Langsung ke konten utama

5 Prestasi Cemerlang Pak Iwan Bule, dari PSSI untuk Sepakbola Dunia

Indonesia menang atas Kuwait dalam kualifikasi Piala Asia 2023 pada Rabu (8/6/2022). Euforia segera melingkupi suporter bola tanah air. Topik seputar pertandingan yang berakhir 2-1 tersebut mendominasi  perbincangan di media sosial.

Kemenangan timnas berkat kerja keras Ketum PSSI, Pak Iwan Bule (foto: twitter Regista).

Walau belum menjamin kelolosan Indonesia, euforia itu bisa dipahami. Sebab sudah sangat lama tim garuda tak bisa meraih kemenangan dari negara kuat di Asia. Seolah alergi, Indonesia lebih sering menderita kekalahan telak manakala bertemu timnas dari jazirah Arab. Bahkan, garuda sering sial pula dalam pertandingan yang dipimpin oleh para pengadil dari kawasan Arab.

Oleh karena itu, pujian dari suporter Indonesia mengalir deras untuk para pemain timnas usai pertandingan. Apalagi kemenangan yang diraih hadir melalui skenario “epic comeback” cepat pada akhir babak pertama dan awal babak kedua.

Pendukung Indonesia juga memuji Shin Tae-yong yang kembali memperlihatkan kejeniusannya sebagai pelatih kaya taktik. Dianggap tak akan mampu menang, timnas justru memberi kejutan.

Kesabaran STY menangangi para pemain yang sempat murung ketika latihan berbuah 3 poin penting. Mengingat kemenangan atas Kuwait merupakan yang pertama kalinya bagi Indonesia setelah 42 tahun, STY telah mempersembahkan sebuah masterpiece bagi timnas Indonesia.

Sayangnya, antusiasme yang ditujukan kepada para pemain dan pelatih membuat para pendukung Indonesia melupakan sosok penting dalam sepakbola Indonesia. Seperti dinarasikan oleh PSSI melalui berita di situs resminya, kemenangan Indonesia atas Kuwait merupakan buah dari kerja sang aktor utama, yakni Bapak Iwan Bule.

Sebagai Ketua PSSI yang sangat paham tentang sepakbola Indonesia dan dunia, beliau memang bukan ketua biasa. Semangatnya mengupdate konten median sosial timnas merupakan salah satu bukti peran besar beliau dalam setiap perjalanan timnas. Suntikan motivasi, video call dan kunjungan ke tempat latihan yang sering ia lakukan sama pentingnya dengan taktik STY. Timnas juga pantas bersyukur karena semua program latihan di luar negeri dikabulkan oleh PSSI.

Sepakbola Indonesia beruntung dipimpin oleh sosok yang memiliki passion dan pengetahuan luas tentang sepakbola seperti beliau. Apalagi dalam masa jabatannya yang belum lama dan di tengah cekaman hebat pandemi Covid-19, sepakbola Indonesia tetap mampu berprestasi.

Paling tidak ada 5 prestasi cemerlang yang ditorehkan sepakbola Indonesia di bawah kepemimpinan beliau.

Pertama, dalam waktu kurang dari satu tahun Indonesia berhasil dua kali menjadi juara tanpa mahkota. Yakni runner up Piala AFF dan medali Perunggu di Sea Games. Dua gelar tersebut sangat bergengsi. Tidak semua negara bisa meraihnya. Timor leste, Brunei Darussalam, dan Kamboja pun tidak mampu mendapatkannya hingga detik ini.

Bahkan, negara kuat langganan piala dunia seperti Brasil, Argentina, Spanyol, dan Jerman pun belum pernah mencicipi sengitnya pertandingan piala AFF.

Kuncinya ialah pada kepemimpinan. Federasi akan kuat jika pemimpinnya kuat. Terbukti tahun ini ketua federasi sepakbola dari banyak negara belum menghadirkan gelar juara bagi timnasnya. Sementara Pak Iwan Bule mampu memberi suporter Indonesia dua kebanggaan lewat runner up Piala AFF dan perunggu Sea Games.

Kedua, berhasil membawa Indonesia selevel dengan Italia. Kegagalan Indonesia melangkah jauh di kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 banyak dicibir oleh suporter. Apalagi timnas Garuda menduduki peringkat buncit grup.

Pak Iwan Bule, Ketum PSSI yang kaya akan prestasi cemerlang (foto: PSSI).
PSSI sebagai federasi yang mengurusi sepakbola Indonesia dianggap gagal menyiapkan timnas terbaik. Tidak ada dukungan yang memadai untuk timnas. Jadwal liga tidak bersahabat dengan agenda timnas. Bahkan, PSSI seolah membiarkan klub-klub liga Indonesia menahan para pemain terbaik yang sedianya dipanggil timnas.


Semua tuduhan tersebut sebenarnya keliru. Sebab sekarang federasi sepakbola Indonesia sudah berbeda dengan era-era sebelumnya. Di bawah kepemimpinan Pak Iwan federasi bekerja dengan sangat baik dan profesional. Buktinya, Indonesia berhasil menyamai capaian Italia. Yakni, sama-sama tidak lolos Piala Dunia.

Ketiga, membuat sepakbola Indonesia semakin seksi dan bergengsi. Ditandai dengan datangnya sejumlah pesepakbola dan pelatih top Eropa untuk merumput di stadion-stadion Indonesia.

Ondrej Kudela, bek anyar Persija salah satu contohnya. Anggota timnas Ceko tersebut  sudah malang melintang di Eropa. Lawan-lawan yang pernah dihadapinya bukan sembarangan. Ia telah berduel dengan Messi, Lukaku dan banyak pemain top lainnya.

Sebelumnya ada juga Marco Motta, mantan pemain timnas Italia yang memperkuat Persija. Angelo Alesio, kaki tangan Antonio Conte juga menangangi Persija tahun lalu. Terbaru, Persija berhasil mendatangkan pelatih berpengalaman dari Eropa, yakni Thomas Doll yang setara Jurgen Klopp.

Mereka semua datang ke negara ini selain karena alasan profesional untuk berkarir di Liga Indonesia, mungkin juga secara personal karena tertarik dengan kharisma ketua federasi Indonesia. Bahkan, Mesut Ozil pun berlibur ke Indonesia di era kepemimpinan beliau.

Keempat, membuat sepakbola Indonesia semakin berdaulat. Ini ditandai dengan munculnya banyak wasit dan hakim garis terbaik dari Liga Indonesia yang mampu menciptakan aturan dan standar baru perihal offside, backpass, dan seterusnya.

Ini penting karena Indonesia merupakan negara merdeka yang tidak boleh diatur oleh negara atau organisasi apapun. Tidak perlu sepakbola Indonesia mengikuti law of the game yang diberlakukan FIFA. Lagipula FIFA didirikan oleh negara-negara kolonial.

Oleh karena itu, kita harus punya aturan sendiri. Termasuk soal offside, wasit dan hakim garis di Liga Indonesia sudah bertindak tepat dengan tidak mengikuti aturan yang berlaku di liga-liga lain. Ini sebuah pencapaian yang istimewa karena memperteguh bahwa sepakbola Indonesia mampu berdaulat penuh.

Kelima, menciptakan filosofi baru dalam sepakbola kekinian. Di bawah kepemimpinan Pak Iwan Bule, sepakbola Indonesia membuktikan bisa berprestasi meski tidak memiliki fasilitas latihan memadai.

Ketiadaan pusat pembinaan pemain muda ternyata bukan masalah bagi timnas Indonesia. Sebab kekurangan tersebut bisa ditutupi secara sempurna lewat kepemimpinan yang kuat. Ketika ketua federasi rajin menyapa para pemain, kualitas permainan timnas pun bisa meningkat. Asalkan ketua federasinya eksis di media sosial, timnas pun akan eksis dengan sendirinya.

Pak Iwan Bule hadir langsung di stadion demi mendukung timnas (foto: PSSI).

Inilah filosofi sepakbola baru yang patut diperkenalkan ke seluruh dunia. Bahwa filosofi sepakbola modern yang dianut oleh negara-negara barat ternyata kurang relevan lagi. Untuk apa menghabiskan banyak dana guna membangun fasilitas?

Sepakbola Indonesia di bawah kepemimpinan beliau sudah membuktikan bahwa dengan fasilitas yang kurang pun tetap bisa menjadi runner up Piala AFF, meraih perunggu Sea Games dan mengalahkan Kuwait.

