di Indonesia cukup bisa dipahami.

Kebangkitan Beragama
Berbagai faktor mempengaruhi berseminya teroris milenial. Ketika faktor-faktor itu bertemu dan bersama, hasilnya ialah bahaya seperti yang kita saksikan dalam teror di Makassar dan Jakarta.

Salah satu faktor yang penting untuk dikaji ialah tren kebangkitan beragama pada kalangan muda. Di kota-kota besar di mana komunitas milenial berlimpah ruah dan banyak dari mereka ialah pelajar, mahasiswa, serta pekerja muda, kebutuhan aktualisasi diri mulai banyak disalurkan lewat pertemuan-pertemuan agama.

Masjid-masjid di sekitar kampus semakin ramai oleh kajian-kajian yang diminati oleh mahasiswa. Undangan-undangan pertemuan dan ceramah dibagikan rutin lewat spanduk, poster, serta disebarkan dari satu teman ke teman lain. Ajakan-ajakan untuk datang ke pengajian semakin sering diterima.

Sekelompok anak muda gencar mendatangi rumah-rumah kos. Mereka mencari penghuninya untuk diceramahi soal agama. Kadang mereka berani mengetuk langsung pintu kamar dan meminta izin untuk bicara beberapa menit sambil menyampaikan undangan untuk hadir di pengajian.

Tentu kita tak boleh langsung menilai buruk fenomena seperti itu. Sebab gairah beragama semacam itu juga memberi sumbangan positif bagi moderasi beragama dan penguatan karakter generasi muda. Lagipula tren kebangkitan beragama tidak melulu dipengaruhi oleh ajakan dari pihak luar. Melainkan juga berasal dari kehendak dalam diri.

Walau demikian nyata bahwa bertemunya faktor dari dalam dan luar pada tren kebangkitan beragama telah memberi peluang berseminya pemikiran ekstrim dan radikal pada kalangan milenial.

Ketika sekelompok mahasiswa lebih antusias membahas riba bank, perayaan valentine, peringatan hari ibu, dan halal-haram demokrasi, saat itulah kecenderungan yang berbeda mulai tumbuh dalam pemikiran mereka.

Memang tidak semuanya berujung buruk, tapi juga tidak bisa dibantah bahwa seringkali pembahasan semacam itu menjadi pintu masuk untuk membicarakan hal-hal lain yang lebih berat soal kafir, thogut, hingga mengurusi dan menghakimi agama lain.

Surat wasiat yang ditinggalkan oleh teroris milenial di Makassar dan Jakarta paling tidak memperlihatkan indikasi masuknya pemahaman radikal dalam diri mereka dimulai dari hal-hal yang ringan soal riba bank, lalu meningkat soal boleh tidaknya berhubungan dengan orang kafir, sampai puncaknya ialah tafsir tentang jihad.

Maka dari itu, tren kebangkitan beragama di kalangan milenial perlu menjadi perhatian bersama. Bukan untuk dihindari. Melainkan lebih pada kebutuhan untuk memiliki sikap mawas diri.

Disuburkan Media Sosial
Berseminya teroris milenial juga dipengaruhi kuat media sosial. Konten-konten di media sosial ibarat pupuk. Sedangkan benihnya, yakni pemikiran intoleran dan ekstrim bersemi di sela-sela kebangkitan tren beragama. Benih-benih itu dikecambahkan dan disuburkan dengan siraman konten media sosial.

Tak hanya menjadi sarana mempengaruhi dan merekrut teroris muda, media sosial juga menjadi alat untuk memutakhirkan pemikiran radikal para calon teroris. Tebaran konten secara sistematis dibuat berjenjang, mulai dari sekadar ujaran kebencian, lalu intoleran, meningkat menjadi hasutan, sampai akhirnya seruan untuk melakukan aksi.

Media sosial menjadi arena simulasi di mana pemikiran radikal diekspresikan dalam bentuk perbuatan di dunia maya. Kita bisa dengan mudah melihat bentuknya. Salah satu yang paling mencolok ialah banyaknya ungkapan dan tagar yang bernada simpati pada teroris setiap kali terjadi peristiwa teror di Indonesia.

Itu pun terjadi saat bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Sehari setelah kejadian  teror tersebut muncul tiga tagar bermuatan konten agama dengan narasi tertentu yang mencuat di twitter.

Selama ini banyak pihak secara terang-terangan, terutama lewat media sosial, menyatakan simpatinya pada aksi teror. Di antara mereka adalah milenial. Dalam simpati yang mereka perlihatkan tampak adanya upaya untuk melakukan pembenaran terhadap tindakan teroris.

Frustasi dan Galau
Menarik pula mencermati surat tulisan tangan yang ditinggalkan pelaku teror di Mabes Polri. Dalam wasiatnya tersebut, pelaku sebenarnya tak hanya memperlihatkan pandangan dan pemahamannya tentang jihad, serta pertimbangan-pertimbangan yang mendorongnya untuk berjihad. Namun, tampak juga semacam frustasi dalam dirinya saat dihadapkan pada keinginan menemukan bahagia dan membahagiakan orang tua atau keluarganya. Di akhir surat pelaku meminta maaf karena belum bisa membalas kebaikan keluarganya.

Kegagalan menemukan solusi atas masalah kebahagiaan itu agaknya mempermudah  pengaruh doktrin tentang jihad menguasai pikirannya. Ia menyebut bahwa jihad diyakini akan bisa memberikan kemudahan bagi ia dan keluarganya untuk mendapat kebahagiaan di akhirat.

Kita bisa sedikit menebak nalar si pelaku. Bahwa ia tak bahagia dan tak bisa membahagiakan atau membalas jasa orang tua serta kakaknya di dunia. Lalu ia berpikir bahwa kebahagiaan yang lebih hakiki ialah akhirat. Kemudian dipahaminya bahwa jihad ialah cara untuk mencapai sesuatu yang hakiki itu karena jihad ialah amalan tertinggi di mata Tuhan.

Kegalauan juga terasa dalam surat wasiat si pelaku. Walau begitu yakin menguraikan soal riba, jihad, thogut, dan seterusnya, tapi terasa ada ragu dalam dirinya. Permintaan maafnya atas kesalahan berbanding terbalik dengan keyakinannya yang telah merasa benar dalam beragama.

Rasa galau itu barangkali masih ada sampai sesaat sebelum ia tewas ditembak. Dalam rekaman CCTV yang ditayangkan di berbagai media, tampak ia mondar-mandir tak menentu di lokasi terakhirnya.

Kemungkinan saat itulah setitik cahaya putih dalam hatinya masih menyala dan berusaha mengirim sinyal suara ke pikirannya. Namun, pada saat yang sama pekat hitam terus memenuhi dirinya. Cahaya putih itu pun larut kembali dan suara dari hari terdalamnya teredam sudah.

Tentu selain faktor-faktor di atas, ada berbagai faktor lain yang berpotensi melahirkan banyak teroris-teroris milenial. Oleh karena itu dalam sikap tenang dan tidak takut, kita pada dasarnya harus lebih waspada terhadap berseminya teroris milenial yang mungkin saja bisa berasal dari sekitar kita.

Agaknya sekarang kita perlu mulai membiasakan diri ketika bicara milenial bukan hanya tentang youtuber dan influencer. Melainkan juga teroris milenial yang muda, galau dan berbahaya.

Jangan sampai lagu “Jika Kita Bersama" dinyanyikan oleh mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi