Langsung ke konten utama

Kalau Mesut Ozil Hijrah ke Indonesia Semua Umpannya Akan Dianggap Offside

Membaca rumor akan bergabungnya Mezut Ozil ke Rans Cilegon saya seperti mendengar candaan sehari-hari di grup tongkrongan. Tak pernah merupakan sebuah kebenaran yang serius. Hanya candaan untuk selingan obrolan utama, tapi tetap dinikmati.

Mesut Ozil (foto: IG @m10_official).

Memang rumor tentang itu sudah diberitakan di beberapa media, termasuk oleh media asing dan heboh di media sosial. Namun, agaknya Mezut Ozil masih cukup waras untuk merawat karirnya. Kecuali kalau ia ternyata diam-diam sedang diambang kebangkrutan atau terjerat pinjaman online yang membuatnya kesulitan membayar sehingga tawaran uang dari Raffi Ahmad bisa jadi penyelamat baginya.

Terbuang dari Liga Inggris setelah melalui masa-masa sulit di Arsenal dan “hanya” bermain di Liga Turki, bukan berarti Ozil telah menjadi pesepakbola dengan ambisi yang “seadanya”. Kualitasnya masih cukup mumpuni untuk bersaing di Eropa. Namanya masih harum sebagai salah satu gelandang kreatif dari Jerman.

Oleh karenanya butuh seribu alasan, termasuk mungkin alasan yang kurang logis untuk disampaikan ke fans sepakbola dunia jika nantinya ia benar-benar bermain di Liga Indonesia. Para fans di luar sana mungkin akan buru-buru mengakses google untuk mencari tahu tentang Liga Indonesia. Lalu mereka akan menemukan profil PSSI. Membaca tentang mafia, pengaturan skor, dan lapangan-lapangan di bawah standar.

Kemudian saat mengetahui posisi Indonesia dalam rangking FIFA, para fans akan terdiam. Sedangkan saat menemukan Bali dan Mandalika di hasil pencarian google tentang Indonesia, para fans meyakini Ozil datang ke Indonesia sebagai duta wisata.

Walau demikian bukan berarti tidak ada peluang Ozil bermain di Indonesia. Hijrahnya ke Liga Indonesia bukan sesuatu yang mustahil. Seburuk-buruknya sepakbola Indonesia, liga negeri ini telah berhasil mendatangkan nama-nama besar sebelumnya. Siapa yang pernah sangka sebelumnya seorang Michael Essien akan berkostum Persib?

Tak ada yang menduga pula Charton Cole, Julien Faubert, Lee Hendrie, dan Pierre Njanka bermain di Liga Indonesia. Bahkan, jika ditarik mundur lebih ke belakang, Liga Indonesia pernah punya gengsi dengan pemain-pemain sekelas Roger Milla dan Mario Kempes.

Artinya, sepakbola Indonesia bukan tidak dikenal sama sekali. Paling tidak kegilaan masyarakat Indonesia pada sepakbola sangat besar. Ini sudah diakui luas.

Lagipula meski liga negeri ini tidak cukup berkualitas, tapi sepakbola Indonesia mendapatan exposure yang lumayan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Adanya beberapa pemain muda Indonesia yang mulai merumput di liga-liga luar negeri dan menjadi pemberitaan di sana membuat sepakbola Indonesia menjadi lebih sering disebut. Apalagi dengan akan bergabungnya beberapa “pemain asing” dari Liga Belgia dan Belanda yang segera menjadi WNI untuk memperkuat Timnas.

Ozil jika membuka google dan mendapati nama Luis Milla sebagai mantan pelatih Timnas Indonesia, lalu digantikan oleh Shin Tae Yong sekarang, kemungkinan akan penasaran mencicipi sepakbola Indonesia. Datang ke Liga Indonesia bisa dimanfaatkan olehnya untuk menemui pelatih yang pernah membuat Ozil dan Timnas Jerman kalah dari Korsel pada Piala Dunia 2018.

Ia pun bisa jadi akan terkejut melihat Angelo Alesio yang kebetulan pernah mewarnai Premier League ternyata melatih klub Indonesia.

Jangan pula lupakan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah piala dunia U-20 pada 2023 nanti. Artinya dunia akan menyaksikan sisi lain dari sepakbola Indonesia yang selama ini tak punya banyak prestasi untuk diberitakan.

Di luar hal itu tidak berlebihan jika Ozil punya alasan subyektif tersendiri jika benar-benar merumput di Liga Indonesia. Fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan penganut muslim terbesar di dunia dan banyak warganya tergila-gila pada sosok Erdogan, bisa membuat Ozil memutuskan pilihan pada Indonesia.

Walau demikian Ozil sebaiknya membuka google lebih lama dan menelusuri halaman lebih banyak agar ia tidak mengalami “gegar budaya” saat bermain di Liga Indonesia nanti. Jika benar-benar ingin mencicipi Liga Indonesia, ia perlu mengetahui beberapa “peringatan bahaya” seperti halnya orang membaca peringatan serupa pada kemasan rokok.

Ozil harus siap mental untuk bermain dan menerima tantangan tak terduga dari gaya sepakbola Indonesia yang “keras”. Seorang Michael Essien yang dikenal keras dan lugas pun sempat emosi ketika “dikasari” oleh pemain Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana Ozil  yang kalem akan meladeni aneka “jurus kaki dan tangan” dari pemain di Liga Indonesia. Bisa-bisa sepanjang pertandingan Ozil lebih banyak mengucap istighfar dan berdzikir.

Kekhawatiran lainnya yang merupakan peringatan utama bagi Ozil jika bermain di Liga Indonesia ialah soal kemungkinan ia akan frustasi karena tidak bisa mencetak umpan sama sekali. Bisa pula ia akan gagal mencetak gol selama bermain di Indonesia.

Bukan karena ia tak mampu memberi assits dan mengantar bola ke gawang lawan. Namun, dikhawatirkan semua umpan dan golnya akan dianggap offside di Liga Indonesia.

Kita tahu Ozil merupakan pengumpan handal. Kemampuannya mengirim bola untuk dimanfaatkan penyerang seringkali menjadi pembeda dalam pertandingan yang dimainkannya. Kualitas assist seorang Mezut Ozil sering menjadi penentu. Begitupula pergerakannya kerap menyulap pertandingan untuk menghasilkan kemenangan bagi tim.

Sayangnya para hakim garis dan wasit di Liga Indonesia punya kebijaksanaan istimewa dalam mengukur jatuhnya umpan dan tendangan. Para pengadil Liga Indonesia dikenal canggih karena bisa secara ajaib mengangat bendera dan meniup peluit tanda offside untuk setiap umpan atau tembakan yang mengarah ke gawang lawan. Sebaliknya mereka bisa dengan tenang mendiamkan umpan dan tembakan yang sebenarnya offside untuk diteruskan sebagai gol.

Kualitas umpan Ozil yang sangat baik akan mengejutkan sekaligus membingungkan para hakim garis dan wasit di Liga Indonesia. Umpan tipis terukur yang sering diciptakan oleh Ozil untuk melayani rekannya bisa-bisa akan selalu dibatalkan oleh hakim garis. Sebab umpan-umpan Ozil berpotensi membuat kiper lawan “sakit hati”. Sedangkan kiper dalam pertandingan harus mendapatkan perlindungan dan tidak boleh disakiti.

Dengan kualitas dan kebiasaan wasit serta hakim garis di Liga Indonesia semacam itu, Ozil harus siap menerima kenyataan bahwa ia tak akan pernah bisa mencetak assist. Semua umpan dan tembakannya hanya akan berujung pada bunyi peluit dan bendera yang diangkat.

Dikhawatirkan Ozil akan “kena mental” dan berubah menjadi “rendah diri” karena merasa kualitasnya ternyata belum ada apa-apanya untuk menaklukan Liga Indonesia yang istimewa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MILO CUBE, Cukup Dibeli Sekali Kemudian Lupakan

Alkisah, gara-gara “salah pergaulan" saya dibuat penasaran dengan Milo Cube. Akhirnya saya ikutan-ikutan membeli Milo bentuk kekinian tersebut.   Milo Cube (dok. pri). Oleh karena agak sulit menemukannya di swalayan dan supermarket, saya memesannya melalui sebuah marketplace online . Di berbagai toko online Milo Cube dijual dengan harga bervariasi untuk varian isi 50 cube dan 100 cube. Varian yang berisi 100 cube yang saya beli rentang harganya Rp65.000-85.000.   Pada hari ketiga setelah memesan, Milo Cube akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka bungkusnya saya langsung berjumpa dengan 100 kotak mungil dengan bungkus kertas hijau bertuliskan “MILO” dan “ENERGY CUBE”. Ukurannya benar-benar kecil. Satu cube beratnya hanya 2,75 gram, sehingga totalnya 275 gram.   Milo Cube yang sedang digandrungi saat ini (dok. pri). "Milo Kotak", begitu kira-kira terjemahan bebas Milo Cube (dok. pri). Tiba saatnya unboxing . Milo Cube ini berupa bubu

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Purbalingga Food Center: Becek, Lembap dan Kurang Rapi

Awal Januari 2020 ada sebuah tempat baru yang diluncurkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Namanya Purbalingga Food Center . Purbalingga Food Center (dok. pri). Saya tahu pertama kali dari berita daring yang mengabarkan pemindahan ratusan pedagang kaki lima ke "Purbalingga Food Center" pada 6 Januari 2020. Saat itu diadakan karnaval yang menjadi simbolisasi pemindahan sekitar 360 PKL penghuni Alun-alun Purbalingga, area GOR/Stadion Goentoer Darjono, trotoar Jalan Piere Tendean dan sekitarnya untuk selanjutnya disatukan di Purbalingga Food Center.   Lokasi Purbalingga Food Center ada di selatan GOR Goentoer atau tepat bersisian dengan jalan lingkar selatan GOR Goentoer. Jaraknya dari Alun-alun Purbalingga tak sampai 2 km. Pada 11 dan 12 Januari 2020 saat berada di Purbalingga, saya sempatkan untuk melihat tempat ini. Saya datang pada pagi hari meski layaknya pusat jajanan kaki lima, tempat ini pun perlu dicoba untuk dikunjungi pada malam hari.   Ar