Dengan segala prestasi dan pencapaian cemerlang tersebut, Pak Iwan Bule terllau hebat untuk sepakbola Indonesia. Sekarang kemungkinan para eksekutif FIFA yang berkantor di Swiss sedang menggelar rapat diam-diam untuk membujuk dan membajak Pak Iwan agar mau menjadi presiden FIFA.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Bad Content is a Good AdSense", Jahatnya Para Pemburu Untung di Tengah Pandemi

Selama ini kita mengenal “hukum media” yang berbunyi “Bad News is a Good News”. Itu semacam sindiran atau ungkapan ironi tentang pola pemberitaan media masa kini yang kerap berlebihan dalam menyampaikan informasi dan berita seputar bencana. Youtube (dok. pri). Kita tahu bencana adalah kejadian buruk yang mestinya direspon dengan bersimpati, berempati, atau kalau perlu menyampaikan solusi dan bantuan yang nyata meringankan. Namun, bagi media kejadian bencana seolah menjadi kesempatan emas. Alasannya karena masyarakat kita suka dengan informasi seputar bencana. Maka setiap ada bencana atau peristiwa yang memilukan, kisah-kisahnya selalu menyedot perhatian masyarakat secara luas. Media lalu memberitakannya dengan porsi yang besar. Informasi diobral, termasuk informasi-informasi yang tak jelas ikut dilempar ke publik dengan label berita. Segala aspek dikulik dengan dalih “sudut pandang media”. Padahal hal-hal tersebut mungkin tak pantas diberitakan. Semakin parah komentator “palugada” jadi

Di Balik Lucunya Srimulat: Punya Koneksi Intelijen dan Berani Melawan PKI

Saya menyukai Srimulat sejak kecil. Layar kaca TV menjadi medium saya menyaksikan grup ini. Oleh karena itu, generasi Srimulat yang saya tahu merupakan generasi ketika Srimulat sudah memasuki industri TV. Srimulat era industri TV (foto repro/dok.pribadi). Keluarga besar kami yang banyak berasal dari Klaten dan Jawa Timur membuat saya terpengaruh dan akhirnya menyukai Srimulat. Apalagi saat mudik dan berkumpul di Klaten, tontonan Srimulat menjadi suguhan wajib di rumah kakek. Waktu itu Srimulat tayang berulang kali sepanjang hari selama libur lebaran. Nonton bersama menjadi salah satu kegiatan utama kami ketika berkumpul. Barangkali karena pendiri Srimulat, yakni Raden Ayu Srimulat lahir di Klaten sehingga keluarga kami menyenangi grup lawak ini. Semacam ada ikatan batin atau kebanggaan sebagai sesama orang berdarah Klaten.  *** Pada masa jayanya anggota Srimulat mencapai 100 orang. Bahkan, sepanjang  sejarahnya dari awal berdiri sebagai kelompok kesenian hingga menjadi grup lawak era i

Diari Isoman 4: Gejala Ringan yang Bikin "Ngos-ngosan"

Rabu, 28 Juli 2021, hari ketiga isolasi mandiri saya menyamankan diri dengan berusaha memperbaiki nafsu makan. Sop daging lumayan menyemangati lidah. Semakin hangat karena banyak merica ditambahkan. Yang terjadi pada saya (dok. pribadi). Namun, sedapnya sop tersebut hanya sesaat terasa. Sekitar dua jam kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Penciuman saya pelan-pelan memudar. Aroma minyak kayu putih hanya tipis-tipis terlacak. Sementara lidah tak lagi bisa mencecap rasa seperti biasa. Hanya minuman atau buah yang sangat manis masih terlacak sedikit jejaknya. Jangan Disepelekan Malam harinya semua tak lagi tercium dan terasa. Benar-benar hampa penciuman saya. Hambar pula yang segala sesuatu yang mendarat di lidah. Walau demikian ada keuntungan yang saya rasakan, yakni obat yang pahit menjadi tidak masalah lagi untuk ditelan. Anosmia yang tiba-tiba terjadi dan dalam hitungan jam segera menghilangkan kemampuan saya mencium aroma dan mencecep rasa menjadi semacam peringatan bahwa gejal